Sop Buntut

Hari Minggu siang.

“Ini apa?”

“Sop buntut.”

“Sop buntut apa?”

“Buntut sapi, dong. Masa buntut cicak.”

Dia menyeruput kuahnya. Aneh. Raut mukanya tak terbaca. Tidak seperti biasanya. Juga tak ada komentar.

“Gimana?”

“Ada minyak wijen?”

“Ada.”

Ku ambil botol bening berukuran sedang di dapur. Dia tuangkan dalam mangkuknya. Tak terlalu banyak. Setengah sendok makan saja. Lalu dioplos dan kembali disesap.

“Gimana?”

“Kamu tau nggak, dulu almarhumah mama suka bikin sop buntut. Enak banget. Favorit keluarga, deh.”

Mendengarkan.

“Sop buntutnya kayak bikinan kamu gini. Dikasih wortel, tomat, daun bawang, daun seledri. Cuma, kalo punya mama kentangnya dibanyakin. Gara-gara pada suka makan nggak pake nasi. Digado, gitu. Makanya kentang dibanyakin, biar tetep ada karbohidratnya.”

Masih mendengarkan.

“Baru kali ini aku nemu sop buntut yang lebih enak dari bikinan mama. Lain kali kamu bikin lagi yah, trus kita antar ke papa. Dia pasti suka.”

Diam. Speechless. Wajahku terasa merona. Malu. Senang. Bangga. Andai sempat mengenal mendiang ibu mertuaku…

“Jadi dulu mama suka masukin minyak wijen ke kuah sop buntut?”

“Oh, enggak. Itu kebiasaan mantan pacarku, sebelum kamu. Dia suka masukin minyak wijen ke makanan yang berkuah kaldu. Ternyata enak banget.”

Dia kembali sibuk dengan mangkuknya. Wajahku yang merona terasa berubah merah padam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s