Life is never flat

Ini bukan jargon iklan keripik kentang. True that life is never flat. Dan posting saya kali ini akan menceritakannya.

Kenalkan. Ini bapak saya. Usianya 71 tahun. Dan benda putih yang ada di kepala beliau bukan kompres untuk penurun demam, tapi kasa perban yang menutupi bekas luka hasil operasi. Operasi? Yes! Ada pendarahan di otak bapak dan harus dikeluarkan secepatnya lewat cito operasi akhir bulan lalu.

Kejadian ini berawal di Rabu pagi 23/2/11. Setelah sholat subuh, kopi susu hangat dan setangkup roti, biasanya bapak pergi senam pagi di pelataran parkir kompleks ruko dekat rumah. Setelah itu pulang sebentar untuk sarapan yang agak berat, dilanjutkan pergi tenis sampai kurang lebih jam 10. Tapi hari itu bapak memutuskan tidak pergi kemanapun. Agak nggak fit rasanya, begitu kata beliau waktu itu. Jadilah pagi itu bapak berteman televisi dan koran.

Sekitar 06.30 sarapan siap. Baru beberapa suap, tiba-tiba bapak muntah. Semua makanan dan minuman yang masuk perut pagi itu keluar semua. Yang justru mencurigakan adalah bapak terlihat seperti orang yang mengantuk. Masih bisa berkomunikasi, menjawab ketika di tanya. Seketika beliau kami bawa ke dokter keluarga yang juga seorang internist, tidak jauh dari rumah. Pak dokter sendiri juga kebingungan dengan kondisi bapak. Kenapa? Karena seminggu sebelumnya bapak baru saja check up rutin. Dan hasilnya bagus kalau tidak bisa di bilang excellent. Semuanya oke. Kolesterol, tekanan darah, gula darah, dll. Hanya asam urat yang ada di batas atas normal. Kondisi bapak yang mengantuk berat itu sungguh mengherankan. Memang sehari sebelumnya (22/2/11), bapak dan ibu pergi ke RS. Sudah jatuh tempo untuk ibu kontrol ke dokter jantung, sedang bapak berobat ke poli gigi. Agak pegal, katanya. Dan beliau di beri resep anti nyeri dan antibiotik. Dua obat itu juga bukan obat baru, bapak pernah mengkonsumsinya. Jadi tidak ada kemungkinan alergi ataupun kontraindikasi. Lalu dari mana kantuk ini berasal? Dokter akhirnya meminta kami menghentikan pemberian obat dari dokter gigi sambil tetap mengikuti perkembangan bapak hari itu. Kami pun kembali pulang.

Sesampai di rumah, bapak tidak langsung ke kamar tidur. Beliau berhenti di sofa. Pengin nonton tv, begitu katanya. Sambil tiduran, beliau masih sempat menekan tombol-tombol remote walau tidak lama kemudian jatuh tertidur. Natural, seperti orang tidur pada umumnya. Nafas dan denyut jantung normal. Kami (saya dan ibu) akhirnya memutuskan membiarkan bapak tertidur di sofa depan televisi.

Jam 10.00 ibu memutuskan membangunkan bapak. Sulit sekali. Seperti orang di bawah pengaruh obat penenang. Dengan volume suara yang lebih keras, berhasil sedikit ‘menyadarkan’. Ditawari minum, bapak mengangguk. Disodori air putih dalam botol, bapak hanya bisa menggigit sedotan, tanpa sedikitpun menghisap airnya. Kami semakin curiga. Ditawari makan, bapak mengangguk. Seporsi kecil bubur hangat dan lauk lembut di makan walaupun perlu disuapi. Yang semakin membuat kami khawatir adalah bapak sering sekali menguap. Kalau tidak salah ingat, bila seseorang sering sekali menguap berarti kekurangan O2 di otak. Kami akhirnya memutuskan membawa bapak secepatnya ke RS. Dengan persiapan secukupnya (dengan estimasi kemungkinan harus opname) serta bantuan beberapa orang tetangga memindahkan bapak ke dalam mobil, kami bertiga berangkat siang itu.

