Berburu Tiket

Puasa masih seminggu lagi. Tapi didepanku, sudah ada seorang teman yang curhat tentang hebohnya berburu tiket mudik. Eh? Tiket mudik lebaran? Benar! Keputusan pemerintah yang memajukan tanggal pembelian tiket kereta untuk mudik lebaran, dari H-30 menjadi H-45, membuat para calon pemudik lebih awal mengatur jadwal. 

Kirain masih entaran, deket-deket puasa gitu. Kita kan jadi ribet, buru-buru atur jadwal. Padahal harus koordinasi sana-sini,” ceritanya sambil melap keringat dengan tisu.

Benar juga. Pengumumannya tiba-tiba. Paling tidak buatku. Padahal mudik itu butuh persiapan matang. Banyak yang harus dipikirkan. Apalagi untuk temanku yang satu ini. Suami isteri bekerja, plus seorang anak balita.

Bawa kendaraan pribadi, napa?” tanyaku.

Awalnya gitu. Tapi si mas cuma dapet cuti dua hari sebelum lebaran, plus sehari setelah lebaran kedua. Aku juga nggak bisa ninggalin kerjaan lama-lama. Bakal lebih repot naik kendaraan umum, pastinya. Tapi gimana lagi, kita pengin ngirit tenaga juga. Bapak bilang mo minjemin mobil buat kita kalo mau silaturahmi,” jelas business women satu ini.

Aku manggut-manggut. Dan dia pun mulai ramai bercerita tentang perburuan mereka mencari tiket mudik.

Kemaren pagi, si mas berangkat setengah enam ke stasiun. Antrian buka jam enam, kan? Dan ternyata, di depan loket pemesanan, udah ada orang yang ngantri, lho!”

Aku manggut-manggut.

Jam tujuh, setelah beres-beres dikit plus nganter ke playgroup, aku langsung ke stasiun. Gantiin si mas antri. Dia kan musti ngantor. Kalo aku kan fleksibel.”

Aku manggut-manggut lagi. Ini lho yang namanya perjuangan.

Lusa ngantri lagi buat cari tiket balik. Moga-moga online. Soalnya kemaren ada yang beli buat balik nggak bisa, gara-gara nggak online.”

Bagaimanapun repotnya, yang namanya mudik untuk silaturahmi dengan keluarga besar wajib hukumnya. Sedangkan saya? Ongkang-ongkang kaki. Begini kalau ‘jatuh tua’. Bukan repot mudik, tapi ribet kedatangan tamu dari mana-mana.

Iklan

Amanah

Amanah/amanat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah barang atau sesuatu yang dititipkan/dipercayakan pada orang lain. Sesederhana itu. Tapi tidak dengan implementasinya.

Amanah itu berbanding lurus dengan kepercayaan. Kita tidak akan mengamanahkan sesuatu pada pihak yang tidak bisa dipercaya, kan? Dan masalah yang muncul kemudian adalah sulitnya mendapatkan pihak yang bisa dipercaya.

Rantai selanjutnya yang muncul adalah bagaimana definisi dari ‘pihak yang bisa dipercaya’ itu? Tergantung kasus, karena tak jarang ini berhubungan dengan kepentingan, kebutuhan, juga kompetensi. Kalau di pikir lebih jauh, rasanya ini akan seperti lingkaran setan. Tanpa ujung dan pangkal.

Banyak hal yang saya baca dan lihat belakangan ini. Tapi entah kenapa, hints yang saya tangkap semua mengarah pada amanah. Bisa jadi ada hints lain, tapi amanah lebih mendominasi kepala. Betapa banyak orang ataupun pihak yang sudah mengingkari amanah yang diberikan. Tak sedikit pula yang jelas-jelas melecehkan amanah itu. Belum lagi kalau faktor uang sudah bicara. Rasanya sudah tak ada lagi yang akan lebih unggul darinya. Termasuk Tuhan.

Saya tidak akan bicara tentang uang dengan jumlah jutaan, milyaran bahkan trilyunan. Banyak orang yang juga tidak tahu wujud konkrit uang sejumlah itu. Saya bahkan tidak akan menyinggung masalah uang sama sekali. Amanah terlalu mulia untuk diukur dengan sejumlah uang.

Amanah itu ladang amal. Bekal kita di hari akhir. Beruntunglah orang atau pihak yang di percaya untuk mengemban amanah. Mulia sekali, kan? Priceless. Andai seluruh uang dalam berbagai mata uang di penjuru dunia dikumpulkan, tidak bisa mengimbangi nilai dari sebuah amanah. Padahal bisa jadi amanah itu sangat sederhana. Seperti menyampaikan salam yang dititipkan seseorang pada orang yang lain. Tapi kadang hal yang sederhana pun tidak terlaksana dengan baik. Bagaimana jika harus mengemban amanah yang lebih besar?

