Kopi Tubruk

Sama seperti dugaanku.

“Aaaa! Ini kopi apa?!”

Aku tersenyum kecut. Hujan deras dengan angin menderu, tak memberiku kesempatan untuk pergi ke supermarket. Alhasil, mini market dekat rumah yang jadi sasaran. Dan bisa di tebak, kopi kesayangannya tak ada di rak.

“Iya. Bukan yang biasa. Kehabisan, sih.”

“Kenapa nggak bilang? Tau gitu pulang kantor aku bisa mampir supermarket.”

Dia terlihat bersungut-sungut.

“Kenapa sih? Perasaan kopi dimana-mana sama deh.”

Dia meletakkan cangkirnya.

“Sayang, kamu tau kan aku punya penyakit maag?”

Aku mengangguk.

“Aku cuma bisa minum yang robusta. Arabika kadar asamnya cukup tinggi. Dan dari semua robusta, aku suka yang java. Ada tone rasa cokelat di pangkal lidah setelah minum.”

Aku bengong.

“Dulu, jaman belom nikah, kopi jadi pasangan terbaikku. Nonton tv, nongkrong sama siapapun, chatting, ngeblog, malem mingguan. Ampe mikir, ada gitu pacar yang bisa kayak kopi tubrukku?”

“Terus?”

“Sampai akhirnya aku ketemu kamu. Dan hebatnya, kopi tubruk buatanmu pas banget. Nggak kurang, nggak lebih. Emang jodoh kali, yah.”

Aku diam. Entah bingung, entah tersanjung atau malah jengkel disamakan dengan kopi tubruk.

“Intinya, kamu itu bisa ngertiin aku.”

Speechless.

“Lagi pula, lumayan juga kalo kita mau buka warung kopi di teras rumah. Jadi kamu bisa dikaryakan. Kopi tubruk bikinanmu nggak kalah kok kalo diadu sama kopi cap putri duyung amrik.”

Masih speechles. Plus dongkol.

2 thoughts on “Kopi Tubruk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s