Setelah melewati hujan deras berangin hebat dan bapak yang sempat muntah lagi di perjalanan, kami berhasil sampai di UGD lepas jam 14.00. Bapak di terima dan di observasi secepatnya. Ibu menunjukkan semua berkas kesehatan bapak yang terbaru (hasil check up minggu lalu, obat-obatan dari dokter gigi kemarin, dll). Dokter jaga, dokter muda (DM) dan paramedis di UGD setali tiga uang dengan dokter keluarga kami, kebingungan dengan kondisi bapak. Mereka menanyakan apakah bapak pernah jatuh baru-baru ini, kami jawab tidak. Sampai dengan tadi pagi bapak dalam kondisi prima. Bahkan sehari sebelumnya masih mengemudikan mobil ke RS dan juga malamnya saat takziah ke rumah teman yang berduka.

Di ambil tindakan cek darah dan rontgen untuk memastikan kondisi bapak terkini. Dan hasilnya tetap sama, semua baik. Apa ini? Komunikasi semakin sulit di banding ketika masih di rumah. Perlu volume yang lebih keras lagi. Tapi bapak masih menjawab ketika di tanya nama dan bagian tubuh yang sakit. Tidak ada bagian tubuh yang sakit, hanya kantuk yang teramat sangat. Dan bapak kembali tertidur.

Di ambil tindakan untuk CT scan. Saya dan seorang perawat mengantar bapak ke bagian radiologi. Tak sampai 15 menit semua proses plus hasilnya sudah selesai. Waktu sudah mendekati maghrib saat kami kembali ke UGD. Kecurigaan saya muncul saat seorang perawat meminta kami untuk menunggu karena hasil CT scan bapak sedang dibawa ke rumah salah seorang dokter ahli untuk dimintai pendapat. Kenapa saya sampai jatuh curiga? Dari beberapa pasien yang melakukan CT scan hampir bersamaaan dengan bapak, tidak satupun yang hasilnya harus di rujuk ke dokter ahli (hanya sampai dokter jaga UGD). Pasti ada yang tidak beres. Ini hanya logika dari orang yang awam soal kesehatan.

Satu dua teman dan kerabat berdatangan ke ruang tunggu UGD saat kami di panggil masuk ke ruang observasi sekitar jam 20.00. Di dalam sudah banyak orang. Perawat, DM, dokter jaga, lebih banyak dari saat kami datang tadi. Dan mereka semua tiba-tiba terdiam saat saya dan ibu memasuki ruangan. Ada apa ini?

Kami lalu dikenalkan pada dokter ahli bedah syaraf yang baru saja datang. Dari beliaulah semuanya terungkap. Beliau menunjukkan foto hasil CT scan bapak. Ada pendarahan di otak kanan dan kirinya. Di sebelah kanan terlihat lebih banyak dari yang kiri. Kaget, takjub, bengong tapi harus fokus. Dokter menjelaskan bahwa bapak malam ini juga harus menjalani operasi untuk mengeluarkan darah diotaknya. Karena darah itu masih cair, kepala bapak hanya akan di bor untuk mengeluarkannya. Tidak perlu dilakukan bedah toraks. Ibu menyerahkan sepenuhnya pada dokter dan tim, yang terbaik untuk bapak. Dan kesibukan seketika terjadi di ruang obervasi UGD.

Ibu, sebagai isteri, di minta menandatangani surat persetujuan tindakan cito operasi atas bapak. Beberapa paramedis ‘menyiapkan’ bapak untuk di kirim ke ruang operasi. Di ambil sampel darahnya yang kemudian saya bawa ke laboratorium agar disiapkan darah yang cocok untuk transfusi bila dibutuhkan. Sekembalinya ke UGD, semua terlihat lebih tenang. Semua sudah siap, tinggal menunggu kesiapan ruang operasi. Saya dan ibu berbagi tugas menghubungi teman dan kerabat dimanapun berada, memohon doa untuk kelancaran operasi bapak. Lepas jam 21.00, bapak keluar dari UGD menuju ruang operasi. Di tempat tujuan, beliau masih sempat mengaduh saat perawat harus melepas cincin kawinnya. Rombongan-rombongan kecil teman, tetangga dan kerabat mengalir. Total sekitar 20 orang mensuport saya dan ibu malam itu. Dan kami yakin, banjir doa dari berbagai penjuru mengiringi operasi bapak saat itu. Lepas jam 24.00 ibu meminta para tamu untuk pulang. Hawa malam tidak baik untuk manula yang mayoritas hadir. Dan malam itu kami habiskan dengan penantian dan untaian doa.