Kita memang hanya manusia biasa. Bukan nabi, malaikat apalagi Tuhan. Tapi bukan berarti kekurangan sebagai manusia dijadikan pembenaran untuk mengingkari amanah yang kita emban, kan? Alangkah indahnya jika kita justru merasa tertantang untuk melaksanakan amanah itu dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Kenapa? Karena jika berhasil, tidak hanya saldo tabungan di hari akhir yang bertambah, tapi juga kepuasan batin yang membuat hari esok jadi lebih indah dan semangat. Tidak percaya? Coba saja. Saya yakin tidak salah untuk yang satu ini.

Mata

Mata itu jendela hati. Kalimat itu aku dengar dari sebuah acara televisi. Diantara kunyahan kacang rebus, aku teringat peristiwa bertahun-tahun yang lalu. Saat menemani salah seorang teman untuk sebuah photo session.

Mbak, mata kamu itu punya potensi jahat, lho!”

Itu suara si perias dengan gesture yang lebih gemulai dari aku. Bengong, dong.

Maksudku, sorot mata mbak itu punya potensi jahat. Gitu..”

Sekarang aku menatap cermin. Jahat, ya? Masa, sih? Yang terlihat justru mata kurang tidur, karena memang itu kenyataannya. Saat itu.

Dia lalu menyeretku duduk di depan cermin. Dua orang sudah selesai di rias dan sedang berganti baju. Tiba-tiba tangannya sudah heboh mencorat-coret daerah sekitar mata. Dan tak lama kemudian…

Bengong. Lagi. Dia tidak banyak memberi tambahan. Tidak ada warna dan garis mencolok juga tegas. Tapi kenapa mataku berubah seram?

Nah, liat sendiri, kan?” dia berdiri dibelakangku. Speechless.

Maaf lho, mbak. Matanya udah dikerjain..” Dia nyengir. Aku juga.

Bisa dibilang justru seharusnya aku berterima kasih. Tidak pernah terlintas punya ‘potensi’ seperti ini. Serius. Aku sendiri sampai ngeri menatap cermin. Beruntunglah dia begitu baik hati, berbagi tips untuk tidak telihat ‘jahat’.

Smokey eyes? Big No No! Siang hari, nggak usah pake eye shadow. Kasih eye liner aja, tapi cuma di kelopak mata atas. Malem hari, bolehlah pake warna soft. Inget yah, eye liner cuma atas aja. Yang bawah nggak usah. Kalo ada kantung mata, dikasih concealer aja.”

Aku manggut-manggut.

Mbak, nggak pengin maen sinetron? Keren, lho. Kalo dapet peran antagonis, nggak usah banyak omong. Cuma maen mata aja..”

Eh? Nah lo!

Rujak cingur nggak pake cingur

Siang bolong, duduk manis di depot langganan tidak jauh dari rumah. Sepiring gado-gado dan segelas jeruk manis. Sempurna. Sampai ketika dua orang perempuan muda datang memesan makanan untuk dibawa pulang.

Mbak, gado-gado satu, rujak cingurnya dua. Pedes semua. Yang satu nggak pake cingur.”

Alis mataku terangkat, walau biji mata tak lepas dari piring. Memperuncing pendengaran. Rujak cingur tanpa cingur? Terdengar seperti sebuah pengkhianatan. Harusnya punya nama baru untuk olahan itu. Sepertinya bukan hanya saya yang merasa jengah.

Rujak cingur kok nggak pake cingur?” tanya si teman.

Aku nggak suka cingur. Geli.” Yang ditanya menjawab sambil menggedikkan bahunya.

Kenapa? Inget waktu masih jadi hidung sapi?”. Yang ditanya mengangguk.

Tapi kok doyan sama sop ceker ayam?”.

Aha! Saya nyengir diam-diam. Yang ditanya tertawa. Lama-lama saya acuhkan perbincangan mereka. Kata orang, nguping itu dosa 🙂 Tapi saya masih terngiang-ngiang dengan ‘rujak cingur nggak pake cingur’. Sebenarnya ini bukan pertama kali saya mendengar request semacam ini. Saya sendiri selalu meminta menghilangkan semua ketimun di piring pesanan saya, walau acar amat sangat menggoda sebenarnya. Tapi itu lebih karena alasan kesehatan. Ketimun yang segar ceria itu sangat berpotensi membuat tekanan darah saya yang hipotensi ini terun bebas.

Mindset. Saya percaya soal mindset. Kadang, rintangan terbesar justru dari mindset kita sendiri. Contohnya..ya si cingur itu. Gara-gara masih terbayang-bayang hidung sapi, maka engganlah si cewek untuk memasukkan ‘mantan hidung sapi’ ke dalam mulutnya. Seperti kalau kita liat acara-acara tantangan di televisi. Banyak peserta yang gagal ditantangan makan ‘bagian terdalam’ (baca: jeroan) dari hewan. Bisa otak, usus, jantung, ginjal, limpa, hati, dll. Juga kalau kita minum jamu. ‘Pahit’ udah terukir jelas dijidat kita, umumnya. Right?

Jadi, kalau dipikir, sebenarnya musuh terbesar justru diri kita sendiri. Nah, sekarang tinggal bagaimana kita bias melawannya. Mau menang atau kalah? Tergantung mindset 🙂

Btw, si mbak yang beli ‘rujak cingur nggak pake cingur’ tadi kemana yah?