Oseng Buncis

Tau, nggak? Masak untuk dua orang, itu seperti anak kecil main masak-masakan. Jadinya dikit, tapi ribetnya amit-amit. Mana nggak hobi pula. Jadi malesnya berlipat-lipat. Maunya kalo weekend itu istirahat penuh.

Jadi nggak masak, nih?”

Aku menggeleng.

Beli lauk aja, yah.”

Nggak sehat, tau!”

Males…”

Sudah hafal tabiatku. Dia pergi ke dapur. Membuka kulkas dan mengabsen isinya.

Eh, bikin oseng buncis aja, yuk!”

Lauknya apa?”

Ini ada daging, baso, tahu, udang sama telur puyuh.”

Jadiin satu aja. Jadi nggak usah masak dua kali. Sayur sama lauk jadiin satu.”

Tumben cerdas…”

Aku mendengus kearahnya.

Pake tahu sama baso aja, yah. Kalo pake telur puyuh, nggak kuat kolesterolnya. Daging sama udang bisa disimpen buat besok.”

Aku sepakat.

Kami lalu berbagi tugas. Aku membersihkan dan memotong buncis, tahu dan baso. Dia berurusan dengan bumbu dan proses memasaknya.

Tau, nggak? Buncis itu mengandung insulin murni, lho! Jadi baik buat penderita diabetes. Juga hipertensi.”

Oh, ya?”

Dia mengangguk.

Musti tau hal-hal kayak gini. Jadi jangan asal masak dan makan. Mumpung masih muda, mumpung masih sehat, harus baik-baik dijaganya.”

Ganti aku yang manggut-manggut.

Makanya banyak-banyak makan buncis. Biar nggak hipertensi. Kamu hobi ngomel-ngomel, kan?”

Aku melotot. Dia nyengir. Sampai ketika dia akan memasukkan bahan-bahan ke dalam penggorengan. Ada benda yang kukenal betul.

Aaaahhh…nggak pake pete!”

Dikit aja.”

Enggak!”

Dikiiiiit!”

ENGGAK!”

Semoga oseng buncis nggak hangus kali ini.

2 thoughts on “Oseng Buncis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s