Nasi Goreng Ikan Asin

“Aku males ngapa-ngapain.”

“Ya udah.”

Aku kembali melingkar dalam selimut. Sungguh, PMS kali ini berhasil menjajahku lahir batin.

Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi-bunyian dari arah dapur. Ah, dia pasti sedang buat sesuatu. Aku cuma senyum-senyum. Bikin apa kali ini? Seberapa berantakan nantinya?

Beberapa saat, aku menyeret badan ke dapur. Mendudukkan pantat di kursi makan. Asap mengepul dari penggorengan. Bau ikan asin menguar.

“Bikin apa ini?” Aku mengendus-endus disebelahnya.

“Nasi goreng ikan asin.”

“Hah? Serius?”

“Serius, dong..” Dia nyengir.

Benar ternyata. Semua bahan sudah disiapkan. Nasi putih, bumbu-bumbu, ikan asin yang sudah digoreng, wortel dan kacang polong rebus, juga acar timun siap saji. Sangat tidak sabar menunggu matang.

“Masih lama, nggak?”

“Sabar…Udah, duduk aja di situ. Bentar juga matang.”

Aku beringsut ke ruang keluarga. Menekan tombol-tombol remote tv, mencari acara yang sekiranya bisa mengusir jengah. Sampai tiba-tiba dia muncul dengan piring di tangan.

“Nih…”

“Waaa…baunya…”

Dia mengambil sesendok. Meniup beberapa kali, agar sedikit lebih dingin. Lalu menyuapkannya padaku.

Uumm…Sedap. Seperti biasanya.

“Gimana?”

“Top deh!”

Dia nyengir lagi.

“Tumben bikin nasi goreng ikan asin?”

Dia menyuapkan sesendok untuk dirinya sendiri.

“Iya. Inget kita dapet oleh-oleh ikan asin jambal roti dari budhe kapan hari? Daripada dianggurin, mending bikin nasi goreng ikan asin.”

“Eh, tapi kok jambal rotinya nggak asin banget kayak biasanya?”

“Tadi, sebelum digoreng, aku rendam dulu di air panas, biar asinnya agak berkurang. Nggak usah terlalu lama, ntar malah ilang asinnya.”

Aku manggut-manggut. Dia kembali menyuapkan sesendok. Ditengah kunyahan, tiba-tiba aku mengigit sesuatu yang…entah apa ini? Tidak empuk, agak pahit.

“Kenapa?”

“Apa sih ini?”

Aku mengeluarkan sesuatu dari dalam mulut. Sesuatu berwarna hijau.

“Oh…itu. Aku tadi masukin beberapa pete…”

Dia masih cuek mengunyah. Sedang aku kalang kabut mencari air minum.

Iklan

Teh Tarik

Suara benda jatuh terdengar saat aku sedang bertransaksi dengan tukang roti yang lewat di depan rumah. Kenapa lagi dia?

Kudapati dia sedang jongkok di lantai dapur, membersihkan sesuatu yang tercecer. Tidak hanya di lantai, tapi juga di meja.

“Bikin apaan?”

“Teh tarik.” Dia nyengir.

Dan terjawablah semua pemandangan kacau di kawasan dapur.

“Ternyata susah yah…”

Ganti aku yang nyengir.

“Bukannya gampang? Kan tinggal bikin teh, terus di tambahin susu kental manis.”

“Eits, siapa bilang?”

“Trus gimana?”

“Pertama kita harus bikin teh yang kental. Sangat. Jadi harus pake teh tubruk, klo pake teh kantong, nggak bisa kental maksimal.”

“Terus?”

“Baru deh ditambahin susu kental manis. Ini yang susah. Sesuai selera. Tapi sebisa mungkin rasa tehnya nanti setelah jadi harus tetap terasa. Kalo susu kebanyakan, jadi terlalu manis. Kalo kurang jadinya juga nggak enak. Jadinya trial error, sampai nemu yang pas.”

“Abis itu?”

Baru deh ‘ditarik. Momentum sama iramanya musti pas juga. Kalo nggak berceceran kayak tadi deh, hehehe… Kepake juga ilmu fisikaku.”

Tak lama dia kembali ambil ancang-ancang untuk ‘menarik’ tehnya. Dua gelas plastik besar ada di kedua tangan. Aku menyingkir jauh darinya.

Dan atraksi pun dimulai. Masih sempat tercecer sedikit disana sini. Tapi begitu dapat irama, momentumnya jadi pas. Dan teh susu yang dituang dari satu gelas ke gelas lain, terlihat seperti ‘ditarik’. Keren.

