Mitos

Tengah malam beberapa hari yang lalu, makan bareng teman-teman lama. Beli nasi dan mie goreng, terus di bawa pulang buat di makan rame-rame. Yummm…

Lagi enak-enaknya makan, saya teringat satu hal. Dulu ada teman kami yang lain, percaya mitos soal aktivitas makan. Katanya, nggak boleh makan di depan pintu. Ya iyalaaah…ntar yang mau lewat gimana? Soal itu sih masih logis aja, walau saya lupa arti mitos yang satu ini. Masih bisa di terima logika.

Mitos kedua yang di percaya olehnya adalah kalau makan jangan sampai habis. Disisakan sedikit biar rejekinya tetap ngalir. Kami yang berkumpul malam itu masih bingung, dimana hubungannya yah? Kalau tiap makan selalu disisakan sedikit, tapi nggak pernah usaha, darimana rejeki bisa datang? Yang ada kita cuma mubazir, buang-buang makanan. Jatuhnya malah dosa 😦

Yang lebih bikin berkerut kening adalah mitos yang bilang kalau kita habis makan makanan yang dibungkus dengan kertas (nasi bungkus, nasi rames, dll), kertas pembungkusnya harus kita remas baru di buang ke tempat sampah. Sebab kalau kertas itu kita lipat rapi, apalagi sampai di ikat dengan  karet gelang segala, akan berakibat berat jodoh. JRENG!!! Maafkan saya duhai para nenek moyang pencipta mitos. Tapi mitos yang satu ini benar-benar tidak masuk akal. Hubungannya apa coba? Saya memang terbiasa melipat kertas pembungkus supaya ringkas dan tidak bikin penuh tempat sampah. Saya janji akan percaya pada mitos yang ketiga ini kalau ada yang bisa kasih hubungan sebab akibat yang masuk akal.

Sebenarnya masih banyak mitos yang berhubungan dengan perilaku makan. Tapi sepertinya tiga ini saja sudah bikin puyeng alih-alih ketawa 🙂

Aku capek…

“Apa sih fungsinya istri?”

Tiga orang yang lain seketika menghentikan kegiatannya. Untung nasi goreng di mulut sudah sempat aku telan. Berabe juga kalo belum saat pertanyaan itu terlontar.

“Maksudku, job description istri itu apa sih?”

Tiga orang yang lain masih diam. Dua diantaranya melirikku. Menunggu reaksiku sebagai satu-satunya perempuan di meja ini. Aku menggelontor tenggorokan dengan es teh.

“Minta jawaban apa? Konkrit ato normatif?” tanyaku.

“Konkrit.”

“Tergantung suaminya.”

“Kalo normatif?”

“Tergantung suaminya juga..”

Dua yang lain nyengir. Sudah hafal tabiatku. Yang bertanya cuma bersungut-sungut.

“Ada apa juga tanya soal fungsi istri? Istri semacam jabatan kah? Dalam rangka mau promosi, mutasi atau ganti pejabat?” tanyaku tanpa dosa.

Kali ini yang lain tertawa. Si suami menatapku sebal. Aku masih tanpa dosa. Merasa pertanyaannya aneh saja.

“Aku capek…”

Wuuuussshh! Belum apa-apa kalimat kunci sudah keluar. Aku langsung memberi tanda pada yang lain untuk serius. Ini bukan main-main. Ada masalah keluarga tampaknya. Dan dia bukan tipikal orang yang suka curhat.

Kami berempat teman lama. Walau aku perempuan, mereka menganggapku sebagai orang yang nyawanya salah masuk tubuh (–‘). Jujur, kami sama sekali tidak kenal dengan ‘si istri’. Perempuan yang dinikahinya adalah teman kuliah di kota lain. Kami hanya pernah bertemu sekali dengannya, saat resepsi pernikahan. Dan Itu sudah berlangsung empat tahun lalu. Kini, si suami tiba-tiba mengeluh capek.