24/2/11. 04.30. Pintu terbuka. Seorang perawat memanggil beberapa keluarga pasien, termasuk bapak. Saya harus mengantarkan sampel darah ke laboratorium. Tanpa banyak tanya, termasuk menanyakan operasi bapak, saya pergi dengan beberapa orang yang anggota keluarganya menghuni ICU bedah anastesi. Rata-rata mereka sudah ‘menginap’ di sana sekitar 10 hari-an. Sekembalinya dari laboratorium, ibu memutuskan bertanya tentang keadaan bapak. Sekitar 10 menit berada di dalam ruang ICU, ibu keluar membawa kabar bahwa operasi berjalan baik dan sekarang bapak sudah siuman, pun bisa berkomunikasi lancar. Bengong, antara kurang tidur dan berusaha melogika informasi. Cerita ibu, bapak sudah ‘rewel’ bertanya macam-macam, karena ternyata beliau sama sekali tidak ingat kejadian seharian kemarin. Seperti orang bangun tidur biasa, jelas ibu. Yah, tidur yang membingungkan orang banyak.

Sepagian, tamu tak berhenti mengalir. Kami hanya bisa menerima mereka di luar ruang ICU karena bapak belum pindah ke ruang perawatan. Kami berbagi tugas. Ibu menemani para tamu sedang saya kesana kemari berurusan dengan berkas dan obat-obatan. Sampai sekitar jam 09.30, ketika saya dan ibu sedang berbincang dengan beberapa teman yang datang, pintu terbuka dan sebuah tempat tidur di dorong dua orang perawat keluar dengan bapak senyum-senyum terbaring di atas kasur. Eh?! Benar itu si bapak. Sudah boleh pindah ke ruang perawatan biasa. Dan benar cerita ibu tadi pagi. Bapak sudah ‘rewel’ minta diceritakan secara detil kejadian kemarin. Ternyata ingatannya hanya sebatas saat kami pergi ke dokter keluarga kemarin pagi. Setelah itu, bapak sudah tidak ingat lagi. Saya cuma bisa bengong di ujung tempat tidur.

Di balik kasa perban di kepala bapak, menjuntai empat selang kecil yang bermuara pada tabung-tabung kecil yang di ikat pada tiang di salah satu sudut tempat tidur. Darah segar masih mengalir didalamnya. Belakangan saya tahu kalau jumlah darah yang dikeluarkan cukup banyak. Membayangkannya saja sudah membuat saya merinding. Estimasi awal dokter hanya akan membor kepala di tiga lokasi, dua di kanan dan satu di kiri (karena melihat volume ‘lelehan’ darah di otak sebelah kanan lebih banyak. Namun akhirnya kepala bapak di bor di empat titik, dua kanan dan dua kiri. Dan tempat bekas dilubangi itulah yang dipasangi selang tempat mengalirkan sisa-sisa darah. Selain keempat selang tersebut, jarum infus menancap di punggung telapak tangan kanan. Belum boleh makan. Boleh minum sedikit demi sedikit, sekaligus melihat reaksi tubuh terhadap benda yang masuk. Dan hari itu dihabiskan dengan perkembangan pesat. Belum makan, tapi mau dan mampu minum dalam jumlah banyak. Alhamdulillah.

Jumat pagi, 25/2/11, 05.00. Suster menguras semua darah yang ada di dalam tabung di sudut tempat tidur, lalu mengukur dan mencatatnya. Demikian juga dengan debit dan warna urine. Semua baik, begitu katanya. Bapak kembali ‘rewel’. Seumur-umur belum pernah opname, alih-alih operasi. Dengan selang di kepala dan tangan tentu sangat mengganggu. Gerak jadi serba terbatas. Tapi beliau tetap patuh pada perintah dokter dan paramedis. Melihat kondisinya yang stabil, saya memutuskan untuk pulang sebentar. Mengambil beberapa baju bersih dan menengok rumah yang kemarin lusa kami tinggal begitu saja. Seharian ibu tidak putus memberi info via sms, termasuk ketika dokter melakukan visite. Semua normal dan stabil. Hanya jarum infus yang di pindah ke tangan kiri karena yang kanan abses. Terbayang semakin ribet posisi tidur bapak dengan selang yang melintang kesana kemari. Kamar penuh tamu saat saya kembali ke RS. Dan bapak sudah berkomunikasi lancar seperti tidak pernah terjadi sesuatu.

