Hemophilia

 

Peristiwa ini terjadi di suatu siang bolong. Setelah sekian lama, akhirnya angkot yang saya tunggu datang juga. Didalamnya, sudah ada empat penumpang. Satu duduk di depan sebelah sopir, yang tiga lagi di belakang. Jam-jam sepi, memang. Belum berapa lama angkot berjalan, salah seorang penumpang, yang duduk di depan saya bertanya, “Mbak, ini lewat PMI, ya?”

Iya, bu..” jawab saya.

Lewat didepannya atau di ujung jalan?” tanyanya lagi.

Di depan kantor PMI, bu” jawab saya sopan.

Ah..terima kasih” dia terseyum.

Mau donor, bu?” saya ganti bertanya.

Oh, nggak. Mau cari darah” jawabnya.

Deg! Eh, cari darah?

Keluarganya ada yang sakit, bu?” lanjut saya.

Dia tersenyum. “Enggak, mbak. Anak saya mau sunat”.

Krik..krik..krik.. Bengong. Saya memang tidak punya saudara laki-laki, jadi keluarga kami tidak pernah punya pengalaman sunat, kecuali si bapak. Dan bapak saya sudah sunat jaman bung Karno masih hidup. Tapi sejauh pengetahuan saya yang tidak terlalu jago soal biologi, yang namanya orang sunat nggak sampai perlu transfusi darah, kan?

Si ibu tadi tersenyum. Sepertinya dia bisa membaca air muka saya yang bingung dan bengong.

Anu, mbak.. Anak saya hemophilia..”

Eh? Hemophilia? Saya yang masih bingung soal hubungan transfusi darah dan sunat, tiba-tiba ditambah dengan hemophilia. Bukannya itu kelainan darah, ya? Yang kesuliatan pembekuan darah, kan? Sedikit demi sedikit saya mulai ‘ngeh’. Ibu itu pasti sudah bisa membaca ekspresi muka saya yang mulai berubah.

Hemophilia? Astaga!”. Toyorlah saya. Kadang sikap ekspresif saya suka tidak pada tempatnya. Ibu itu masih tersenyum.

Yang darahnya sulit beku ya, bu?” saya berusaha memastikan. Dia mengangguk.

Seumur-umur, saya hanya tahu soal kelainan ini dari buku-buku yang saya baca. Baru kali ini saya bisa bertemu langsung dengan keluarga penderitanya.

Ibu, kalau mau minta darah, harus bawa surat dari rumah sakit, kan?” lupa-lupa ingat rasanya.

Iya, mbak” dia lalu menyebutkan RS yang merujuknya.”Anak saya cuma bisa di sunat di rumah sakit, soalnya dia perlu penanganan khusus”.

Sayang sekali. Kantor PMI sudah di depan mata. Si ibu turun setelah berpamitan dengan saya. Padahal sebenarnya saya masih ingin bertanya soal hemophilia, terutama dari sisi penderita dan keluarganya.

Sesampai di rumah, saya langsung googling, mencari tahu lebih detil soal hemophilia. Dan saya menemukan sebuah situs, www.hemofilia.or.id. Segala info dan testimoni bisa ditemukan disana. Tentang hemophilia yang penyakit genetik namun tidak menular, tentang penyandangnya yang mayoritas laki-laki sedang perempuan cenderung lebih banyak sebagai carrier (pembawa sifat), jenis-jenis hemophilia, bagaimana menghadapi dan hidup berdampingan dengan kelainan ini. Juga Tentang Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia serta daftar RS yang bisa jadi rujukan.

I think I should write about this. Properly. Someday.

Iklan

Iklan (2)

Ada yang ketawa nggak lihat iklan Axis di televisi? Seorang ibu yang berusaha berhemat dengan mematikan air saat dipakai mandi dan menyiram tanaman oleh anggota keluarganya, menyarankan mencuci pakaian dengan tangan alih-alih pakai mesin cuci, dan mematikan televisi secara sepihak dengan alasan berhemat. Atau cerita seorang cowok yang dengan mengatasnamakan penghematan, menyemprotkan wewangian yang ada di rak supermarket ke sekujur tubuh, makan siang hanya dengan membeli nasi putih sedang lauk dan minum dicomot dari piring teman, lebih memilih pakai kipas angin mini daripada AC di dalam mobil bahkan isi bensin pun hanya setengah liter! Berlebihan? Mungkin. Namanya juga iklan. Saya bukan praktisi periklanan. Tapi hal-hal seperti ini justru memancing perhatian pemirsa. Minimal ikut nyengir 🙂

