kalau odol lagi jatuh cinta

“Aku suka senyummu.”

“Oh ya?”

“Manis. Gigimu juga bagus.”

“Terima kasih.”

“Pasti odol sudah lama jatuh cinta sama gigimu.”

“Ih, gombal!”

Percakapan hampir dua tahun lalu. Aku hanya tersenyum kala itu. Bukan senyum senang, tapi senyum kemenangan.

Ya. Dia sudah masuk jebakanku. Berkat senyum dan gigi putihku.

“Kamu tahu? Aku cemburu.”

“Maksud, Mas?”

“Aku cemburu pada odol yang selalu dekat dengan gigimu.”

“Apaan, sih?!”

“Iya. Kau mau jadi istriku? Setidaknya aku tak selalu was-was kalau odol selalu dekat denganmu.”

Demikianlah. Dia resmi jatuh dalam jebakanku.

*

Aku tersenyum sendiri melihat sikat gigi di tangan kanan dan odol di kiri. Mengingatkanku pada sebuah senyum milik seseorang. Yang masih sama manis sejak mengenalnya hampir dua tahun lalu.

Apa kabarmu malam ini? Harusnya kamu ada di atas pembaringan yang terpantul dari cermin didepanku. Bukan dia.

Kita sudah saling memiliki, tapi masih sulit bersama. Begitu ingin kamu ada disini. Tanpa yang lain. Hingga membutakan mata. Sampai aku menerima usulmu, beserta secarik surat dan botol kecil berwarna coklat keruh.

Kita sepertinya sudah gelap mata. Walau  rencana pertama gagal, tak mematahkan arang untuk bersatu. Aku. Kamu. Tanpa dia. Hingga aku tak perlu cemburu lagi pada odol yang jatuh cinta pada gigi-gigi putihmu.

Dan sepertinya, aku harus segera menjalankan rencana kita yang lain. Agar bayangan yang tertangkap di cermin ini hanya kamu. Bukan yang lain.

Secepatnya.

Malam ini.

8 thoughts on “kalau odol lagi jatuh cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s