Resolusi

Basi sepertinya bicara soal resolusi. Tahun baru sudah lewat sepertiga bulan Januari. Ini semua gara-gara sms dari seorang teman yang menanyakan apa resolusi tahun ini? Ummm…apa, ya?
Terlepas dari soal trend dan gaya-gayaan. Resolusi sebenarnya sesuatu yang baik. Menetapkan tujuan yang ingin kita capai dalam satu periode, satu tahun misalnya. Selanjutnya, seberapa gigih dan disiplin kita untuk mewujudkannya, bisa diketahui di akhir periode.
Seorang motivator ternama mengatakan resolusi itu harus sesuatu yang terukur dan bisa diwujudkan dalam periode waktu yang ditetapkan. Misal: tahun ini saya ingin bisa berhenti merokok. Jangan sesuatu yang terlalu absurd dan atau bersifat relatif, seperti tahun ini saya ingin jadi orang yang lebih bahagia. Well..bagaimana cara mengukur kebahagiaan dan bahagia yang seperti apa? Tentu saja ini semua terlepas dari rencana Tuhan. Tapi kalau ada niat baik pasti ada jalan, kan?
Bicara soal resolusi, ada satu pengalaman. Terjadi akhir tahun 1999, saat orang heboh dengan isu millenium bug yang bakal melanda saat masuk abad baru. Kami berkumpul di sebuat tempat. Tiba-tiba ada yang mencetuskan ide membuat resolusi untuk sepuluh tahun ke depan. Which is berlaku sampai dengan akhir Desember 2010. Setelah merenung beberapa saat, masing-masing mengumumkan resolusinya. Seorang teman ingin membuat album bersama band-nya. Hasil akhir: tidak sampai satu tahun kemudian band-nya bubar jalan. Tapi dia akhirnya berhasil membuat album solo yang dipasarkan lewat indie label. Teman yang lain ingin membina keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Hasil akhir: mmm…I still waiting for your wedding invitation, dear.. Seseorang mencetuskan resolusi, ingin fokus dengan pendidikannya. Hasil akhir: She did it! And still moving on. Sedang mengejar beasiswa S3 di Jerman. You rock, girl! Teman yang begitu keibuan mengatakan ingin segera berkeluarga dan memiliki beberapa anak. Hasil akhir: dua tahun kemudian dia menikah, lalu punya anak…dan kini sudah bercerai pula. Seseorang yang lain ingin mengembangkan bisnisnya di bidang F & B. Hasil akhir: sukses! Bagaimana dengan saya sendiri? Saya bukan orang yang biasa membuat resolusi. Go with the flow, I guess. Jadi saat itu jawaban saya agak ngasal, saya mau bikin buku. And the result is…I did it! Lebih dari satu tapi bukan sesuatu yang bisa dibanggakan untuk ukuran sepuluh tahun.
Kembali ke sms tadi. Kira-kira saya harus menjawab apa? Buat buku lagi? Kesannya jauh dari kreatif. Bagaimana kalau saya ingin Indonesia bebas dari korupsi? Bukannya tidak realistis. Cuma saya takut tiba-tiba ada jin keluar dari botol sambil tertawa ngakak, menunjuk hidung saya sambil teriak “NGIMPI!”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s