Teh hijau

“Apaan tuh?”

“Teh hijau. Mau?”

Dia mengangguk. Kujerang air panas ke dalam cangkir keramik bertabur daun teh hijau. Teh tanpa gula. Seperti kebiasaannya.

“Dalam rangka apa nih? Diet?”

“Salah satunya. Yang utama sih sebenernya…”

Kali ini aku yang nyengir.

“Tumben bikin yang tubruk…”

“Iya. Aku baru dapet info kalo teh hijau tubruk lebih baik daripada yang celup.”

“Padahal biasanya pake yang celup.”

“Iya. Praktis sih hihihi…”

Kami menyesap cangkir masing-masing.

“Dibanding teh jenis lain, teh hijau paling banyak manfaatnya.”

“Bener. Yang aku tau sih bisa menurunkan tekanan darah dan kolesterol jahat. Mencegah munculnya stroke, juga gejala gula darah tinggi. Mengurangi stress pula.”

Yes. Selain itu melindungi lever. Mencegah osteoporosis. Mencegah timbulnya kanker. Juga memperlambat proses penuaan. Itu gara-gara kadar antioksidan yang tinggi.”

Cangkirku tandas dari tadi. Maksud hati ingin menyeduh lagi. Tapi kenapa perutku tiba-tiba aneh?

“Kenapa”

“Nggak tau, nih! Kok mules gini?”

“Udah makan?”

“Udah.”

“Jangan-jangan nggak tahan sama teh hijau tubruk…”

Aku menoleh.

“Hah? Maksudnya?”

“Nggak semua orang tahan dengan zat yang terkandung dalam teh hijau, terutama yang tubruk. Akibatnya, alat pencernaan berontak. Kalo cuma mules masih lumayan. Ada yang sampai diare berat.”

Aku meringis sambil memegang perut. Niat diet malah jadi sakit😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s