Banjir

Ada yang ngikutin berita banjir bandang di negara bagian Queensland di Australia beberapa minggu terakhir? Ngeri. Miris. Betapa arus banjir sebesar itu mengingatkan saya pada tsunami Aceh akhir 2006 lalu. Air menyapu semuanya. Kemana-mana. Habis. Dan bukan cuma di Queensland ternyata. Brazil, Philipina, Srilanka, juga Indonesia.

Saya ingin bercerita tentang pengalaman pertama saya bersentuhan dengan banjir. Saya anak pantai katulistiwa. Tapi, sejak lahir sampai SD, saya tidak pernah bersinggungan dengan yang namanya banjir. Rumah orang tua ada di dataran yang agak tinggi. Jadi, kalaupun ada air laut pasang atau hujan angin besar, rumah dan lingkungan sekitarnya hanya basah. Paling parah cuma ada beberapa genangan air di cekungan jalan. Itu saja.

Suatu hari, setelah sehari sebelumnya bertepatan dengan pasang air laut tertinggi diiringi hujan besar, hampir sepertiga teman sekelas saya tidak masuk sekolah. Ada apa kira-kira? Dan jawaban yang saya dapat adalah rumah mereka kebanjiran. Banjir? Apa itu? Ternyata banjir itu air yang menggenang, bahkan masuk ke dalam rumah. Untuk anak kelas satu SD mungkin jadi suatu yang absurd. Bagaimana ceritanya air bisa sampai masuk rumah? Pulang sekolah, saya sempatkan mampir ke rumah salah satu teman yang kabarnya kebanjiran. Dan apa yang saya dapati? Air setinggi paha saya, ada dalam rumahnya.

“Ini sudah lumayan. Kemarin aku harus naik ke atas meja karena air setinggi leherku,”jelasnya.

Saya bengong. Belakangan saya baru tahu kalau rumahnya ada di daerah yang lebih rendah dari permukaan laut. Istilah sekarang, jadi langganan banjir rob tiap pasang air laut. Itu belum diperparah bila diikuti hujan lebat.

Dan yang terjadi di Queensland bukanlah karena pasang air laut ataupun hujan lebat. Natal lalu mereka merayakan White Christmas, yang seumur-umur belum pernah ada ceritanya salju turun di daerah itu. Dan tahun baru mereka dihadiahi banjir bandang. Istilah kerennya anomali cuaca. Badai tropis. Global warming. Es di kutub mencair cepat. Dan terbukti bukan hanya beruang kutub yang menderita. Well, masihkah kita tak acuh terhadap semua bencana ini, teman dan kerabat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s