Hot Chocolate

Tak banyak yang tahu kalau kami berdua penggila hot chocolate. Cokelat, bukan susu cokelat. Begitu katamu selalu.

“Kalo susu cokelat kan susu yang dikasih essence cokelat. Kalo cokelat panas, itu dari cocoa. Terserah, mau ditambahin susu, gula, cream. Sesuai selera.”

Itulah kamu. Mau kopi, teh atau cokelat, semua harus serba asli. Tanpa tambahan.

“Buat apa ditambahin lagi. Ada kamu, kan? Udah manis, kok.”

Kumat deh gombalnya.

Dan sore ini hujan. Kami bergelung di bawah selimut di sofa teras belakang. Masing-masing memegang mug berisi hot chocolate. Meniup dan menyesap perlahan. Sempurna.

“Kalo gini jadi inget jaman dulu.”

“Kenapa?”

“Ibu selalu bikin hot chocolate tiap sore.”

“Mama juga.”

Kami diam dalam kenangan. Kita baru merasa berartinya seseorang saat mereka sudah tiada. Hanya hot chocolate yang mampu mengobati rindu.

Tak terasa mug sudah tandas.

“Mau lagi?”

Aku mengangguk.

Kamu beranjak ke dapur. Tak lama kembali dengan nampan berisi dua mug dan sekaleng biskuit. Ah, memori masa kecil yang lain. Beginilah kalau kami dibesarkan di lingkup yang sama.

Dan semua romantisme masa lalu lenyap saat kusesap hot chocolateku.

“Kenapa? Masih panas?”

“Pahit! Dikasih gula nggak sih?”

“Buat apa? Lihat aku. Nanti hot chocolatemu bakal berubah manis.”

Kumat lagi gombalnya.

 

#7HariFFCokelat

6 thoughts on “Hot Chocolate

  1. Hahahaha … ini aku bangeeet … aku yang selalu suka hot chocolate tanpa tambahan apapun, atau teh tawar tanpa gula, Karena aku sudah manis hahahaha. Thanks mbak wahyu

  2. Ping-balik: List 7HariFFCokelat: Hot Chocolate « gallerywords

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s