Sabtu, 26/2/11, 05.00. Kembali perawat menguras tabung darah dan kantung urine. Semua oke. Bapak sudah mulai belajar makan. Bubur dan teman-temannya di lahap walau tidak sampai habis. Yang mengejutkan justru saat dokter datang pagi itu. Bapak menjawab tidak ada keluhan saat di tanya. Dengan data kondisi plus darah dan urine, dokter memutuskan untuk melepas semua selang, baik yang menancap di kepala maupun selang infus. Bapak senang sekali hari itu. Setidaknya bisa tidur dengan posisi nyaman. Hanya jarum infus yang masih menancap karena obat-obatan yang diberikan masih dalam bentuk suntikan. Dokter menyarankan agar bapak mulai belajar jalan agar otot tidak kaku serta peredaran darah lebih lancar. Dan tamu-tamu yang datang menjenguk hari itu sama sekali tak menduga kalau kondisi bapak sudah sebaik ini. Alhamdulillah.

Minggu, 27/2/11, 06.00. Kembali saya putuskan pulang sebentar dengan sebukit baju kotor. Sedikit beres-beres rumah saat sms ibu masuk mengabarkan kalau obat bapak sudah di ganti, dari injeksi ke obat minum. Karena kalau kondisinya tetap baik seperti sekarang, besok boleh pulang. Boleh pulang? Jadilah yang sebelumnya hanya beres-beres berubah jadi bersih-bersih. Masih dengan pertanyaan berseliweran di kepala. Pulang? Secepat ini? Yakin? Dan semua itu terjawab dengan semakin membaiknya kondisi bapak saat saya kembali ke RS.

Senin pagi, 28/2/11, 06.00. Mengikuti anjuran dokter untuk jalan ringan agar aliran darah lancar dan otot tidak kaku, bapak ditemani ibu jalan-jalan sambil mencari kopi susu yang beberapa hari ini absen di konsumsi. Dan lepas jam 09.00 dengan semua pertimbangan, dokter memutuskan bapak boleh pulang, walau masih dengan kasa perban di kepala. Hari Kamis yang akan datang kembali untuk kontrol. Alhamdulillah. Rombongan kecil ini pun pulang. Yang tidak banyak orang tahu, sehari setelah pulang, bapak sudah senam pagi seperti biasanya.

Kamis, 3/3/11, 10.00. Dokter membuka kasa perban dan melihat bekas operasi. Ada empat tempat. Masing-masing ada enam jahitan. Jadi total 24 jahitan. Keputusan hari itu adalah buka jahitan plus memberi resep obat yang harus habis sampai satu minggu ke depan. Bekas jahitan yang di lepas kemudian diolesi salep antiseptik dan tidak boleh terkena air sampai minimal dua hari ke depan.

Kamis, 10/3/11, 10.00. Dengan bekal sederet pertanyaan, bapak kembali kontrol ke poli bedah syaraf. Bapak dinyatakan benar-benar sembuh. Tidak ada pantangan makan apapun. Boleh beraktifitas seperti biasa. Pun mengemudikan kendaraan. Juga berolahraga, kecuali tenis. Untuk orang seusia bapak, tenis sudah tidak cocok lagi. Walau sempat complain, bapak menerima juga akhirnya. Pulang dari RS, kemudi mobil saya serahkan ke bapak.

Sampai sekarang penyebab pasti sampai ada pendarahan di otak bapak belum ditemukan. Itu karena kondisi bapak sangat prima saat tiba di UGD, terlepas dari keluhan mengantuk hebat. Dan kondisi ini juga yang membuat dokter begitu yakin melakukan operasi malam itu. Juga sampai membuat empat lubang di kepala untuk mengeluarkan genangan darah. Pada kasus sejenis, dokter biasanya hanya membuat satu atau dua lubang. Tapi dikarenakan kondisi fisik yang bagus, di buat lubang lebih banyak sehingga darah lebih cepat dikeluarkan. Dengan itu, diharapkan tidak sampai terjadi kerusakan syaraf di otak.

