Ice Lemon Tea

“Sebenernya, apa enaknya ice lemon tea?”

“Enak. Seger. Ada kecutnya.”

“Mending orange juice. Lebih sehat.”

“Nggak paten rasanya. Ada yg bikin orange juice manis. Ada yang kecut dikit. Nggak ada pakemnya. Beda sama lemon tea. Relatif sama dimana-mana.”

Dia manggut-manggut. Pesanan kami datang. Dua gelas ice lemon tea.

“Lah, tumben? Katanya nggak suka ice lemon tea?”

Dia nyengir.

“Penasaran sama rasanya. Paten, kan?”

“Ntar maagnya kumat…”

“Enggak lah. Ini kan nggak seberapa kecutnya.”

Dia menyeruput beberapa kali lewat sedotan. Aku menunggu reaksinya.

“Gimana? Enak, kan?”

Dia kedip-kedip.

“Enak…”

“Terus?”

“Ternyata ice lemon tea itu kayak kamu ya…”

“Maksudnya?”

“Manis. Seger. Tapi ada asemnya juga…”

“…..”

Iklan

Pempek Kapal Selam

 

“Terima kasih..”

Dua porsi pempek kapal selam terhidang di meja. Masih panas. Ku  tuang kuah ke dalam piring. Yummy…

“Tau kenapa namanya kapal selam?”

“Errr…mirip kapal selam?”

“Dimana miripnya? Apalagi kalo udah diiris sampai merekah gini, nggak ada mirip-miripnya sama kapal selam.”

“Terus apa, dong?”

“Itu gara-gara proses pembuatannya.”

“Eh? Perasaan bikinnya sama kayak pempek lain.”

“Enggak yaaa. Gini, dari semua jenis pempek, cuma kapal selam yang ada isi satu telur utuh.”

“Iya.”

“Ini yang bikin ribet. Jadi adonan dibuat sedemikian rupa sampai waktu telur dipecahkan nggak bocor dan beleber kemana-mana. Setelah itu pempeknya direbus.”

“Terus dimana kapal selamnya?”

“Diproses rebusnya. Kalo masih mentah, pempeknya bakal tenggelam. Begitu matang, dia muncul ke permukaan. Kayak kapal selam gitu..”

“Ini beneran?”

“Iya.”

Sepertinya pempek kami sudah tak terlalu panas. Tak sabar untuk melumat habis. Sedikit menyendok. Meniup. Dan menyuapkan ke dalam mulut. Tapi…

“Aaaa…”

Dia pasti complain kali ini.

“Kuahnya asyeeeemmm benerrrrr…..”

 

Es Kelapa Muda

Panas. Banget. Rasanya, tiap orang punya matahari masing-masing.

“Pak, es kelapa muda. Dua.”

Kami duduk dekat jendela. Bahkan angin pun malas berhembus.

“Pake jeruk enak kali ya…”

“Apa?”

“Itu. Es kelapa muda. Kalo ditambahin jeruk enak lho. Ada manfaatnya juga.”

“O ya?”

“Iya. Air kelapa muda kalo dicampur dengan jeruk sitrun bisa mengatasi dehidrasi. Juga buat anak-anak yang kena gangguan cacingan.”

“Kalo nggak salah, banyak mengandung kalsium.”

Yes. Nggak cuma kalsium. Tapi juga kalium, vitamin C, protein dan banyak lagi.”

Mendengarkan.

“Eh, baik juga lho, buat kecantikan.”

“Yang bener?”

“Iya. Cuci muka pake air kelapa muda, bisa menghilangkan jerawat, menghilangkan noda hitam, menghaluskan dan mengencangkan kulit.”

Aku terbelalak. Dia nyengir, seperti biasa. Dan Es kelapa muda kami datang. Tak sabar segera mengaduk isi serta menyesapnya lewat sedotan.

Slruuuup. Segar.

Tapi…

Tiba-tiba kami saling berpandangan.

“Ini bukan es kelapa muda.”

“Iya. Ini udah jadi kelapa. Harusnya diparut terus diambil santannya.”

“…..”

Semur Jengkol

Kami duduk berhadapan. Di atas meja, piring kaca tersaji manis. Kiriman salah satu tetangga. Harusnya sih senang. Andai yang ada di atas piring bukan yang satu ini. Semur jengkol.

“Siapa yang mau makan?”

“Bukan aku.”

“Aku juga ogah.”

“Terus siapa dong?”

Kami masih bengong menatap piring.

“Baunya itu lho!”

“Yang makan emang nggak nyium baunya. Tapi yang disekeliling ini…”

“Itu gara-gara asam amino yang ada di jengkol mengandung sulfur. Akhirnya tercipta gas H2S yang terkenal baunya.”

“Apa nggak ada trik buat ngilangin bau?”

“Enggak ada kayaknya…”

Kami masih menatap piring.

“Sebenernya, jengkol ada manfaatnya nggak, sih?”

“Ada. Jengkol itu bergizi lho!”

“O ya?”

“Jengkol itu mengandung vitamin A, B dan C. Juga karbohidrat, protein, kalsium, fosfor. Masih banyak lagi, tapi aku nggak inget.”

“Segitunya?”

“Iya. Cuma ya itu tadi, gara-gara menghasilkan gas buang yang baunya najis tralala, jadilah jengkol punya banyak musuh.”

Kami kembali menatap piring.

“Terus, ini semur jengkol diapain?”

