Dag Dig Dug

Semua sudah disiapkan dengan teliti dan matang. Sampai ke detilnya. Tak boleh ada yang meleset dari rencana. Bahkan sudah ada dua rencana cadangan bila yang pertama tak berjalan lancar.

Ini harus menjadi dinner yang sempurna. Sebentar lagi. Bersamanya. Membayangkannya saja sudah membuat jantung berdenyut lebih cepat. Bisa jadi ini satu-satunya kesempatan yang aku punya.

Resto yang minimalis tapi elegan. Pihak managemen dan chef  begitu mendukung rencanaku. Dari appetizer, main course hingga dessert, semua sudah disetujui. Sommelier merekomendasikan red wine dari akhir tahun 60-an.

Sempurna. Andai mereka tahu rencana yang sebenarnya…

*

Terjadilah.

Dia sudah duduk didepanku. Sedang aku masih berusaha mengatur ritme detak jantung. Aku harus tenang. Semua harus berjalan sesuai rencana. Aku menarik nafas panjang beberapa kali.

Dia yang duduk didepanku. Dia masih memukau, sama seperti dulu. Kami sudah bersama bertahun-tahun. Membesarkan anak-anak yang sehat dan cerdas. Malam ini, kami tidak sedang merayakan apapun. Hanya ingin berdua saja. Dan dia menyetujui.

Satu persatu hidangan yang kupesan hadir diantara percakapan dan tawa kecil kami. Entah kapan terakhir kami mengalaminya. Pasti sudah belasan tahun lamanya.

Dan tiba waktunya.

Jantungku kembali mempercepat iramanya.

Tenang. Aku harus tenang.

Kubuka botol red wine. Kuambil gelas didepannya. Kualihkan pembicaraan ke topik yang menarik perhatiannya. Dan, berhasil.

Dengan kecepatan tangan semahir illusionist, kutuang red wine hampir bersamaan dengan bubuk arsenic merah ke dalam gelas. Jumlah yang cukup untuk membuat organ pencernaannya berontak hebat. Dan kalau aku beruntung, dia bisa saja mengalami shock, bahkan koma.

Kuulurkan gelas setengah isi padanya. Diterima. Dicium. Disesap. Dan ditelan. Dia tersenyum.

Aku berhenti bernafas.

Tak lama lagi.

Aku menuang kembali dalam gelas. Untukku. Tanpa bubuk merah, tentu saja. Kami bersulang.

Tak jauh, seseorang yang duduk di kursi bar, mengangkat gelas cocktailnya. Ikut bersulang bersama kami. Seseorang yang setahun terakhir berbagi peluh dan lenguh denganku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s