Aku capek…

“Apa sih fungsinya istri?”

Tiga orang yang lain seketika menghentikan kegiatannya. Untung nasi goreng di mulut sudah sempat aku telan. Berabe juga kalo belum saat pertanyaan itu terlontar.

“Maksudku, job description istri itu apa sih?”

Tiga orang yang lain masih diam. Dua diantaranya melirikku. Menunggu reaksiku sebagai satu-satunya perempuan di meja ini. Aku menggelontor tenggorokan dengan es teh.

“Minta jawaban apa? Konkrit ato normatif?” tanyaku.

“Konkrit.”

“Tergantung suaminya.”

“Kalo normatif?”

“Tergantung suaminya juga..”

Dua yang lain nyengir. Sudah hafal tabiatku. Yang bertanya cuma bersungut-sungut.

“Ada apa juga tanya soal fungsi istri? Istri semacam jabatan kah? Dalam rangka mau promosi, mutasi atau ganti pejabat?” tanyaku tanpa dosa.

Kali ini yang lain tertawa. Si suami menatapku sebal. Aku masih tanpa dosa. Merasa pertanyaannya aneh saja.

“Aku capek…”

Wuuuussshh! Belum apa-apa kalimat kunci sudah keluar. Aku langsung memberi tanda pada yang lain untuk serius. Ini bukan main-main. Ada masalah keluarga tampaknya. Dan dia bukan tipikal orang yang suka curhat.

Kami berempat teman lama. Walau aku perempuan, mereka menganggapku sebagai orang yang nyawanya salah masuk tubuh (–‘). Jujur, kami sama sekali tidak kenal dengan ‘si istri’. Perempuan yang dinikahinya adalah teman kuliah di kota lain. Kami hanya pernah bertemu sekali dengannya, saat resepsi pernikahan. Dan Itu sudah berlangsung empat tahun lalu. Kini, si suami tiba-tiba mengeluh capek.

“Dia berubah…”

Kami diam. Untung semua piring sudah tandas. Mungkin dia juga menunggu kami selesai makan.

“Nggak tau sudah berubah ato memang ini dia yang sebenarnya…”.

Kami tetap diam. Berusaha jadi pendengar yang baik. Tanpa komentar satupun.

“Dia dulu bekerja, berkarir malah. Tapi, sejak keguguran dua kali, dia minta resign. Aku iyakan. Mungkin ada baiknya. Mungkin juga itu jalannya agar kami bisa punya anak.”

Masih mendengarkan.

“Dan dokter memvonis indung telurnya bermasalah. Sama sekali tak ada kemungkinan. Second opinion. Third opinion. Dan seterusnya. Dan hasilnya sama semua.”

Masih diam semua.

“Dia berusaha melakukan pengobatan. Medis, juga alternatif. Bukan membaik, justru lambungnya jadi korban.”

Masih sama.

“Sepertinya dia begitu terobsesi soal anak. Dia memang jatuh cinta dengan anak-anak. Entah keponakan, anak teman, anak tetangga, pasti di manja olehnya.”

“Itu yang bikin kamu capek?” aku buka suara.

“Bukan. Dia seperti lupa dengan tugasnya sebagai istri. Tugas yang kami sepakati. Dia manager di rumah kami. Toh dia nggak perlu ribet dengan urusan domestik. Ada pembantu. Tapi yang aku rasakan, semua hal dilakukan oleh pembantu. She did nothing.”

Kami kembali mendengarkan.

“Boleh dong sekali-kali makan masakan istri. Pengin dong sekali-kali disiapin baju dan perlengkapannya sebelum berangkat ke kantor. Juga pulang kantor di sambut istri yang wangi dan cerah ceria. Sekali-sekali aja, nggak tiap hari. Toh dia juga nggak kemana-mana.”

Kami masih diam.

“Dari aku bangun pagi sampai mau berangkat tidur malan, semua hal-hal kriwil itu dikerjakan pembantu. Aku pikir pembantu itu aku bayar untuk pekerjaan rumah yang berat kayak cuci baju, nyapu, ngepel, masak. Bukan yang personal. Belakangan aku tahu kalau istriku selama aku tinggal kerja juga nggak ngapa-ngapain. Balik tidur, nonton tv, gosip bareng tetangga ato apapun yang nggak ada gunanya.”

“Itu yang bikin kamu capek?” aku buka suara lagi.

“Bukan. Trus aku tawarin, mungkin dia pengin kerja lagi. Ato mo bisnis. Dia jawab enggak. Yang bikin tambah ribet, dia nggak mau ikut partisipasi di kegiatan ibu-ibu dikantorku. Padahal lo tau kan, karirku ini sedikit banyak dipengaruhi aktivitas istri di organisasi itu. Kapan hari ada promosi untuk posisi yang lumayan. Aku yakin mampu dan termasuk yang dicalonkan. Tapi gugur gara-gara istriku nggak aktif di organisasi ibu-ibu itu. Takutnya ntar nggak bisa membimbing dan mengayomi para istri yang suaminya jadi bawahanku.”

Dia menghela nafas. Kami masih mendengarkan.

“Dan parahnya, keluargaku nggak mau tahu dengan kelemahannya. Katanya aku harus punya anak kandung. Padahal aku sudah ada rencana untuk adopsi. Tapi sebagai suami aku harus tetap menjaganya, kan? Harus ada dipihaknya walau harus head to head dengan keluargaku.”

Kami tahu dia tidak meminta persetujuan.

“Tapi lama-lama aku capek juga. Di satu sisi aku harus ada dipihaknya, tetap mendukungnya. Di lain pihak aku harus menghadapi keluargaku. Juga pekerjaan yang jalan di tempat karena dialah batu sandungan promosiku.”

“Sudah pernah ajak dia bicara? Empat mata? Hati ke hati?” tanyaku.

“Sudah. Aku berusaha mencari waktu dan momen yang tepat. Begitu aku selesai dengan penjelasan dan pertanyaanku, tiba-tiba dia nangis. Emosi. Dan sampai terlontar minta di cerai saja kalau memang aku merasa dia hanya jadi beban.”

Mukanya kusut. Menghela nafas berkali-kali.

“Aku masih mencintainya. Aku masih sayang. Tapi aku kan juga manusia. Aku bisa capek. Lahir batin. Nggak tau mau apa dia sebenarnya.”

Kami memandangnya prihatin. Teman lama kami. Orang yang tidak pernah curhat tiba-tiba menceritakan masalahnya yang paling pribadi. Tiba-tiba dia tersenyum.

“Sorry. Aku bikin nggak enak ya? Mustinya aku nggak cerita masalah ini ke kalian. Ini kan masalah pribadi. Tapi aku nggak tau musti cerita ke siapa lagi. Forget it. OK?”

It’s OK. Anytime…” kami tersenyum.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s