Fighter

Apa yang kita rasakan saat mendapat berita duka? Sedih, pasti. Minimal, kita ikut bersimpati, bila tidak mengenal almarhum/almarhumah secara personal. Lalu apa lagi? Banyak. Ada yang sedih tak berkesudahan, bahkan sampai histeris. Ada yang lalu ‘back to reality’, mengambil tindakan apa yang harus dilakukan. Ada juga yang terbawa kenangan. Dan saya salah satunya.

Akhir minggu lalu berita duka itu datang. Kakak angkat saya meninggal di tempatnya berdomisili, nun jauh di sana. Saya cuma bisa tercenung. Yang terlintas adalah…akhirnya. Akhirnya? Mungkin kematian adalah hal terbaik yang diberikan Tuhan baginya. Dia adalah seorang penderita kanker payudara tingkat paliatif. Segala obat dan terapi sudah dirasakan. Dan sebagai seorang dosen di bidang ilmu keperawatan, dia paling tahu apa yang sedang dihadapinya. Apalagi setelah dokter yang merawatnya mengabarkan bahwa kanker sudah mulai menyerang otak. Mendengarnya saja sudah membuat pipi saya basah kuyub.

Yang saya syukuri adalah dia seorang yang religius, alih-alih menyalahkan Tuhan atas semua yang diderita, dia justru bersyukur diberi penyakit, sehingga bisa berbagi dengan orang lain, terutama yang senasib dengannya. Cheer them up. Bahkan pada diri saya.

Dik, kenapa belakangan tulisanmu serius sekali? Cenderung sorrow, malah. Yang happy dong! Yang lucu-lucu kayak dulu,” tulisnya di sms. Dan dia masih sempat mengikuti perkembangan saya di dunia maya, di antara nafasnya yang mulai satu-satu.

Kadang saya suka malu mengingatnya. Sekian lama menderita penyakit berat, tak pernah surut semangat hidupnya. Menyelesaikan tesis, mengajar, diselingi terapi, pengobatan modern dan herbal, semua dijalani dengan senyum. Masih pula dia menerima mahasiswa-mahasiswa untuk bimbingan skripsi di kamar RS. Dia tersenyum saat saya tanya kenapa.

Kata orang, bekerjalah sekeras dan sebaik mungkin, seakan besok kau akan mati. Kalau aku jelas-jelas jatah hidupnya udah nggak lama lagi, terlepas dari rencana Tuhan. Harus tetap kerja keras. Do my best.”

Mengingat kalimatnya kadang saya suka berpikir. Mungkin dia memang disayang Tuhan. Dengan penyakit yang diderita, dengan jatah umur yang terbatas, dia punya segudang rencana untuk berbuat baik dan terbaik. Harusnya kita bisa berbuat lebih daripada dia, kan?

Dan sekarang dia sudah benar-benar pergi. Dengan beraneka kenangan di benak setiap orang yang pernah mengenalnya. Selamat jalan, pejuang. Semoga kita bertemu lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s