Saudara Kembar

Ada yang tahu perbedaan dua gambar ini? Kalau jawabannya pohon, berarti anda benar! Pohon mangga manalagi itu sudah hilang. Sudah tidak ada lagi yang menyuplai vitamin C alami untuk banyak orang😦

Sejarahnya berakhir karena pertumbuhannya yang cenderung destruktuif. Akarnya menjalar hingga merusak lantai teras. Bahkan sudah mengakibatkan garis retakan halus di dinding rumah. Setelah berunding sekian lama, kami memutuskan mengakhirinya saja. Kami tahu, pasti akan banyak yang kecewa. Mustahil bisa memuaskan dan menyenangkan semua pihak, kan?

Kalau dirunut kebelakang, pohon mangga ini sungguh banyak jasanya. Saya sendiri punya ‘kenangan khusus’ dengan si manalagi ini. Begini ceritanya…

Tersebutlah saya saat duduk dibangku TK. Mudik ke rumah nenek saat sedang berlangsung upacara adat mengubur ari-ari bayi, anak saudara yang baru lahir. Dengan rasa ingin tahu yang besar, saya bertanya pada nenek.

Saya (S): “Itu apa?”

Nenek (N): “Itu ari-ari.”

S: “Ari-ari itu apa?”

N: “Ari-ari itu yang kasih makan adik bayi waktu masih dalam perut ibu. Ari-ari itu ibarat saudara kembar si bayi.”

S: “Aku juga punya ari-ari?”

N: “Semua orang punya ari-ari.”

S: “Ari-ariku dikubur dimana?”

N: “Didepan rumahmu, dibawah pohon mangga.”

Dan…saat kembali ke rumah, perspektif saya pada pohon mangga milik kami berubah seketika. Saya lalu menganggapnya sebagai saudara kembar, karena ari-ari saya dikubur dibawahnya. Sepertinya bakat berkhayal level dewa sudah ada sejak saya masih kecil🙂

Waktu berjalan. Ketika saya duduk di bangku SD, pohon mangga tumbuh besar dan agak tak beraturan. Salah satu cabangnya tumbuh ke arah garasi dan agak mengganggu kelancaran lalu lintas.

Bapak (B): “Hari minggu nanti, cabang pohon yang ke garasi mau dipotong.”

Saya (S): “Enggak boleh!”

B: “Kenapa?”

S: “Pokoknya enggak boleh!

B: “….”

Ibu (I): “Enggak boleh? Alasannya?”

S: “Kan sakit..”

I: “Sakit?”

S: “Iya…kalo dipotong kan sakit.”

B & I: “….”

Saya lalu menceritakan percakapan dengan nenek dulu. Seketika ibu tertawa.

I: “Ari-arimu nggak dikubur di bawah pohon mangga.”

S: “Terus dimana?”

I: “Itu…dipojokan situ.”

S: “Pojokan mana?”

I: “Pojongan dekat pagar.”

S: “???”

I: “Itu…yang sekarang jadi tempat pupup si pus…”

JEDHARRR!!!. Hancur hati. Jatuh harga diri. Bukan karena tidak jadi bersaudara kembar dengan si manalagi. Tapi karena mendapati kenyataan makam ari-ari sekarang jadi WC si kucing. Kenyataan kadang memang tak selalu seindah harapan, teman…

Sudahlah…biarlah menjadi pelajaran buat semua. Setidaknya si manalagi sudah banyak berjasa buat banyak orang dan hewan. Terima kasih untuk sahabat, kerabat, teman dan handai taulan yang sudah menjadi bagian dari si manalagi semasa hidup. Untuk para tetangga tercinta, mohon maaf lahir dan batin atas ketiadaannya kini. Sedikit banyak akan membuat situasi dan kondisi menjadi tidak kondusif.

Sekali lagi, terima kasih banyak🙂

4 thoughts on “Saudara Kembar

  1. arghhhhhhhhhhhh…………… itu pohon manggaku jarahanku…… hiks hiks huaaaaaaa…
    aduh aduh daku sedih sekaliiiiiiiiiiiii…………😦
    Kuingat suatu hari ketika teman2 menyombongkan diri dg berkata “eh kt hbs dr rmh wawa loh n dikasi wawa mangga loh… ” “oya eh aku juga mau”, trs “ya sana telp wawa boleh nggak km minta mangganya” “okeh kl bgtu”, kring…. ,”wa lg panen mangga ya? boleh minta?”, “ambil aja sdr sana” ” okeh klbgtu, brp byk?”, “terserah”, “hehehe thx tak bw kantong sdr deh”,
    Bbrp hr kmdn aku datang membawa crew, n glangsing kantong beras uk 25 kg…. penuh deh hasil mangga jarahan….. besoknya syukurlah tidak terjadi antrian panjang di wc, krn tyt mangga si wawa sbgt baik buat pencernaan….. (trimakasih waktu ngambil ga di sumpahin sm yang punya yaaa) kita sangat terkenang, orang serumahku tmsk papa n mama n yuli n saga n dot(adik2ku), sgt sedih mendengar wafatnya mangga tercinta…. smg tenang disana…. salam buat bpk ibu….

    eh ada mangga berotot ky ade rai ya mangganya wawa ini, tp itu laen cerita….

  2. Meskipun aku gak bisa makan mangga karena alergi dan dapat mempengaruhi kecantikanku🙂 Namun aku bisa memahami kesedihanmu dan teman-teman yang punya banyak kenangan manis dan indah dengan pohon mangga itu🙂 *halah lebay deh kalimatku*
    Kalau boleh usul, diganti sama pohon Kelengkeng aja, pasti banyak yang setuju😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s