Amanah

Amanah/amanat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah barang atau sesuatu yang dititipkan/dipercayakan pada orang lain. Sesederhana itu. Tapi tidak dengan implementasinya.

Amanah itu berbanding lurus dengan kepercayaan. Kita tidak akan mengamanahkan sesuatu pada pihak yang tidak bisa dipercaya, kan? Dan masalah yang muncul kemudian adalah sulitnya mendapatkan pihak yang bisa dipercaya.

Rantai selanjutnya yang muncul adalah bagaimana definisi dari ‘pihak yang bisa dipercaya’ itu? Tergantung kasus, karena tak jarang ini berhubungan dengan kepentingan, kebutuhan, juga kompetensi. Kalau di pikir lebih jauh, rasanya ini akan seperti lingkaran setan. Tanpa ujung dan pangkal.

Banyak hal yang saya baca dan lihat belakangan ini. Tapi entah kenapa, hints yang saya tangkap semua mengarah pada amanah. Bisa jadi ada hints lain, tapi amanah lebih mendominasi kepala. Betapa banyak orang ataupun pihak yang sudah mengingkari amanah yang diberikan. Tak sedikit pula yang jelas-jelas melecehkan amanah itu. Belum lagi kalau faktor uang sudah bicara. Rasanya sudah tak ada lagi yang akan lebih unggul darinya. Termasuk Tuhan.

Saya tidak akan bicara tentang uang dengan jumlah jutaan, milyaran bahkan trilyunan. Banyak orang yang juga tidak tahu wujud konkrit uang sejumlah itu. Saya bahkan tidak akan menyinggung masalah uang sama sekali. Amanah terlalu mulia untuk diukur dengan sejumlah uang.

Amanah itu ladang amal. Bekal kita di hari akhir. Beruntunglah orang atau pihak yang di percaya untuk mengemban amanah. Mulia sekali, kan? Priceless. Andai seluruh uang dalam berbagai mata uang di penjuru dunia dikumpulkan, tidak bisa mengimbangi nilai dari sebuah amanah. Padahal bisa jadi amanah itu sangat sederhana. Seperti menyampaikan salam yang dititipkan seseorang pada orang yang lain. Tapi kadang hal yang sederhana pun tidak terlaksana dengan baik. Bagaimana jika harus mengemban amanah yang lebih besar?

Kita memang hanya manusia biasa. Bukan nabi, malaikat apalagi Tuhan. Tapi bukan berarti kekurangan sebagai manusia dijadikan pembenaran untuk mengingkari amanah yang kita emban, kan? Alangkah indahnya jika kita justru merasa tertantang untuk melaksanakan amanah itu dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Kenapa? Karena jika berhasil, tidak hanya saldo tabungan di hari akhir yang bertambah, tapi juga kepuasan batin yang membuat hari esok jadi lebih indah dan semangat. Tidak percaya? Coba saja. Saya yakin tidak salah untuk yang satu ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s