You are what you eat

Suatu hari saya bertandang ke rumah salah satu teman lama. Ibunya punya bisnis catering. Beliau menyediakan makan siang untuk para pegawai di beberapa perusahaan. Selain itu menerima pemesanan nasi kotak untuk berbagai keperluan, juga kue-kue basah dan kering. Dan teman saya adalah penerus bisnis keluarga mereka. Bertamu di hari Minggu, menurut pertimbangan saya tidak terlalu mengganggu aktivitas usaha mereka. Ternyata salah 🙂

            Bisa jadi hari Minggu mereka tidak sibuk dengan pesanan makan siang untuk para pegawai. Tapi hari itu ternyata ada pesanan 150 nasi kotak untuk sebuah acara syukuran. Kalau memang rejeki, tidak akan lari kemana. Dan saat saya datang, mereka sedang melakukan cek akhir sebelum pengiriman. Saya sempat melongok isi kotak. Sangat lengkap, selain juga menggiurkan. Seporsi nasi dengan lapis daging dan telur, tumis buncis, sambal goreng tempe, kerupuk udang berteman pisang dan air mineral, dibanderol Rp. 15.000,-/kotak. Benar-benar menggoda.

            “Itu tergantung permintaan juga kok, mbak” jelas si ibu saat di tanya tentang lauk pendamping nasi.

            Pada dasarnya, dari pihak catering menyediakan paket-paket menu nasi kotak, sesuai harga. Namun, bila pemesan menginginkan menu yang lain, tidak menutup kemungkinan. Tentu saja setelah melalui proses perundingan, mengingat harga bahan baku di pasaran yang fluktuatif. Tapi ada hal lain yang justru menarik perhatian saya.

            “Yang wajib, menunya harus memenuhi minimal empat sehat, kalau nggak bisa sampai lima sempurna. Konsumen sekarang cerdas, kalau nggak bisa di bilang rewel hehehe..”

            Benar juga. Sebagian besar catering yang sudah punya nama, sudah membudayakan konsep makanan sehat. Tidak hanya tentang konsep empat sehat lima sempurna, tapi juga bahan makanan dan cara memasaknya. Bahkan sudah banyak catering yang memposisikan diri untuk ‘menu khusus’ seperti menu diet, menu penderita diabetes, dll.

            “Tapi kadang suka sedih juga kalau permintaan lauknya aneh. Bukan masalah timpang antara budget dan jenis lauk. Tapi komposisinya itu lho, nggak sehat” cerita sang ibu.

            Saya cuma tersenyum. Teringat peristiwa di suatu sore ketika sebuah nasi kotak di antar oleh salah seorang tetangga baru untuk mengenalkan diri. Ketika di buka, terhamparlah nasi dengan mie goreng, perkedel kentang, acar, telur rebus dan kerupuk. Yang terlintas di pikiran hanya jargon sebuah iklan. Karbo lauk karbo.

            Bagaimana dengan pilihan lauk anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s