Ikan Bakar

Bersyukurlah jika apa yang kita rencanakan ternyata dikabulkan Tuhan. Kami minta hujan hari ini. Dan…tadaaa. Hujan turun dengan manisnya. Dengan angin yang berhembus sejuk.
Kenapa kami minta hujan? Karena kami akan bakar ikan. Eh? Apa hubungannya? Kami mau bakar ikan di teras belakang. Bukan mau sok romantis. Tapi kalo bakar ikan waktu hujan, bikin makan tambah lahap dan…banyak 🙂
Semua sudah siap. Pemanggangan, kipas, bahkan ikan gurami yang sudah dibumbui tertata rapi dalam jepitannya. Pertunjukan dimulai.
Kipas sana sini sampai arang membara sesuai keinginan. Ikan gurami dalam jepitan dibolak-balik diatasnya.
“Katanya kalo terlalu sering makan makanan yang dibakar nggak bagus, yah?”
“Iya. Bisa bikin kanker.”
“Gimana ceritanya?”
“Gini. Kita kalo bikin makanan yang dibakar kan sering sampai deep fry. Ada gosong-gosongnya gitu, kan?”
“He eh.”
“Gosong yang ada dipermukaan makanan itu mengandung atom karbon. Nah…atom karbon ini kalo dalam jumlah banyak, bisa memicu timbulnya kanker. Atau kerennya bersifat karsiogenik.”
Aku manggut-manggut. Dia membolak-balik ikan.
“Tapi nggak cuma makanan yang dibakar, lho. Berlaku juga makanan yang dipanggang dan diasapkan. Tapi selama kita nggak terlalu sering mengkonsumsi, aman-aman aja.”
Dua porsi ikan bakar siap. Senyum mengembang. Alamat bakal kekenyangan. Tapi, ketika dibawa masuk ke dalam rumah, tiba-tiba dia balik ke teras belakang. Aku yang sedang membereskan peralatan bengong.
“Ada apa?”
“Rumah kita kebakaran.”
“Hah?!”
“Perhitungannya salah. Angin dari hujan kebesaran. Jadi asap bakaran ikannya masuk semua. Penuh asap, deh.”
“Terus?”
“Makan disini aja.”
“Nasi sama sambal terasinya? Kan masih didalam? Katanya mau makan sambil nonton film…””
“Aaaaaa! Aku udah lapar…”
“…..”

Iklan

Orange Juice

Sebenernya sekarang masih musim hujan nggak, sih? Sudah dua hari, terik bukan main panasnya. Tapi beberapa hari sebelumnya, hujan angin bikin deg-degan. Kalo modelnya kayak gini, bisa ambruk juga badan ini akhirnya.

“Afikaaaa! Bikin orange juice yuk!”

Nah! Kumat deh!

“Iya…lumayan, bikin seger. Banyak vitamin C pula.”

Kami pun ribet di dapur. Dia menyiapkan gelas, juga mencacah es batu. Aku mencuci dan memotong jeruk dan campurannya. Segarnya sudah terbayang-bayang.

Semua sudah siap. Ketika tombol blender ditekan…lho? Kok nggak ada respon?

“Aaaaa!!! Listrik mati!”

“…..”

Mie Instant

“Masa mie instant lagi?”

Susah deh kalo malam lapar berat. Nggak ada sisa dari makan malam. Nggak ada camilan. Nggak ada orang jualan yang lewat.

“Nggak sehat kalo sering-sering.”

“Nggak sering juga nggak sehat kali…”

“Tapi mie instant itu menggoda lho!”

“Iya ya…Kalo udah matang, dikasih bumbu, baunya kemana-mana. Tempting.”

“Iya. Kayak mantan…”

“Heh? Maksudnya?”

Tempting. Menggoda. Kalo lama- lama atau keseringan jadinya nggak sehat…”

“…..”

Teh Madu

Malem-malem. Hujan deras. Enaknya ngapain?
“Minum teh madu?”
“Setuju!”
Kami lalu menuju dapur. Menjerang air dalam teko.
“Teh madu itu bisa membunuh bakteri ecoli, lho?”
“Dalam tubuh?”
“Bukan. Biasanya bakteri ecoli ada di daging mentah, ikan, susu, keju, banyak lagi. Sebelum diolah, direndam dulu dalam teh madu. Bakteri ecolinya bisa mati. Selain itu bisa menambah rasa waktu dimasak.”
Aku menyiapkan dua gelas kaca dan menaruh kantung teh celup ke dalamnya.
“Lagipula, teh madu udah pasti sehat, selain enak rasanya.”
Dia mengangguk sepakat. Teko menjerit. Air mendidih. Kutuang dalam gelas. Warna coklat pekat menguar seketika. Aku menuju lemari.
“Nah lho!”
“Apa? Kenapa?”
“Madunya habis…”
“…..”

