Iklan (1)

Ini bukan postingan berbayar. Tapi kali ini saya ingin bicara tentang iklan Star Mild yang terakhir di televisi. Ada yang tahu? Itu lho, ceritanya ada musisi yang lagi jutek di depan piano gara-gara nggak dapat ide, sampai menghabiskan berlembar-lembar kertas berisi coretan partitur nada yang gagal total. Sampai akhirnya dia memutusan keluar rumah, jalan-jalan ceritanya. Di luar dia menemukan suara-suara yang menarik perhatiannya. Suara sapu lidi yang sedang dipakai menyapu jalanan, suara sepeda yang dikayuh, suara penggorengan yang sedang dipakai memasak, suara buku yang lembar kertasnya ditiup kipas angin dan banyak suara umum lain, yang sepertinya selama ini luput dari perhatiannya. Dari kumpulan suara-suara itu, dia membuat komposisi musik yang indah dan dapat dinikmati. Soal hubungannya dengan produk rokok, saya serahkan pada persepsi masing-masing.

Apa yang membuat iklan ini menarik perhatian saya? Iklan ini bisa dibilang ‘saya banget’. Sekali lagi, bukan karena produknya yah🙂 Saya juga bukan musisi. Tapi entah bagaimana awalnya saya suka mengobservasi (bawaan orok kalii..). Waktu kecil, saya suka memperhatikan semut berjalan. Sambil berprediksi, sesampai di tembok akan kemana si semut pergi? Belok kanan, belok kiri atau naik merambat ke tembok? Ternyata si semut balik kanan ke jalan dia berasal! Belakangan saya tahu bahwa di belakangnya ada teman-teman sesama semut yang sedang gotong royong membawa remah-remah biskuit. Dan si semut tadi lalu bergabung dengan teman-temannya. Keren!

Semakin bertambah umur, obyek observasi saya bertambah banyak dan luas. Tidak hanya hewan, juga tumbuhan, benda mati dan manusia. Bahkan disertai sedikit eksperimen. Orang kalau dicubit, dia akan bereaksi seperti apa? Ada yang cuma mengaduh, ada yang melotot, ada yang hanya menoleh, ada yang menangis, bahkan ada yang marah-marah lebay. Ah manusia…

Dan kebiasaan ini terus berlanjut sampai sekarang. Terhadap apa pun. Yang sepele dan cenderung diabaikan orang kebanyakan. Seperti hujan yang sedang turun, sinar matahari yang berubah warna di sore hari, perilaku mahluk hidup, bahkan momen yang tak berbentuk, seperti saat sedang sendiri, dengan teman atau dengan keluarga. Sok romantis? Itu tergantung perspektif masing-masing. Dengan menikmati dan memaknai hal-hal seperti itu, saya seperti diajak untuk lebih, lebih dan lebih banyak bersyukur masih bisa merasakannya melalui indera. Belum tentu di masa yang akan datang, saya bisa mengalaminya lagi.

Seorang teman yang punya dua anak balita pernah protes dengan kebiasaan saya. Dengan anak yang menyita hampir seluruh waktu, mana sempat dia punya kesempatan untuk ‘menikmati dan memaknai’ momen. Ah..siapa bilang? Ini soal mind set dan kebiasaan, kok. Coba saja. Awalnya mungkin sulit. Coba saja dimulai dengan ambil nafas dalam-dalam beberapa kali. Akhirnya si teman tadi memulainya dengan ‘menikmati’ momen saat melihat anak-anaknya tidur lelap. See? Saat anak-anak itu dewasa, saat mereka sudah menikah atau sudah tidak tinggal serumah dengan orang tua atau sudah lebih banyak kegiatan di luar rumah, momen-momen ini akan terasa lebih berarti.

Saya tidak menyalahkan orang-orang yang hobi mengabadikan momen lewat foto ataupun video. Di-upload di situs jejaring sosial maupun you tube, sampai dicap naris, it’s OK for me. Masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri. Saya justru salut dengan mereka yang begitu rajin mendokumentasikan momen-momen mereka. Semua itu akan sangat tak terhingga harganya bertahun-tahun kemudian. Priceless. Percaya deh🙂

Nah..sekarang bagaimana dengan anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s