Terima kasih

 Kemarin, iseng pencet-pencet tombol remote tv. Dan menemukan sebuah acara dari tv lokal. Nggak tau judulnya apa, tapi kok kayaknya menarik. Seorang perempuan muda berusia 20-an, bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket. Dia akan memberikan uang Rp. 50.000,- pada pembeli yang melakukan transaksi di meja kasirnya dalam kurun waktu tiga jam, dan setelahnya mengucapkan terima kasih. Ya, terima kasih. Sepele, kan?

Apa yang terjadi? Berdasarkan pengamatan menggunakan kamera candid, para pembeli langsung melenggang pergi begitu transaksi selesai. Padahal mbak di kasir sudah mengucapkan terima kasih pada pembeli. Mungkin mereka menganggap itu sebagai sebuah kewajiban bagi kasir, mengingat mereka sudah berbelanja di minimarket tersebut.

Setelah tiga jam berlalu, hanya ada dua pembeli yang mengucapkan terima kasih pada si mbak kasir. Setelah ditanyakan, jawaban keduanya relatif sama. Kebiasaan. Mereka biasa mengucapkan terima kasih pada orang yang telah membantu mereka, walaupun itu sebenarnya adalah bagian dari kewajiban atau tanggungjawab pekerjaan.

“Kan sudah diajarkan dari kecil untuk berterima kasih pada orang yang bantu kita,” begitu jawab salah satunya.

Kebiasaan? Lalu kenapa hanya dua dari 84 pengunjung yang bertransaksi di meja kasir si mbak yang mengucapkan terima kasih? Apa 82 orang yang lain tidak dibiasakan dari kecil? Atau kebiasaan itu sudar meluntur? Kok saya tiba-tiba jadi nelangsa😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s