Bubur Ayam

Mau bubur ayam?
Mau!!!
Sent.
Aku menatap layer ponsel sambil senyum-senyum. Sip! Sarapan bubur ayam 🙂
Tak sampai setengah jam, dia dan sepedanya memasuki garasi.
“Mana? Mana?”
“Nih! Nggak sabar bener…”
Aku menuangkan bubur ayam di piring lengkap dengan semua pelengkapnya. Mumpung masih panas.
Ku ambil sesendok. Ku tiup pelan-pelan, lalu memasukkan ke dalam mulut. Ummm…
“Enak, kan?”
“Pastilah…”
Perut rasanya tenang 🙂
“Yang ini beli dimana?”
“Di parkiran ruko, situ. Dia buka dari jam enam pagi. Nggak pake lama, langsung laris, habis, tutup, pulang deh.”
“Masuk akal. Enak sih!”
“Iya. Itu musti pake beras bagus. Buburnya enak gitu walo nggak pake apa-apa.”
“Bener. Kuahnya juga enak. Nggak terlalu banyak tapi gurih. Jadi klop.”
“Ayamnya juga banyak, kan? Padahal seporsi cuma tujuh ribu lima ratus.”
“Emang yang paling enak yang disitu, yah?”
“Enggak juga. Yang di deket pom bensin juga enak. Tapi yang di parkiran ruko, yang jual cantik.”
Dia nyengir. Aku manyun.

Air Kelapa Hijau

“Gimana?”

“Baikan…”

“Makanya, jangan asal makan…”

Dia kembali menekuni gelasnya.

“Ini boleh dikasih es?”

“Jangan dulu, ntar aja kalo udah sembuh bener.”

“Kayak sakit flu aja…”

Dia meletakkan gelas di meja samping tempat tidur.

“Dapet dimana air kelapa hijaunya?”

“Deket perempatan depan situ kan ada yang jual.”

“O ya?”

“Iya. Penting. Harus tahu yang jual air kelapa hijau terdekat. Itu obat alami.”

“Bener juga. Nenek dulu bilang kalo keracunan, minum aja air kelapa hijau. Nggak usah minum obat-obatan kimia.”

“Bener. Lagipula air kelapa hijau bagus buat kecantikan.”

“Heh?”

“Kalau kita cuci muka pake air kelapa hijau, jadi bebas jerawat. Kalo dipake keramas, bisa mencegah munculnya uban.”

“Beneran?”

“Iya. Lha yang kamu minum itu kan harusnya aku pake buat cuci muka. Never mind, ntar aku bisa beli lagi…”

“…..”

Tahu Tek-Tek

“Nih…”

Dia mengulurkan sesuatu dalam tas plastik.

“Apaan, nih?”

“Tahu tek-tek.”

Mataku membelalak. Buru-buru ambil sendok.

“Ada temen yang dapet promosi jabatan. Dia traktir di pujasera. Disitu terkenal tahu tek-teknya enak. Makanya aku pesen satu dibawa pulang buat kamu.”

Aku menyeringai lebar. Buru-buru menyuap tanpa memindahkannya ke piring. Ummm…

“Enak?”

“Banget!”

“Itu tadi aku pesen porsi standar.”

“Eh? Emang ada yang nggak standar?”

“Ada. Ditambah telur dadar. Daripada aku diomelin sama orang diet, mending pesen yang standar aja.”

Aku senyum-senyum.

“Ini petisnya pasti oplosan. Enak banget.”

“Oplosan?”

“Iya. Dulu aku pernah dikasih tau kalo mau dapet rasa petis yang enak harus dioplos. Petis kualitas bagus dioplos sama petis biasa yang dijual di pasar. Gitu.”

“Ooo…”

Makananku tandas. Enak. Sangat. Serius.

“Tapi walaupun oplosan, rasa udangnya masih kerasa.”

Dia menoleh.

“Udang?”

“Iya. Petis kan dibikin dari udang.”

Dia melotot.

“Kenapa?”

“Aku tadi pesen tahu tek-tek yang pake telur dadar di pujasera.”

“Nah lo! Bukannya kamu alergi udang?”

“Aaaaa…CTM!”