Semur Jengkol

Kami duduk berhadapan. Di atas meja, piring kaca tersaji manis. Kiriman salah satu tetangga. Harusnya sih senang. Andai yang ada di atas piring bukan yang satu ini. Semur jengkol.

“Siapa yang mau makan?”

“Bukan aku.”

“Aku juga ogah.”

“Terus siapa dong?”

Kami masih bengong menatap piring.

“Baunya itu lho!”

“Yang makan emang nggak nyium baunya. Tapi yang disekeliling ini…”

“Itu gara-gara asam amino yang ada di jengkol mengandung sulfur. Akhirnya tercipta gas H2S yang terkenal baunya.”

“Apa nggak ada trik buat ngilangin bau?”

“Enggak ada kayaknya…”

Kami masih menatap piring.

“Sebenernya, jengkol ada manfaatnya nggak, sih?”

“Ada. Jengkol itu bergizi lho!”

“O ya?”

“Jengkol itu mengandung vitamin A, B dan C. Juga karbohidrat, protein, kalsium, fosfor. Masih banyak lagi, tapi aku nggak inget.”

“Segitunya?”

“Iya. Cuma ya itu tadi, gara-gara menghasilkan gas buang yang baunya najis tralala, jadilah jengkol punya banyak musuh.”

Kami kembali menatap piring.

“Terus, ini semur jengkol diapain?”

“Dimakan.”

“Siapa?”

“Siapa yah?”

Dia garuk-garuk kepala. Aku masih manyun. Ada yang mau semur jengkol?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s