“Dia berubah…”

Kami diam. Untung semua piring sudah tandas. Mungkin dia juga menunggu kami selesai makan.

“Nggak tau sudah berubah ato memang ini dia yang sebenarnya…”.

Kami tetap diam. Berusaha jadi pendengar yang baik. Tanpa komentar satupun.

“Dia dulu bekerja, berkarir malah. Tapi, sejak keguguran dua kali, dia minta resign. Aku iyakan. Mungkin ada baiknya. Mungkin juga itu jalannya agar kami bisa punya anak.”

Masih mendengarkan.

“Dan dokter memvonis indung telurnya bermasalah. Sama sekali tak ada kemungkinan. Second opinion. Third opinion. Dan seterusnya. Dan hasilnya sama semua.”

Masih diam semua.

“Dia berusaha melakukan pengobatan. Medis, juga alternatif. Bukan membaik, justru lambungnya jadi korban.”

Masih sama.

“Sepertinya dia begitu terobsesi soal anak. Dia memang jatuh cinta dengan anak-anak. Entah keponakan, anak teman, anak tetangga, pasti di manja olehnya.”

“Itu yang bikin kamu capek?” aku buka suara.

“Bukan. Dia seperti lupa dengan tugasnya sebagai istri. Tugas yang kami sepakati. Dia manager di rumah kami. Toh dia nggak perlu ribet dengan urusan domestik. Ada pembantu. Tapi yang aku rasakan, semua hal dilakukan oleh pembantu. She did nothing.”

Kami kembali mendengarkan.

“Boleh dong sekali-kali makan masakan istri. Pengin dong sekali-kali disiapin baju dan perlengkapannya sebelum berangkat ke kantor. Juga pulang kantor di sambut istri yang wangi dan cerah ceria. Sekali-sekali aja, nggak tiap hari. Toh dia juga nggak kemana-mana.”

Kami masih diam.

“Dari aku bangun pagi sampai mau berangkat tidur malan, semua hal-hal kriwil itu dikerjakan pembantu. Aku pikir pembantu itu aku bayar untuk pekerjaan rumah yang berat kayak cuci baju, nyapu, ngepel, masak. Bukan yang personal. Belakangan aku tahu kalau istriku selama aku tinggal kerja juga nggak ngapa-ngapain. Balik tidur, nonton tv, gosip bareng tetangga ato apapun yang nggak ada gunanya.”

“Itu yang bikin kamu capek?” aku buka suara lagi.

“Bukan. Trus aku tawarin, mungkin dia pengin kerja lagi. Ato mo bisnis. Dia jawab enggak. Yang bikin tambah ribet, dia nggak mau ikut partisipasi di kegiatan ibu-ibu dikantorku. Padahal lo tau kan, karirku ini sedikit banyak dipengaruhi aktivitas istri di organisasi itu. Kapan hari ada promosi untuk posisi yang lumayan. Aku yakin mampu dan termasuk yang dicalonkan. Tapi gugur gara-gara istriku nggak aktif di organisasi ibu-ibu itu. Takutnya ntar nggak bisa membimbing dan mengayomi para istri yang suaminya jadi bawahanku.”

Dia menghela nafas. Kami masih mendengarkan.

“Dan parahnya, keluargaku nggak mau tahu dengan kelemahannya. Katanya aku harus punya anak kandung. Padahal aku sudah ada rencana untuk adopsi. Tapi sebagai suami aku harus tetap menjaganya, kan? Harus ada dipihaknya walau harus head to head dengan keluargaku.”

Kami tahu dia tidak meminta persetujuan.

“Tapi lama-lama aku capek juga. Di satu sisi aku harus ada dipihaknya, tetap mendukungnya. Di lain pihak aku harus menghadapi keluargaku. Juga pekerjaan yang jalan di tempat karena dialah batu sandungan promosiku.”

“Sudah pernah ajak dia bicara? Empat mata? Hati ke hati?” tanyaku.

