Telur mata sapi

Masih 38 celcius.

“Udah..istirahat aja.”

“Aku laper.”

“Mau makan pake apa?”

“Telur mata sapi. Jangan lupa tambah kecap.”

Cengirannya selalu melelehkanku.

Tak sampai lima belas menit, pesanannya jadi.

“Ini telur mata sapinya.”

Kuangsurkan piring padanya. Matanya berbinar. Dituang kecap manis sedikit demi sedikit ke sekujur nasi.

“Doyan bener sama telur mata sapi?”

“Enak, gila!” Mulutnya penuh.

“Perasaan gitu-gitu aja rasanya.”

Dia geming dengan godaanku. Masih khusuk dengan piringnya. Sampai tak bersisa satu bulir nasi pun.

“Tau nggak?”

“Apaan?”

“Telur mata sapi itu kan makanan yang sederhana.”

Aku mengangguk.

“Kalo kita bisa menikmati dan mensyukuri yang sederhana, semoga kita bisa juga bisa menikmati dan mensyukuri yang lebih kompleks dan rumit. Apapun itu.”

Dia menjilati kecap manis dijari-jarinya. Aku manggut-manggut.

Anyway…bukannya sapi itu matanya ada dua yah?”

“Terus?”

“Kenapa telur mata sapiku matanya cuma satu?”

Kali ini cengirannya tak melelehkanku.

4 thoughts on “Telur mata sapi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s