RIP

Dan terjadilah. Bukan menunggu-nunggu, hanya penasaran. Akhirnya, terbukti tak ada satupun mahluk yang bisa lolos dari maut.

Tersebutlah Poni, kucing saya yang paling senior. Dia lahir akhir Juli 2004, diantara tiga kematian dalam keluarga kami. Cukup memberikan hiburan diantara kenangan atas yang berpulang. Yang sanggup bertahan melewati seleksi alam diantara tiga saudara kandungnya. Yang tumbuh menjadi pribadi introvert, soliter, picky dan perfeksionis. Tidak banyak bicara, tapi segala dia tunjukkan dalam tindakan. Juga petarung tangguh.

Kata orang kucing punya banyak nyawa cadangan. Tapi saya curiga, dia punya lebih dari yang seharusnya. Entah sudah berapa kali dia berhadapan langsung dengan maut, tapi selalu lolos. Semacam highlander, mungkin. Atau karena terlalu banyak menanggung dosa, sehingga dia diberi lebih banyak waktu untuk bertobat. Entahlah.

Saya pribadi punya banyak hutang budi padanya. Teman setia saat sendiri. Teman yang selalu ada saat ingin curhat. Bahkan, dialah tokoh utama buku kedua saya.

Terlalu banyak kenangan, tapi sulit untuk diceritakan kembali. Terlalu berat. Apalagi melihatnya bertahan melawan maut untuk terakhir kalinya. Sedikit lega melihatnya terbebas dari rasa sakit, walaupun harus kehilangan. Bersyukur dia masih sempat pulang. Seperti ingin mengucapkan perpisahan pada keluarganya.

Tujuh tahun bersama seekor kucing dengan berat tujuh kilogram. Terkadang kita baru merasa berartinya jika sudah kehilangan.

2 thoughts on “RIP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s