Selesai. Dia menuang teh tariknya ke gelas saji. Busa lembut ada dipermukaannya. Menggoda.

“Jangan lupa.”

“Apa?”

“Dapurnya dibersihin…”

Dia berlalu membawa teh tarik. Tinggal aku yang bengong lalu bersungut-sungut.

Sop Buntut

Hari Minggu siang.

“Ini apa?”

“Sop buntut.”

“Sop buntut apa?”

“Buntut sapi, dong. Masa buntut cicak.”

Dia menyeruput kuahnya. Aneh. Raut mukanya tak terbaca. Tidak seperti biasanya. Juga tak ada komentar.

“Gimana?”

“Ada minyak wijen?”

“Ada.”

Ku ambil botol bening berukuran sedang di dapur. Dia tuangkan dalam mangkuknya. Tak terlalu banyak. Setengah sendok makan saja. Lalu dioplos dan kembali disesap.

“Gimana?”

“Kamu tau nggak, dulu almarhumah mama suka bikin sop buntut. Enak banget. Favorit keluarga, deh.”

Mendengarkan.

“Sop buntutnya kayak bikinan kamu gini. Dikasih wortel, tomat, daun bawang, daun seledri. Cuma, kalo punya mama kentangnya dibanyakin. Gara-gara pada suka makan nggak pake nasi. Digado, gitu. Makanya kentang dibanyakin, biar tetep ada karbohidratnya.”

Masih mendengarkan.

“Baru kali ini aku nemu sop buntut yang lebih enak dari bikinan mama. Lain kali kamu bikin lagi yah, trus kita antar ke papa. Dia pasti suka.”

Diam. Speechless. Wajahku terasa merona. Malu. Senang. Bangga. Andai sempat mengenal mendiang ibu mertuaku…

“Jadi dulu mama suka masukin minyak wijen ke kuah sop buntut?”

“Oh, enggak. Itu kebiasaan mantan pacarku, sebelum kamu. Dia suka masukin minyak wijen ke makanan yang berkuah kaldu. Ternyata enak banget.”

Dia kembali sibuk dengan mangkuknya. Wajahku yang merona terasa berubah merah padam.

Kopi Tubruk

Sama seperti dugaanku.

“Aaaa! Ini kopi apa?!”

Aku tersenyum kecut. Hujan deras dengan angin menderu, tak memberiku kesempatan untuk pergi ke supermarket. Alhasil, mini market dekat rumah yang jadi sasaran. Dan bisa di tebak, kopi kesayangannya tak ada di rak.

“Iya. Bukan yang biasa. Kehabisan, sih.”

“Kenapa nggak bilang? Tau gitu pulang kantor aku bisa mampir supermarket.”

Dia terlihat bersungut-sungut.

“Kenapa sih? Perasaan kopi dimana-mana sama deh.”

Dia meletakkan cangkirnya.

“Sayang, kamu tau kan aku punya penyakit maag?”

Aku mengangguk.

“Aku cuma bisa minum yang robusta. Arabika kadar asamnya cukup tinggi. Dan dari semua robusta, aku suka yang java. Ada tone rasa cokelat di pangkal lidah setelah minum.”

Aku bengong.

“Dulu, jaman belom nikah, kopi jadi pasangan terbaikku. Nonton tv, nongkrong sama siapapun, chatting, ngeblog, malem mingguan. Ampe mikir, ada gitu pacar yang bisa kayak kopi tubrukku?”

“Terus?”

“Sampai akhirnya aku ketemu kamu. Dan hebatnya, kopi tubruk buatanmu pas banget. Nggak kurang, nggak lebih. Emang jodoh kali, yah.”

Aku diam. Entah bingung, entah tersanjung atau malah jengkel disamakan dengan kopi tubruk.

“Intinya, kamu itu bisa ngertiin aku.”

Speechless.

“Lagi pula, lumayan juga kalo kita mau buka warung kopi di teras rumah. Jadi kamu bisa dikaryakan. Kopi tubruk bikinanmu nggak kalah kok kalo diadu sama kopi cap putri duyung amrik.”

Masih speechles. Plus dongkol.

Soto Koya

Suatu hari Minggu. Soto ayam dengan taburan koya, di atas meja.

“Gimana?”

Dia menyapu bibir dengan tisu.

“Uenak.”

Ada senyum tulus dibibirnya. Juga diwajahku. Senang.

*

Hari Minggu dua minggu kemudian. Soto daging dengan taburan koya, di atas meja.

“Gimana?”

Dia menangkupkan sendok garpu di atas mangkuk kosong.

“Sedaaaap..!”

Bergaya bintang iklan dengan wajah sumringah. Juga wajahku.