“Sudah. Aku berusaha mencari waktu dan momen yang tepat. Begitu aku selesai dengan penjelasan dan pertanyaanku, tiba-tiba dia nangis. Emosi. Dan sampai terlontar minta di cerai saja kalau memang aku merasa dia hanya jadi beban.”

Mukanya kusut. Menghela nafas berkali-kali.

“Aku masih mencintainya. Aku masih sayang. Tapi aku kan juga manusia. Aku bisa capek. Lahir batin. Nggak tau mau apa dia sebenarnya.”

Kami memandangnya prihatin. Teman lama kami. Orang yang tidak pernah curhat tiba-tiba menceritakan masalahnya yang paling pribadi. Tiba-tiba dia tersenyum.

“Sorry. Aku bikin nggak enak ya? Mustinya aku nggak cerita masalah ini ke kalian. Ini kan masalah pribadi. Tapi aku nggak tau musti cerita ke siapa lagi. Forget it. OK?”

It’s OK. Anytime…” kami tersenyum.

 

Dua Belas

Apa itu Dua Belas? Ada baiknya empat teaser thrilers berikut disimak 🙂

Bagian 1: http://www.youtube.com/watch?v=yOoZoxBo-xM

Bagian 2: http://www.youtube.com/watch?v=_9SODXNJIQM

Bagian 3: http://www.youtube.com/watch?v=lYnNBhHvJvI

Bagian 4: http://www.youtube.com/watch?v=lKNwZ7upFFs

Dua Belas. Buku bukan sembarang buku. Buku yang ditulis oleh 12 orang yang punya passion menulis. Berisi 12 tulisan. Tiap judul mengandung unsur 12. Tidak boleh lebih dari 12 halaman dengan ukuran font 12. Digagas pertama kali tanggal 12 Maret 2011 Dan dirilis 12 Juni 2011. Dan banyak hal lain yang bersinggungan dengan angka 12.

Temui keduabelas penulisnya : Christian Pramudia (@christpramudia), Rendi Doroii (@doroii), Fardani Annisa (@fardania), Hilda Nurina Sabikah (@hildabika), Lala Purwono (@lalapurwono), Septianessty Sutjipto (@netkirei), Nina Deka (@ninaniena), Ninien Irnawati (@ninien), Rere Azizah (@rereazizah), Rizka Sonnia Haliman (@rizkantique), Wahyu Siswaningrum (@WahyuSN), Wangi Mutiara Susilo (@WangiMS) beserta 12 kejutan milik mereka.

Dua belas hanya bisa dibeli di www.nulisbuku.com. Untuk Surabaya dan sekitarnya, bisa order melalui order.nbcsby@gmail.com atau bisa hubungi saya. Rp. 50.000,- saja 🙂 Ayo beli dan selamat menikmati hidangan dari kami.

 

Teman Seperjalanan

Apa yang akan anda lakukan jika akan melakukan perjalanan selama sembilan jam, malam hari dan sendirian? Kalau saya, tidur. Hari itu, saya habiskan dengan beraktivitas penuh sehingga lelah sudah sampai level maksimal saat harus menjalani perjalanan panjang. Pemandangan gelap terlihat dari luar jendela. Dua kursi di sebelah masih kosong.

          “7 B dan C?”

          Saya menoleh. Seorang ibu muda bersama anak balitanya digendongan depan. Dari wajahnya jelas terlihat kalau dia jauh lebih muda dari saya. Saya tersenyum padanya.

          Biasanya saya akan bersikap cenderung formal pada teman seperjalanan, bila memang niat awal ingin tidur selama perjalanan. Takutnya, kalau dari awal terlalu akrab, jadinya malah ngobrol terus 🙂 Tapi entah kenapa, kali ini si ibu muda dan putranya menarik perhatian saya.

          Ribet. Itu kesan awal yang saya tangkap. Oke, membawa anak kecil dalam sebuah perjalanan jauh pastinya akan menimbulkan kehebohan tersendiri. Tapi, si ibu muda ini terlihat berlipat-lipat kesibukannya, sehingga perlu dua orang pramugari untuk membantunya. 