Dari semua kemungkinan yang bisa terjadi, yang paling masuk akal pendarahan itu terjadi karena benturan/trauma kepala, entah jatuh atau apapun. Di tambah dengan kenyataan bahwa bapak sempat muntah setelah sarapan dan makan siang hari Rabu lalu. Muntah salah satu indikasi terjadinya gegar karena trauma/benturan. Dan melihat kondisi darah yang belum membeku, diperkirakan benturan itu terjadi paling lama dua hari sebelumnya. Kalau di runut kebelakang, berarti hari Senin atau Selasa sebelum bapak ‘error’ di hari Rabu. Tapi dua hari itu tidak terjadi apapun yang mencurigakan. Bapak malah lebih sering di rumah, karena baru kembali dari luar kota. Istirahat, masih capek, begitu katanya waktu itu. Bahkan seperti saya ceritakan, hari Selasa bapak masih pergi dengan ibu, kemana-mana sampai malam. Dan dari sekian kemungkinan yang bisa terjadi di dua hari itu, yang paling masuk akal adalah bapak terbentur saat tidur. Kenapa? Kerena salah satu sisi tempat tidur bapak menempel dinding. Tapi kalau memang benar itu penyebabnya, benturan saat tidur tentu tidaklah seberapa kerasnya. Paling tidak jika dibandingkan dengan benturan bila terjadi kecelakaan lalu lintas, misalnya. Dan penjelasan yang kami terima dari dokter, untuk orang seusia bapak, itu bisa saja terjadi. Sama halnya ketika kita bayi, organ tubuh cenderung ‘ringkih’. Demikian pula dengan manula. Tempurung kepala dan pembuluh-pembuluh darah yang berlindung dibawahnya juga merapuh. Sehingga benturan kecil pun bisa berakibat fatal. Well, setidaknya ada penjelasan logis dari sakitnya bapak. Selain, tentu saja, ini semua kehendak Tuhan. Kalau Tuhan berkehendak, apapun mungkin terjadi. Dan saya yakin, Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya.

Dan setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Tidak hanya untuk bapak dan kami sekeluarga, tapi juga untuk banyak orang. Banyak sekali hikmahnya, tidak bisa saya rincikan satu persatu. Yang terpenting, menjaga kesehatan itu penting. Bahkan sangat penting. Kalau kondisi fisik bapak tidak prima saat datang ke UGD, belum tentu akan seperti ini ceritanya. Terlepas dari beliau adalah bapak saya, saya melihat kondisi bapak sebagai sebuah prestasi. Dalam usia yang sudah sepuh, masih punya kondisi fisik yang prima. Dan itu tidak di bentuk dalam waktu yang singkat. Panjang sekali prosesnya. Rajin olahraga. Tidak merokok. Pola hidup sehat. Pola makan sehat. Positive thinking. Dan dekat dengan Tuhan. Itu salah satu cara beliau menyayangi keluarga dan orang-orang dekatnya. Dengan tetap dalam kondisi sehat, sehingga orang lain tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya. Saya sendiri tidak yakin apakah bisa sesehat bapak kalau saya di beri umur sepanjang beliau. Tapi bukan berarti tidak mungkin, kan?

Akhir cerita, saya, sebagai pribadi dan mewakili keluarga, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Kepada semua teman, sahabat, kerabat, keluarga, tetangga, pihak RS beserta dokter, perawat dan semua unsurnya, serta semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Untuk semua doa, dukungan, bantuan, tindakan, perhatian dalam bentuk apapun. Hanya Tuhan yang bisa membalas semua kebaikan anda sekalian. Tuhan tidak pernah tidur. Sekali lagi, terima kasih.

4 thoughts on “Life is never flat

  1. alhamdulillah sudah sembuh total dan kembali berasktifitas n good report (pasti ban yak yang nankin sehingga bikin blok)

  2. joo.. masih ingat cerita tentang sakitnya bapakku, kan…? kisah yg serupa dengan dirimu. aku pun salut padanya. 2 kali mengalami ‘jatuh’ (yg aku tau), tapi masih diberi kesempatan hidup Tuhan hingga detik ini.. semangat sembuh dan bertahan hidupnya, sungguh luar biasaa!! desember 2004 jatuh di perairan Korea saat musim dingin. kawan kerja yg menolong bapak saat itu kini telah wafat. oktober 2008 bapak jatuh di area dermaga kota Padang, november 2008 bapak mengalami hal seperti bapakmu bahkan hingga pre koma.. membuat kami sekeluarga bersiap diri menghadapi segala kemungkinan terburuk. tetapi Tuhan punya kehendak yg terkadang tidak bisa kita duga. bapak kembali sehat hingga sekarang, meski terkadang masih harus sering kontrol di brain clinic surabaya. semoga… sebagai insan-insan berpikir kita dapat mengambil hikmah di balik semua peristiwa dan kisah. kiranya Tuhan selalu memberkati setiap langkah kita… :0)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s