“Dimakan.”

“Siapa?”

“Siapa yah?”

Dia garuk-garuk kepala. Aku masih manyun. Ada yang mau semur jengkol?

Dear Younger Me,

Bingung. Aku harus panggil apa? Aku? Kamu? Nama? Nggak penting juga, sepertinya. Yang penting kamu baca isi surat ini, mengerti dan jangan diulangi lagi. Ok?

Dear Younger Me,

Aku mau cerita tentang suatu yang nggak aku lakukan dulu. Berujung sesal di kemudian hari. Well, nggak segitu nyesel juga sih. Tapi setidaknya akan berdampak lain kalau dulu dilakukan. Jadi, mari kita kembali ke masa ABG 🙂

Dear Younger Me,

Masih inget si keriting? Iya, si keriting yang itu 🙂 Kapan hari berpapasan di sebuah mall. Dengan keluarga. Yes, istri dan anak-anaknya. Umm..nggak tahu kenapa, kok kayak ada rasa aneh. Aneh? Agak menyesal, gitu. Kenapa? Mungkin gara-gara dulu aku nggak berani jujur sama diri sendiri. Kebanyakan denial, sih! *manyun

Ok, aku pernah naksir dia. Dulu. Tapi, atas nama ‘cinta monyet’, aku ingkari perasaan itu. Inget, dong? Nah, baru nyesel deh sekarang. At least kalo dulu nggak denial, mungkin sekarang nggak kayak gini rasanya.

Dear Younger Me,

Pelajaran yang diambil adalah harus jujur sama diri sendiri. Dengarkan kata hati. Jangan diingkari. Jangan melulu dijajah logika. In many ways. Dan dalam kasus ini, lagi-lagi tentang cinta. Kalau kamu jatuh hati pada seseorang, akui. Setelahnya, katakan padanya. Habis masalah. Apapun hasil akhirnya. Tak akan ada perasaan mengganjal yang bertahan belasan tahun. Menghabiskan waktu dengan menduga, mengira, berandai. Hanya buang waktu, tenaga dan pikiran.

Jadi catat! Cukup satu kali saja kesalahan ini kamu lakukan. Jangan diulangi. Atau kamu akan menghabiskan waktu dengan menyesal. Ok?

 

Warm

 

Older You

 

#ForYoungerMe 

Spin Off Dear Keriting at Dear Someone #4

 

Juice Mangga

Kumatikan keran air. Mempertajam pendengaran. Suara apa itu? Buru-buru keluar dari kamar mandi lalu menuju dapur.

Menemukannya dalam balutan apron di depan blender yang sedang berputar. Aku duduk di kursi. Tak lama, blender dimatikan.

“Tadi, pulang sepedaan, aku beli mangga di deket perempatan situ. Niatnya mau beli semangka. Tapi mangganya kok menggoda.”

Tanpa ditanya dia udah panjang lebar. Aku menyimak.

“Panas-panas gini enak kali minum jus mangga. Bikin, deh.”

Dia sibuk dengan gelas. Aku masih mendengarkan.

“Eh, mangga bagus lho buat yang diet! Banyak vitamin C juga.”

Kali ini aku membelalak.

“O ya?”

Dia mengangguk. Menyodorkan segelas padaku setelah menancapkan sedotan kedalamnya. Buru-buru kusesap. Tapi…

“Errrr…”

“Kenapa?”

Aku mengerjapkan mata.

“Ini tadi pake mangga apa?”

“Manalagi.”

“Astaga! Kalo mau bikin jus, jangan pake manalagi yang terlalu matang. Manis banget…”

Teh hijau

“Apaan tuh?”

“Teh hijau. Mau?”

Dia mengangguk. Kujerang air panas ke dalam cangkir keramik bertabur daun teh hijau. Teh tanpa gula. Seperti kebiasaannya.

“Dalam rangka apa nih? Diet?”

“Salah satunya. Yang utama sih sebenernya…”

Kali ini aku yang nyengir.

“Tumben bikin yang tubruk…”

“Iya. Aku baru dapet info kalo teh hijau tubruk lebih baik daripada yang celup.”

“Padahal biasanya pake yang celup.”

“Iya. Praktis sih hihihi…”

Kami menyesap cangkir masing-masing.

“Dibanding teh jenis lain, teh hijau paling banyak manfaatnya.”

“Bener. Yang aku tau sih bisa menurunkan tekanan darah dan kolesterol jahat. Mencegah munculnya stroke, juga gejala gula darah tinggi. Mengurangi stress pula.”

Yes. Selain itu melindungi lever. Mencegah osteoporosis. Mencegah timbulnya kanker. Juga memperlambat proses penuaan. Itu gara-gara kadar antioksidan yang tinggi.”

Cangkirku tandas dari tadi. Maksud hati ingin menyeduh lagi. Tapi kenapa perutku tiba-tiba aneh?

“Kenapa”

“Nggak tau, nih! Kok mules gini?”

“Udah makan?”

“Udah.”

“Jangan-jangan nggak tahan sama teh hijau tubruk…”

Aku menoleh.

“Hah? Maksudnya?”

“Nggak semua orang tahan dengan zat yang terkandung dalam teh hijau, terutama yang tubruk. Akibatnya, alat pencernaan berontak. Kalo cuma mules masih lumayan. Ada yang sampai diare berat.”

Aku meringis sambil memegang perut. Niat diet malah jadi sakit 😦