          Si anak tidak bisa duduk diam. Dia berusaha menggapai bagasi kabin yang terbuka. Si ibu muda, entah kenapa, harus membawa tiga tas ukuran kecil dan sedang. Ya. Benar. Tiga. Saya biasanya tidak seiseng ini kalau badan sedang lelah. Tapi sempat terfikir, membawa balita saja sudah pasti repot, kenapa harus ditambah dengan tiga tas di kanan, kiri dan punggung. Kenapa tidak dijadikan satu saja?

          Dua tas dimasukkan ke dalam bagasi kabin. Tas ransel ukuran sedang ia letakkan di bawah kursi. Si ibu muda lalu duduk di kursi dekat selasar. Anaknya tetap tak mau duduk diam. Dia lalu meminta seatbelt khusus untuk anak yang di pangku. Seorang pramugari berlalu meninggalkan kami. Ibu muda tersenyum pada saya. Saya membalas.

          “Berdua saja?” tanya saya.

          “Iya..” jawabnya sambil berusaha memasangkan seatbelt pada anaknya, walaupun selalu gagal. Dia masih berusaha menggapai pintu bagasi kabin penumpang lain. Jujur, kali ini si anak yang menarik perhatian saya.

          “Putranya umur berapa, mbak? tanya saya lagi.

          “Dua setengah tahun..” jawabnya masih dalam kesibukan yang berbeda.

          Saya membuka seatbelt, lalu mendekati si anak. Ibu muda itu sempat kaget dengan tindakan saya. Saya memainkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan saya di depan matanya. Tik tok tik tok tik tok…

          Berhasil! Matanya mengikuti kemana saja jari saya bergerak. Perhatiannya teralih. Si ibu muda tersenyum melihat anaknya sekarang berhasil didudukkan dipangkuan. Keberhasilan ini menjawab rasa penasaran saya.

          “Anak saya autis, mbak..” bukanya.

          Saya tersenyum sambil kembali duduk di kursi. Itu yang saya duga dari tadi. Terlalu aktif untuk anak seusianya. Dan perhatiannya hanya tertuju pada bagasi kabin, bukan yang lain.

          “Dia selalu berusaha menutup semua pintu yang terbuka.” Nah, benar kan? “Dia juga suka rewel kalau gelap.”

          Tahu apa yang terjadi saat lepas landas dan seluruh kabin gelap? Si ibu muda mengeluarkan buku cerita dari dalam tas ransel di bawah tempat duduk, berikut lampu senter ukuran sedang. Dia yang memangku si kecil membacakan buku cerita diterangi cahaya lampu senter. Cerdas.

          Memperhatikan interaksi keduanya sungguh pengalaman luar biasa bagi saya. Ilmu yang tidak akan saya dapat di sekolah manapun dan apapun. Dan akhirnya saya tahu, bahwa tas ransel di bawah tempat duduk adalah sebuah ‘kantung doraemon’. Segala kebutuhan si kecil ada didalamnya. Dari buku cerita, lampu senter, bekal makan malam, jaket dan selimut, baju ganti.  All in.

          Kantuk saya hilang. Hati saya mencelos. Seorang ibu menempuh perjalanan jauh, berdua saja bersama balitanya yang autis. Dia pasti perempuan hebat di mata Tuhan, hingga di percaya untuk mengasuh anak yang luar biasa. Pasti dia memiliki kesabaran seluas galaksi bima sakti.

          Saya menaikkan sandaran tangan. Berharap si kecil bisa tidur dengan posisi kaki lurus. Sang ibu melempar senyum terima kasih. Ini lebih bermakna di banding menghabiskan perjalanan dengan tidur pulas. Saya mulai membayangkan kehebohan yang akan terjadi saat mendarat nanti.

Hari ini setahun yang lalu..

Hari ini setahun yang lalu, seorang anak lahir ke dunia. Belum saatnya, memang. Seharusnya baru dua bulan lagi dia menghirup udara berpolusi ini. Tapi sepertinya takdir berkata lain.

