Kebiasaan(1)

Punya kebiasaan? Pasti. Dan salah satu kebiasaan saya adalah naik angkutan umum. Apa pun itu. Dimanapun itu. Kalau sedang berada di tempat yang baru, saya berusaha meluangkan waktu mencoba moda transportasi umum di tempat tersebut. Selain itu, saya lebih bisa cepat menghafal jalur jalan di tempat baru.

Kebiasaan saya ini sebenarnya bermula dari ketidaksukaan saya mengemudi. Bisa, hanya malas. Entah kenapa. Padahal SIM ada di dalam dompet dalam keadaan aktif, tidak kadaluarsa. Mungkin disebabkan kegemaran saya yang lain, observasi. Melihat pemandangan. Maka, jadilah saya penggemar angkutan umum.

Tidak bisa dipungkiri, transportasi umum di Indonesia biasanya tidak terlalu excellent kondisinya. Ini kondisi mayoritas, pukul rata. Selain itu, juga trayek jalurnya yang lumayan panjang dan berputar-putar, memakan banyak waktu. Bisa jadi ini yang membuat orang enggan naik kendaraan umum, kalau tidak terpaksa sekali. Apalagi, kendaraan roda dua sekarang mudah sekali dimiliki. Hanya dengan uang muka beberapa ratus ribu, sepeda motor sudah di tangan, lengkap dengan rincian cicilan perbulan.

Kembali pada kebiasaan. Angkutan umum yang sering saya gunakan adalah angkot. Saya suka sekali duduk di depan, di sebelah sopir. Tentu saja jika belum keduluan penumpang lain. Selain view lebih luas, saya bisa ngobrol banyak dengan sopir. Tentang apa saja. Dan topik yang sering muncul belakangan (bahkan di angkot yang berbeda) adalah semakin sepinya penumpang. Padahal setoran tetap. Belum lagi isu harga BBM yang akan naik bertahap, menambah beban pikiran.

Biasanya, saya suka tukar pikiran dengan sopir tentang topik yang dia angkat. Tapi, untuk yang satu ini, saya memutuskan untuk jadi pendengar. Mereka juga butuh tempat untuk curhat. Kadang kondisi mereka seperti tidak ada pilihan lain. Tidak ada jalan keluar pula. Seperti lingkaran setan. Tapi suatu kali saya duduk di sebelah sopir yang sudah agak sepuh. Orang yang cukup religius, saya kira. Dan dia berkata, “Masing-masing orang sudah ada garis tangannya. Punya rejeki sendiri-sendiri. Mungkin rejeki kami, para sopir angkot, ya dari penumpang-penumpang seperti mbak.” Dia memberi senyum teduh pada saya. Ternyata keengganan saya mengemudikan kendaraan sendiri berguna juga untuk orang lain🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s