Dear Younger Me,

Bingung. Aku harus panggil apa? Aku? Kamu? Nama? Nggak penting juga, sepertinya. Yang penting kamu baca isi surat ini, mengerti dan jangan diulangi lagi. Ok?

Dear Younger Me,

Aku mau cerita tentang suatu yang nggak aku lakukan dulu. Berujung sesal di kemudian hari. Well, nggak segitu nyesel juga sih. Tapi setidaknya akan berdampak lain kalau dulu dilakukan. Jadi, mari kita kembali ke masa ABG ๐Ÿ™‚

Dear Younger Me,

Masih inget si keriting? Iya, si keriting yang itu ๐Ÿ™‚ Kapan hari berpapasan di sebuah mall. Dengan keluarga. Yes, istri dan anak-anaknya. Umm..nggak tahu kenapa, kok kayak ada rasa aneh. Aneh? Agak menyesal, gitu. Kenapa? Mungkin gara-gara dulu aku nggak berani jujur sama diri sendiri. Kebanyakan denial, sih! *manyun

Ok, aku pernah naksir dia. Dulu. Tapi, atas nama ‘cinta monyet’, aku ingkari perasaan itu. Inget, dong? Nah, baru nyesel deh sekarang. At least kalo dulu nggak denial, mungkin sekarang nggak kayak gini rasanya.

Dear Younger Me,

Pelajaran yang diambil adalah harus jujur sama diri sendiri. Dengarkan kata hati. Jangan diingkari. Jangan melulu dijajah logika. In many ways. Dan dalam kasus ini, lagi-lagi tentang cinta. Kalau kamu jatuh hati pada seseorang, akui. Setelahnya, katakan padanya. Habis masalah. Apapun hasil akhirnya. Tak akan ada perasaan mengganjal yang bertahan belasan tahun. Menghabiskan waktu dengan menduga, mengira, berandai. Hanya buang waktu, tenaga dan pikiran.

Jadi catat! Cukup satu kali saja kesalahan ini kamu lakukan. Jangan diulangi. Atau kamu akan menghabiskan waktu dengan menyesal. Ok?

 

Warm

 

Older You

 

#ForYoungerMeย 

Spin Off Dear Keriting at Dear Someone #4

 

Iklan

Juice Mangga

Kumatikan keran air. Mempertajam pendengaran. Suara apa itu? Buru-buru keluar dari kamar mandi lalu menuju dapur.

Menemukannya dalam balutan apron di depan blender yang sedang berputar. Aku duduk di kursi. Tak lama, blender dimatikan.

“Tadi, pulang sepedaan, aku beli mangga di deket perempatan situ. Niatnya mau beli semangka. Tapi mangganya kok menggoda.”

Tanpa ditanya dia udah panjang lebar. Aku menyimak.

“Panas-panas gini enak kali minum jus mangga. Bikin, deh.”

Dia sibuk dengan gelas. Aku masih mendengarkan.

“Eh, mangga bagus lho buat yang diet! Banyak vitamin C juga.”

Kali ini aku membelalak.

“O ya?”

Dia mengangguk. Menyodorkan segelas padaku setelah menancapkan sedotan kedalamnya. Buru-buru kusesap. Tapi…

“Errrr…”

“Kenapa?”

Aku mengerjapkan mata.

“Ini tadi pake mangga apa?”

“Manalagi.”

“Astaga! Kalo mau bikin jus, jangan pake manalagi yang terlalu matang. Manis banget…”