Anak yang cantik. Walau angka dua di permukaan timbangan tak dicapainya, tapi dia tidak menyerah. Semua peralatan medis dan derasnya doa membantunya bertahan. Dia terlahir sebagai pejuang. Dan dia menang. Dia bisa bertahan sampai sejauh ini.

Anak yang manis. Banyak harapan tertuju padanya. Berharap agar dia mampu bertahan. Melewati setiap detik dalam hidupnya. Karena semua orang tahu, hidup yang akan dia lalui sama sekali tak mudah. Sejak lahir, semua orang tahu, dia akan menjalani hari-harinya berbeda dengan anak yang lain.

Dan hari ini, hari ulang tahun pertamamu. Entah apa yang akan kau rasakan di ulang tahun-ulang tahun berikutnya. Karena kau tahu, hari ulang tahunmu adalah juga hari kematian ibumu. Semoga Tuhan selalu melindungimu, nak…

 

You are what you eat

Suatu hari saya bertandang ke rumah salah satu teman lama. Ibunya punya bisnis catering. Beliau menyediakan makan siang untuk para pegawai di beberapa perusahaan. Selain itu menerima pemesanan nasi kotak untuk berbagai keperluan, juga kue-kue basah dan kering. Dan teman saya adalah penerus bisnis keluarga mereka. Bertamu di hari Minggu, menurut pertimbangan saya tidak terlalu mengganggu aktivitas usaha mereka. Ternyata salah 🙂

            Bisa jadi hari Minggu mereka tidak sibuk dengan pesanan makan siang untuk para pegawai. Tapi hari itu ternyata ada pesanan 150 nasi kotak untuk sebuah acara syukuran. Kalau memang rejeki, tidak akan lari kemana. Dan saat saya datang, mereka sedang melakukan cek akhir sebelum pengiriman. Saya sempat melongok isi kotak. Sangat lengkap, selain juga menggiurkan. Seporsi nasi dengan lapis daging dan telur, tumis buncis, sambal goreng tempe, kerupuk udang berteman pisang dan air mineral, dibanderol Rp. 15.000,-/kotak. Benar-benar menggoda.

            “Itu tergantung permintaan juga kok, mbak” jelas si ibu saat di tanya tentang lauk pendamping nasi.

            Pada dasarnya, dari pihak catering menyediakan paket-paket menu nasi kotak, sesuai harga. Namun, bila pemesan menginginkan menu yang lain, tidak menutup kemungkinan. Tentu saja setelah melalui proses perundingan, mengingat harga bahan baku di pasaran yang fluktuatif. Tapi ada hal lain yang justru menarik perhatian saya.

            “Yang wajib, menunya harus memenuhi minimal empat sehat, kalau nggak bisa sampai lima sempurna. Konsumen sekarang cerdas, kalau nggak bisa di bilang rewel hehehe..”

            Benar juga. Sebagian besar catering yang sudah punya nama, sudah membudayakan konsep makanan sehat. Tidak hanya tentang konsep empat sehat lima sempurna, tapi juga bahan makanan dan cara memasaknya. Bahkan sudah banyak catering yang memposisikan diri untuk ‘menu khusus’ seperti menu diet, menu penderita diabetes, dll.

            “Tapi kadang suka sedih juga kalau permintaan lauknya aneh. Bukan masalah timpang antara budget dan jenis lauk. Tapi komposisinya itu lho, nggak sehat” cerita sang ibu.

            Saya cuma tersenyum. Teringat peristiwa di suatu sore ketika sebuah nasi kotak di antar oleh salah seorang tetangga baru untuk mengenalkan diri. Ketika di buka, terhamparlah nasi dengan mie goreng, perkedel kentang, acar, telur rebus dan kerupuk. Yang terlintas di pikiran hanya jargon sebuah iklan. Karbo lauk karbo.

            Bagaimana dengan pilihan lauk anda?