Sepucuk surat (bukan) dariku

Ini genetik. Wajah tampan, senyum manis, tubuh tinggi tegap. Juga sifat ramah dan mudah bergaul. Tapi pendendam? Itu lain masalah.

Semua berawal dari dua pucuk surat sialan.

Surat pertama bukan dariku. Surat untuk papa yang dikirim ke kantornya beserta bingkisan berwarna merah salem. Adalah intuisi seorang wanita yang membawa mama kesana sepulang dari rumah sakit.

Happy anniversary, Dear. Dinner tonight?”

Kalimat indah yang jelas bukan darinya dan sukses membuat kondisi fisiknya yang ringkih semakin melemah. Berakhir dengan persahabatan mama dengan si malaikat maut. Aku baru mengetahui jauh setelahnya. Hampir  bersamaan dengan papa yang mengenalkan seseorang padaku.

Dia. Perempuan jalang si pengirim surat.

Surat kedua tertuju untuk papa. Bukan dariku. Pun tak dari perempuannya. Surat berisi karma yang harus diterimanya. Surat sita dari pengadilan atas segala harta dan aset. Permainan kotor rekan bisnis yang membuatnya harus bergunung hutang yang tak terbayarkan. Walau harus ditebus dengan serangan jantung berkali dan kunjungan si pencabut nyawa.

*

Dan disini aku sekarang. Bersama sepucuk surat yang kali ini dariku. Tak ada yang tahu isinya selain aku, tentu saja. Botol kecil berwarna cokelat keruh berlabel As4S4 ada diatasnya. Aku menyeringai. Senyum manisku hilang.

Semua harus membayarnya.

Perempuan jalang. Rekan bisnis. Bersama surat dan botol arsenik bubuk merah.

8 thoughts on “Sepucuk surat (bukan) dariku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s