Teman Seperjalanan

Apa yang akan anda lakukan jika akan melakukan perjalanan selama sembilan jam, malam hari dan sendirian? Kalau saya, tidur. Hari itu, saya habiskan dengan beraktivitas penuh sehingga lelah sudah sampai level maksimal saat harus menjalani perjalanan panjang. Pemandangan gelap terlihat dari luar jendela. Dua kursi di sebelah masih kosong.

          “7 B dan C?”

          Saya menoleh. Seorang ibu muda bersama anak balitanya digendongan depan. Dari wajahnya jelas terlihat kalau dia jauh lebih muda dari saya. Saya tersenyum padanya.

          Biasanya saya akan bersikap cenderung formal pada teman seperjalanan, bila memang niat awal ingin tidur selama perjalanan. Takutnya, kalau dari awal terlalu akrab, jadinya malah ngobrol terus🙂 Tapi entah kenapa, kali ini si ibu muda dan putranya menarik perhatian saya.

          Ribet. Itu kesan awal yang saya tangkap. Oke, membawa anak kecil dalam sebuah perjalanan jauh pastinya akan menimbulkan kehebohan tersendiri. Tapi, si ibu muda ini terlihat berlipat-lipat kesibukannya, sehingga perlu dua orang pramugari untuk membantunya. 

          Si anak tidak bisa duduk diam. Dia berusaha menggapai bagasi kabin yang terbuka. Si ibu muda, entah kenapa, harus membawa tiga tas ukuran kecil dan sedang. Ya. Benar. Tiga. Saya biasanya tidak seiseng ini kalau badan sedang lelah. Tapi sempat terfikir, membawa balita saja sudah pasti repot, kenapa harus ditambah dengan tiga tas di kanan, kiri dan punggung. Kenapa tidak dijadikan satu saja?

          Dua tas dimasukkan ke dalam bagasi kabin. Tas ransel ukuran sedang ia letakkan di bawah kursi. Si ibu muda lalu duduk di kursi dekat selasar. Anaknya tetap tak mau duduk diam. Dia lalu meminta seatbelt khusus untuk anak yang di pangku. Seorang pramugari berlalu meninggalkan kami. Ibu muda tersenyum pada saya. Saya membalas.

          “Berdua saja?” tanya saya.

          “Iya..” jawabnya sambil berusaha memasangkan seatbelt pada anaknya, walaupun selalu gagal. Dia masih berusaha menggapai pintu bagasi kabin penumpang lain. Jujur, kali ini si anak yang menarik perhatian saya.

          “Putranya umur berapa, mbak? tanya saya lagi.

          “Dua setengah tahun..” jawabnya masih dalam kesibukan yang berbeda.

          Saya membuka seatbelt, lalu mendekati si anak. Ibu muda itu sempat kaget dengan tindakan saya. Saya memainkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan saya di depan matanya. Tik tok tik tok tik tok…

          Berhasil! Matanya mengikuti kemana saja jari saya bergerak. Perhatiannya teralih. Si ibu muda tersenyum melihat anaknya sekarang berhasil didudukkan dipangkuan. Keberhasilan ini menjawab rasa penasaran saya.

          “Anak saya autis, mbak..” bukanya.

          Saya tersenyum sambil kembali duduk di kursi. Itu yang saya duga dari tadi. Terlalu aktif untuk anak seusianya. Dan perhatiannya hanya tertuju pada bagasi kabin, bukan yang lain.

          “Dia selalu berusaha menutup semua pintu yang terbuka.” Nah, benar kan? “Dia juga suka rewel kalau gelap.”

          Tahu apa yang terjadi saat lepas landas dan seluruh kabin gelap? Si ibu muda mengeluarkan buku cerita dari dalam tas ransel di bawah tempat duduk, berikut lampu senter ukuran sedang. Dia yang memangku si kecil membacakan buku cerita diterangi cahaya lampu senter. Cerdas.

          Memperhatikan interaksi keduanya sungguh pengalaman luar biasa bagi saya. Ilmu yang tidak akan saya dapat di sekolah manapun dan apapun. Dan akhirnya saya tahu, bahwa tas ransel di bawah tempat duduk adalah sebuah ‘kantung doraemon’. Segala kebutuhan si kecil ada didalamnya. Dari buku cerita, lampu senter, bekal makan malam, jaket dan selimut, baju ganti.  All in.

          Kantuk saya hilang. Hati saya mencelos. Seorang ibu menempuh perjalanan jauh, berdua saja bersama balitanya yang autis. Dia pasti perempuan hebat di mata Tuhan, hingga di percaya untuk mengasuh anak yang luar biasa. Pasti dia memiliki kesabaran seluas galaksi bima sakti.

          Saya menaikkan sandaran tangan. Berharap si kecil bisa tidur dengan posisi kaki lurus. Sang ibu melempar senyum terima kasih. Ini lebih bermakna di banding menghabiskan perjalanan dengan tidur pulas. Saya mulai membayangkan kehebohan yang akan terjadi saat mendarat nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s