Iklan (2)

Ada yang ketawa nggak lihat iklan Axis di televisi? Seorang ibu yang berusaha berhemat dengan mematikan air saat dipakai mandi dan menyiram tanaman oleh anggota keluarganya, menyarankan mencuci pakaian dengan tangan alih-alih pakai mesin cuci, dan mematikan televisi secara sepihak dengan alasan berhemat. Atau cerita seorang cowok yang dengan mengatasnamakan penghematan, menyemprotkan wewangian yang ada di rak supermarket ke sekujur tubuh, makan siang hanya dengan membeli nasi putih sedang lauk dan minum dicomot dari piring teman, lebih memilih pakai kipas angin mini daripada AC di dalam mobil bahkan isi bensin pun hanya setengah liter! Berlebihan? Mungkin. Namanya juga iklan. Saya bukan praktisi periklanan. Tapi hal-hal seperti ini justru memancing perhatian pemirsa. Minimal ikut nyengir🙂

Dan ternyata hemat dan pelit itu beda tipis. Beda, tapi tipis. Relatif sekali intensitasnya. Hemat untuk seseorang bisa masuk kategori pelit untuk orang lain. Sebenarnya, bagaimana membedakan hemat dengan pelit/kikir? Saya ada sedikit tips. Sebelumnya pastikan pembelian tersebut  karena kebutuhan atau keinginan. Misalnya, membeli sabun mandi. Kita membelinya karena memang butuh (karena persediaan di rumah sudah menipis/habis) atau karena ingin (terkena rayuan iklan/SPG, produk baru, wangi baru,dll). Jika pembelian terjadi karena kebutuhan, it’s OK, memang sewajarnya begitu. Bila pembelian terjadi karena keinginan, ini indikator perilaku boros. Kalau pembelian tidak terjadi karena awalnya hanya dorongan keinginan (lalu teringat persediaan sabun mandi masih ada di rumah), ini namanya hemat. Sedangkan jika pembelian tidak terjadi karena kebutuhan yang ‘bisa ditunda’ (sabun bisa minta teman kos/tetangga), ini baru pelit.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang punya prinsip ‘Kalau ada yang gratis, kenapa harus bayar?’? Siapa sih yang menolak gratisan? Hare gene, harga pada naik semua (*curcol :)). Kalau memang sesuatu itu ditawarkan gratis, yang memang seharusnya begitu. Hak kita. Rejeki jangan ditolak🙂 Tapi bila sesuatu itu harus didapatkan dengan membayar sejumlah harga tapi kita memintanya gratis, etis nggak sih? Sopan nggak, ya? Karena masih ada saja orang yang seperti ini. Entah memang dia tidak tahu, tidak punya malu atau memang dibesarkan dengan doktrin seperti itu.

Jadi, memang sebaiknya kita berpikir berulang sebelum melakukan pembelian, semurah apa pun. Selain berhemat (bukan pelit ya..), etis/sopan, juga menghindarkan dari perilaku konsumtif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s