Bubur Ayam

Mau bubur ayam?
Mau!!!
Sent.
Aku menatap layer ponsel sambil senyum-senyum. Sip! Sarapan bubur ayam 🙂
Tak sampai setengah jam, dia dan sepedanya memasuki garasi.
“Mana? Mana?”
“Nih! Nggak sabar bener…”
Aku menuangkan bubur ayam di piring lengkap dengan semua pelengkapnya. Mumpung masih panas.
Ku ambil sesendok. Ku tiup pelan-pelan, lalu memasukkan ke dalam mulut. Ummm…
“Enak, kan?”
“Pastilah…”
Perut rasanya tenang 🙂
“Yang ini beli dimana?”
“Di parkiran ruko, situ. Dia buka dari jam enam pagi. Nggak pake lama, langsung laris, habis, tutup, pulang deh.”
“Masuk akal. Enak sih!”
“Iya. Itu musti pake beras bagus. Buburnya enak gitu walo nggak pake apa-apa.”
“Bener. Kuahnya juga enak. Nggak terlalu banyak tapi gurih. Jadi klop.”
“Ayamnya juga banyak, kan? Padahal seporsi cuma tujuh ribu lima ratus.”
“Emang yang paling enak yang disitu, yah?”
“Enggak juga. Yang di deket pom bensin juga enak. Tapi yang di parkiran ruko, yang jual cantik.”
Dia nyengir. Aku manyun.

Iklan