Dan ternyata hemat dan pelit itu beda tipis. Beda, tapi tipis. Relatif sekali intensitasnya. Hemat untuk seseorang bisa masuk kategori pelit untuk orang lain. Sebenarnya, bagaimana membedakan hemat dengan pelit/kikir? Saya ada sedikit tips. Sebelumnya pastikan pembelian tersebut  karena kebutuhan atau keinginan. Misalnya, membeli sabun mandi. Kita membelinya karena memang butuh (karena persediaan di rumah sudah menipis/habis) atau karena ingin (terkena rayuan iklan/SPG, produk baru, wangi baru,dll). Jika pembelian terjadi karena kebutuhan, it’s OK, memang sewajarnya begitu. Bila pembelian terjadi karena keinginan, ini indikator perilaku boros. Kalau pembelian tidak terjadi karena awalnya hanya dorongan keinginan (lalu teringat persediaan sabun mandi masih ada di rumah), ini namanya hemat. Sedangkan jika pembelian tidak terjadi karena kebutuhan yang ‘bisa ditunda’ (sabun bisa minta teman kos/tetangga), ini baru pelit.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang punya prinsip ‘Kalau ada yang gratis, kenapa harus bayar?’? Siapa sih yang menolak gratisan? Hare gene, harga pada naik semua (*curcol :)). Kalau memang sesuatu itu ditawarkan gratis, yang memang seharusnya begitu. Hak kita. Rejeki jangan ditolak 🙂 Tapi bila sesuatu itu harus didapatkan dengan membayar sejumlah harga tapi kita memintanya gratis, etis nggak sih? Sopan nggak, ya? Karena masih ada saja orang yang seperti ini. Entah memang dia tidak tahu, tidak punya malu atau memang dibesarkan dengan doktrin seperti itu.

Jadi, memang sebaiknya kita berpikir berulang sebelum melakukan pembelian, semurah apa pun. Selain berhemat (bukan pelit ya..), etis/sopan, juga menghindarkan dari perilaku konsumtif.

Iklan (1)

Ini bukan postingan berbayar. Tapi kali ini saya ingin bicara tentang iklan Star Mild yang terakhir di televisi. Ada yang tahu? Itu lho, ceritanya ada musisi yang lagi jutek di depan piano gara-gara nggak dapat ide, sampai menghabiskan berlembar-lembar kertas berisi coretan partitur nada yang gagal total. Sampai akhirnya dia memutusan keluar rumah, jalan-jalan ceritanya. Di luar dia menemukan suara-suara yang menarik perhatiannya. Suara sapu lidi yang sedang dipakai menyapu jalanan, suara sepeda yang dikayuh, suara penggorengan yang sedang dipakai memasak, suara buku yang lembar kertasnya ditiup kipas angin dan banyak suara umum lain, yang sepertinya selama ini luput dari perhatiannya. Dari kumpulan suara-suara itu, dia membuat komposisi musik yang indah dan dapat dinikmati. Soal hubungannya dengan produk rokok, saya serahkan pada persepsi masing-masing.

Apa yang membuat iklan ini menarik perhatian saya? Iklan ini bisa dibilang ‘saya banget’. Sekali lagi, bukan karena produknya yah 🙂 Saya juga bukan musisi. Tapi entah bagaimana awalnya saya suka mengobservasi (bawaan orok kalii..). Waktu kecil, saya suka memperhatikan semut berjalan. Sambil berprediksi, sesampai di tembok akan kemana si semut pergi? Belok kanan, belok kiri atau naik merambat ke tembok? Ternyata si semut balik kanan ke jalan dia berasal! Belakangan saya tahu bahwa di belakangnya ada teman-teman sesama semut yang sedang gotong royong membawa remah-remah biskuit. Dan si semut tadi lalu bergabung dengan teman-temannya. Keren!

Semakin bertambah umur, obyek observasi saya bertambah banyak dan luas. Tidak hanya hewan, juga tumbuhan, benda mati dan manusia. Bahkan disertai sedikit eksperimen. Orang kalau dicubit, dia akan bereaksi seperti apa? Ada yang cuma mengaduh, ada yang melotot, ada yang hanya menoleh, ada yang menangis, bahkan ada yang marah-marah lebay. Ah manusia…

Dan kebiasaan ini terus berlanjut sampai sekarang. Terhadap apa pun. Yang sepele dan cenderung diabaikan orang kebanyakan. Seperti hujan yang sedang turun, sinar matahari yang berubah warna di sore hari, perilaku mahluk hidup, bahkan momen yang tak berbentuk, seperti saat sedang sendiri, dengan teman atau dengan keluarga. Sok romantis? Itu tergantung perspektif masing-masing. Dengan menikmati dan memaknai hal-hal seperti itu, saya seperti diajak untuk lebih, lebih dan lebih banyak bersyukur masih bisa merasakannya melalui indera. Belum tentu di masa yang akan datang, saya bisa mengalaminya lagi.

Seorang teman yang punya dua anak balita pernah protes dengan kebiasaan saya. Dengan anak yang menyita hampir seluruh waktu, mana sempat dia punya kesempatan untuk ‘menikmati dan memaknai’ momen. Ah..siapa bilang? Ini soal mind set dan kebiasaan, kok. Coba saja. Awalnya mungkin sulit. Coba saja dimulai dengan ambil nafas dalam-dalam beberapa kali. Akhirnya si teman tadi memulainya dengan ‘menikmati’ momen saat melihat anak-anaknya tidur lelap. See? Saat anak-anak itu dewasa, saat mereka sudah menikah atau sudah tidak tinggal serumah dengan orang tua atau sudah lebih banyak kegiatan di luar rumah, momen-momen ini akan terasa lebih berarti.

Saya tidak menyalahkan orang-orang yang hobi mengabadikan momen lewat foto ataupun video. Di-upload di situs jejaring sosial maupun you tube, sampai dicap naris, it’s OK for me. Masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri. Saya justru salut dengan mereka yang begitu rajin mendokumentasikan momen-momen mereka. Semua itu akan sangat tak terhingga harganya bertahun-tahun kemudian. Priceless. Percaya deh 🙂

Nah..sekarang bagaimana dengan anda?