Dear Co-Worker

Saya masih ingat, saat itu hari Jumat malam. Saya sedang bersiap-siap pergi tidur, ketika ponsel bergetar, memberitahu ada email masuk. Benar. Dan email itu berisi saya harus bertemu co-worker dari pihak klien hari Senin pagi.

Itu hal biasa. Yang membuat saya terbengong tiba-tiba adalah nama dari si co-worker. Sangat familiar. Bahkan terlalu familiar. Apa iya ini si dia yang saya kenal?

Akhirnya saya putuskan untuk tidak terlalu memikirkan. Kenapa? Karena, walaupun familiar, tapi nama itu juga agak, maaf, pasaran. Banyak yang punya nama sama. Jadi bisa saja itu orang lain yang tidak saya kenal, kan?

*

Senin pagi, sesuai janji, saya bertandang ke sebuah instansi, yang dulu pernah jadi home base saya di medio 90-an. Setelah melapor pada resepsionis, saya diminta menunggu. Ternyata, banyak juga perubahan di gedung ini. Paling tidak di lobbynya.

Karena terlalu asyik dengan koran yang tersedia di meja, saya tidak terlalu memperhatikan orang-orang yang keluar dari lift. Baru ketika ada yang memanggil, saya turunkan koran itu. Dan yang saya khawatirkan terjadi.

Seorang laki-laki tinggi menjulang di depan saya. Tersenyum,. Dan wajahnya masih saya kenali. Sama familiarnya dengan nama dalam email yang saya terima. Benar. Dia orang yang saya kenal. Bahkan pernah sangat saya kenal.

Atas nama professional, saya berusaha untuk tidak melibatkan hati.

*

Singkat cerita, status kami adalah mantan satu sama lain. Kami pernah punya hubungan di masa lalu. Dan harus berakhir karena satu dan lain hal. Seteleh itu hubungan kami baik-baik saja. Saling mendukung, saling mendoakan. Bahkan saat akhirnya dia menikah, saya sempatkan datang, walau harus ke luar kota. Lalu apa masalahnya?

Bisa jadi karena dulu kami berpisah baik-baik. Tidak ada dendam. Setelah sekian lama tidak bertemu, ada ‘sesuatu’ yang mengusik.

‘Kenapa dulu musti bubaran, yah?’

Kadang, saat harus makan siang bersama sembari membahas masalah pekerjaan, sedikit banyak perasaan saya ikut bermain. Memperhatikannya dari perspektif di luar profesi. Melihatnya berapi-api menceritakan anak-anaknya. Juga memamerkan foto mereka bertiga yang terpampang di dinding dompet hitam. Anak-anak yang lucu.

Saya menggelengkan kepala. Saya harus professional, kan? Dia sekarang berstatus co-worker sampai pekerjaan ini selesai. Suami orang dan ayah dari anak-anaknya. Lalu kenapa saya justru kembali ke masa lalu?

*

Dan yang tak diduga-duga muncul. Tadi siang, lepas sholat Jumat, kami bertemu. Entah kenapa kali ini dia kelihatan bingung. Ternyata, salah satu buah hatinya demam, demikian telepon dari sekolah. Dia agak sungkan membatalkan janji kami, tapi maklum saya besar untuk masalah seperti ini. Justru yang membuat saya bertanya-tanya saat dia berandai jika istrinya masih disini, mungkin tak akan serumit sekarang.

Istrinya tak disini? Lalu dimana?

Dan sebuah fakta terungkap. Mereka bercerai tiga tahun lalu. Dia memutuskan kembali ke kota ini bersama tiga anaknya. Sang mantan sudah menikah lagi.

Dan saya masih terbengong di kursi sampai dia pergi menghilang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s