Sate Kelinci

Kami duduk berhadapan. Diam. Awkward moment. Baru pertama kali ke tempat ini dan sangat merasa tidak nyaman. Asap mengepul memenuhi ruangan.

“Jadinya pesen berapa tadi?”

“30 tusuk?”

“Kalo nggak dimintai tolong kayaknya nggak bakal kita kesini..”

Dia senyum-senyum.

“Emang bener ya, daging kelinci bisa nyembuhin asma?”

“Jadi gini…daging kelinci itu mengandung senyawa kitotefin dan zat lain seperti omega tiga dan omega sembilan. Kandungan itu bisa menstabilkan membran sel mastosit.”

Mendengarkan.

“Asma itu terjadi karena alergi. Daging kelinci bisa membentuk antibodi pada tubuh. Antibodi kalo melekat pada sel mastosit, membrannya bisa pecah. Kalo pecah bisa membentuk otot-otot polos di saluran pernafasan berkontraksi. Akibatnya saluran nafas menyempit hingga terjadi asma.”

Manggut-manggut.

“Kalo rajin mengkonsumsi daging kelinci, membran sel mastosit jadi stabil. Nggak gampang pecah. Jadi asma nggak muncul lagi. Gitu.”

Paham. Tapi tetap merasa tidak nyaman.

“Masih lama yah?”

“Enggak kayaknya. Itu pesenan kita lagi dibungkus.”

“Kalo sepupuku nggak minta dibeliin sate kelinci, aku ogah kesini…”

“Namanya juga nolong orang sakit asma. Lagian kenapa ogah kesini?”

“Aduh..liat deh. Seumur-umur makan diluar, biasanya yang diliatin di tembok itu gambar makanan minuman yang dijual. Baru kali ini, ada orang jual sate kelinci yang dipasang gambar kelinci. Lucu pula. Kan jadinya males mo makan. Kasian.”

“Iya yah. Aneh…Kenapa nggak sekalian aja ada kelinci hidupnya. Nanggung..”

Semakin tak nyaman. Buru-buru kabur setelah membayar 30 tusuk obat asma.

Iklan