That’s My Mom

Sebenarnya saya sudah pernah menulis tentang ini sekitar lima tahun lalu di salah satu blog saya yang almarhum sekarang. Tapi sepertinya, kalau saya ceritakan lagi masih up to date

Suatu hari, saya dan ibu duduk manis sembari menonton televisi. Dan berhentilah kegiatan pencet tombol remote pada salah satu stasiun televisi yang menyiarkan infotainment. Bukan acara favorit kami, sebenarnya. Hanya topik yang diangkat saat itu cukup menarik perhatian. Tentang Hari Ibu.

Sejarah Hari Ibu di Indonesia gimana, Dik?”

Ibu tiba-tiba membuyarkan konsentrasiku.

Kongres Perempuan, kan? Yang di Jogja itu? Tapi lupa tahunnya.”

Saya menjawab dengan cengiran. Sejarah bukan ranah saya. Bisa dapat nilai tujuh saja sudah bikin saya sujud syukur.

Berarti Hari Ibu di Indonesia sebenarnya Hari Perempuan kan? Woman’s day, bukan Mother’s day seperti di luar negeri”

Ibu kumat rewelnya kalau ada penjungkirbalikan sejarah. Beliau pernah mengalami bagaimana dijajah Belanda, ketemu Jepang, head to head dengan sekutu, belum lagi pemberontakan dalam negeri.

Layar televisi menampakkan seorang selebriti wanita yang sedang ‘menodong’ anak-anaknya, apa yang akan mereka berikan padanya saat hari ibu? Anak-anak yang masih usia SD itu hanya senyum-senyum. Senyum yang saya kenal. Senyum ‘Apaan, sih? Ginian kok musti ditanyain’. Hehehe 🙂

Entah kenapa selebriti wanita itu keukeuh mendesak anak-anaknya, dan berakhir dengan kaburnya anak-anak itu keluar rumah.

Tiba-tiba saya dan ibu saling memandang. Jenis tatapan yang sama. Tatapan ‘WTH?’. Beliau tahu saya. Saya juga tahu ibu.

Tiba-tiba saja ibu buka suara.

Dik, kalo tiba-tiba Ibu jadi nodong minta dikasih sesuatu kayak artis tadi, tolong Ibu diingatkan, yah.”

Kenapa?”

Itu berarti Ibu udah nggak ikhlas. Dan itu nggak bener.”

And that’s my mom 🙂

Dear Co-Worker

Saya masih ingat, saat itu hari Jumat malam. Saya sedang bersiap-siap pergi tidur, ketika ponsel bergetar, memberitahu ada email masuk. Benar. Dan email itu berisi saya harus bertemu co-worker dari pihak klien hari Senin pagi.

Itu hal biasa. Yang membuat saya terbengong tiba-tiba adalah nama dari si co-worker. Sangat familiar. Bahkan terlalu familiar. Apa iya ini si dia yang saya kenal?

Akhirnya saya putuskan untuk tidak terlalu memikirkan. Kenapa? Karena, walaupun familiar, tapi nama itu juga agak, maaf, pasaran. Banyak yang punya nama sama. Jadi bisa saja itu orang lain yang tidak saya kenal, kan?

*

Senin pagi, sesuai janji, saya bertandang ke sebuah instansi, yang dulu pernah jadi home base saya di medio 90-an. Setelah melapor pada resepsionis, saya diminta menunggu. Ternyata, banyak juga perubahan di gedung ini. Paling tidak di lobbynya.

Karena terlalu asyik dengan koran yang tersedia di meja, saya tidak terlalu memperhatikan orang-orang yang keluar dari lift. Baru ketika ada yang memanggil, saya turunkan koran itu. Dan yang saya khawatirkan terjadi.

Seorang laki-laki tinggi menjulang di depan saya. Tersenyum,. Dan wajahnya masih saya kenali. Sama familiarnya dengan nama dalam email yang saya terima. Benar. Dia orang yang saya kenal. Bahkan pernah sangat saya kenal.

Atas nama professional, saya berusaha untuk tidak melibatkan hati.

*

Singkat cerita, status kami adalah mantan satu sama lain. Kami pernah punya hubungan di masa lalu. Dan harus berakhir karena satu dan lain hal. Seteleh itu hubungan kami baik-baik saja. Saling mendukung, saling mendoakan. Bahkan saat akhirnya dia menikah, saya sempatkan datang, walau harus ke luar kota. Lalu apa masalahnya?

Bisa jadi karena dulu kami berpisah baik-baik. Tidak ada dendam. Setelah sekian lama tidak bertemu, ada ‘sesuatu’ yang mengusik.

‘Kenapa dulu musti bubaran, yah?’

Kadang, saat harus makan siang bersama sembari membahas masalah pekerjaan, sedikit banyak perasaan saya ikut bermain. Memperhatikannya dari perspektif di luar profesi. Melihatnya berapi-api menceritakan anak-anaknya. Juga memamerkan foto mereka bertiga yang terpampang di dinding dompet hitam. Anak-anak yang lucu.

Saya menggelengkan kepala. Saya harus professional, kan? Dia sekarang berstatus co-worker sampai pekerjaan ini selesai. Suami orang dan ayah dari anak-anaknya. Lalu kenapa saya justru kembali ke masa lalu?

*

Dan yang tak diduga-duga muncul. Tadi siang, lepas sholat Jumat, kami bertemu. Entah kenapa kali ini dia kelihatan bingung. Ternyata, salah satu buah hatinya demam, demikian telepon dari sekolah. Dia agak sungkan membatalkan janji kami, tapi maklum saya besar untuk masalah seperti ini. Justru yang membuat saya bertanya-tanya saat dia berandai jika istrinya masih disini, mungkin tak akan serumit sekarang.

Istrinya tak disini? Lalu dimana?

Dan sebuah fakta terungkap. Mereka bercerai tiga tahun lalu. Dia memutuskan kembali ke kota ini bersama tiga anaknya. Sang mantan sudah menikah lagi.

Dan saya masih terbengong di kursi sampai dia pergi menghilang.