*

Masih di hari Minggu sepuluh hari setelahnya. Soto jerohan plus taburan koya, di atas meja.

“Gimana?”

Dia manggut-manggut dengan mulut masih mengunyah.

“Sip! Top deh!”

Dua ibu jarinya ditujukan buatku. Aku nyengir.

*

Hari Minggu, entah yang ke berapa. Kali ini soto ayam dengan telur muda. Masih dengan taburan koya, tersaji di atas meja.

“Gimana?”

Dia berkedip-kedip kearahku.

“Mak nyuuusss…”

Pasang gaya pak Bondan. Tapi kali ini aku mengernyit.

“Curiga, deh. Sebenernya penilaianmu obyektif apa nggak, sih?”

Dia berhenti makan.

“Sayang..kamu masak ini buat aku, kan?”

Aku mengangguk.

“Istri yang masak buat suami, nggak cuma pake wajan, panci, bahan dan bumbu, tapi juga pake cinta. Pake hati.”

Aku diam. Bengong.

“Apapun yang di buat pake hati, nyampenya juga ke hati. Gitu juga soto koyamu ini. Kamu bikinnya ikhlas, kan? Makanya, rasanya jadi enak banget.”

Dia kembali mengunyah. Aku masih speechless. Tapi senyum mengembang diwajahku.

“Tapi kamu tahu dong, kalo lidahku nggak kenal kata ‘nggak enak’? Yang ada cuma ‘enak’ dan ‘enak banget’?”

Senyumku hilang.

“Aku juga lagi ngumpulin kosakata yang searti dengan lezat. Ada banyak ternyata….’

Mangkuknya tandas. Dan wajahku terasa sedatar meja.

#Testimoni #15HariNgeblogFF

Saya ini ‘Miss Almost’. Baru ‘ON’ saat sudah dikejar deadline. Begitu tenggat waktu sudah semakin dekat, baru kreatif, baru keluar ide-ide ajaib, baru heboh. Dan itu ‘nggak sehat’. Paling tidak buat saya.

Project #15HariNgeblogFF ini salah satu obat penyakit saya. Belajar disiplin dan komitmen menulis dalam 15 hari berturut-turut, tidak mudah buat saya. Tapi bukan mustahil, kan? Terbukti, saya bisa menulis 15 hari tanpa absen. Bersambung pula. Sila kunjung http://bit.ly/ydIN7m dan selamat menikmati 🙂

Saya juga belajar banyak hal di project ini. Belajar gaya menulis dan bahasa, diksi, perspektif, genre. Juga belajar lebih kreatif. Sebaris judul bisa memberikan kemungkinan cerita yang amat sangat banyak sekali. Dan yang tidak kalah penting, tambah banyak teman dan itu menyenangkan!

Moga setelah proyek ini, sedikit-sedikit saya sudah mulai tidak dipanggil Miss Almost lagi. Tidak tergantung lagi pada deadline untuk tetap kreatif. Tidak lagi suka menunda menulis.

Jadi, terima kasih banyak buat masmin @momo_DM dan yumin @WangiMS. Sudah punya usus panjang dan banyak persediaan tisu. Dilarang kapok 🙂

Well…next project? *disambit mimin *pake angpau

Menikahlah denganku

Aku jatuh cinta padanya.

Ini jelas karma.

Aku sudah memporak-porandakan hidupnya. Bahkan sudah menghancurkannya. Tapi kini aku tak bisa henti memikirkannya.

Melihatnya kini. Jungkir balik menjadi kepala keluarga, juga orang tua bagi adik-adiknya. Bunda berpulang. Ayah terhalang jeruji penjara. Dan semua itu karenaku.

Karena dendamku.

Ayahnya sudah licik menghancurkan bisnis papa. Sekarang dia sudah tahu bagaimana rasanya. Rasa hancur. Bisnis. Juga keluarga.

Tapi kini aku justru jatuh hati pada putri sulungnya.

Gadis malang. Andai dia tahu kejahatan-kejahatan ayahnya. Andai dia tahu akulah dalang pembunuhan atas bundanya. Andai dia tahu adik perempuannya jatuh hati padaku. Andai dia tahu adik laki-lakinya mencintaiku. Andai dia tahu mendiang bundanya sudah bersamaku dulu.

Andai. Andai. Andai.

Andai dia tahu kalau laki-laki yang mencintainya ini adalah orang yang kejam dan keji.

Tapi kali ini aku akui kalau aku benar-benar jatuh cinta. Aku ingin menikah dengannya. Gadis yang sudah kuhancurkan hidupnya.

Semoga dia sudi.