Pecel

Dia meletakkan tas plastik di meja makan.

“Pecel.”

Belum ditanya, sudah dijawab. Sakti!

Kubuka dua bungkus pecel lalu meletakkannya diatas piring. Porsi jumbo. Tanpa nasi bakal kenyang juga kayaknya. Tapi yang pasti sehatnya dong!

“Baru, yah?”

“Apanya?”

“Yang jual?”

“Iya. Baru minggu ini. Makanya aku coba.”

“Pedes nggak?”

“Enggak. Tadi yang satu aku minta nggak pedes.”

Kami lalu fokus pada piring masing-masing. Tapi…

“Apa ini?”

Aku mengangkat benda berwarna putih dari dalam pecel.

“Oh…ibu yang jual bilang itu bunga turi.”

“Bunga turi?”

“Hehehe…belom tau, yah? Sama. Aku tadi juga diketawain sama yang jual.”

“Bunga turi ini buat apa?”

“Katanya sih baik buat ibu menyusui. Bisa memperlancar ASI. Juga bisa mengurangi lendir kalo kita lagi flu. Detilnya sih mending googling aja.”

“Biasa ya pecel pake bunga turi gini?”

“Umumnya sih enggak katanya. Tapi nggak jarang juga yang dikasih bunga turi. Aku tadi sebenernya cuma penasaran, gimana sih rasanya?”

Aku manggut-manggut. Dia lalu mencampurkan bunga turi dengan bumbu pecel. Menyuapkan ke mulut dan…

“Uuuuhhh…”

“Kenapa?”

“Pahit!”

“…..”

Iklan

#IstimewaItuKamu

Bu Tini yang terhormat,

Saya tidak tahu dimana ibu sekarang. Apakah masih ribuan kilometer dari tempat saya berdiri sekarang? Sehat, Bu? Semoga Tuhan melindungi ibu. Selalu. Amin.

Bu Tini,

Saya tak akan menyalahkan bila ibu tak ingat saya sama sekali. Sangat manusiawi. Anak ibu ratusan. Bahkan mungkin ribuan. Pun ratusan ribu. Hanya orang gila yang akan menghitung jumlah pastinya. Itulah kenapa saya menulis surat ini. Sebagai salah satu anak ibu.

Bu Tini,

Saya adalah salah satu anakmu. Dulu. Terdaftar di ruang kelas satu milikmu. Anak yang duduk dekat jendela dengan takut-takut. Tak kenal satu orang pun. Tak bisa apa-apa. Tapi ibu mengenalkan saya pada banyak hal. Pada teman baru, guru, lingkungan sekitar, ilmu pengetahuan. Juga pada setiap angka dan aksara yang sekarang bukan lagi kewajiban guru sekolah dasar. Tiap melihat buku-buku yang berhasil saya tulis, tak terbayang akan berwujud bila tanpa turun tanganmu.

Saya tahu, ibu tak ingin di sanjung sebagai pahlawan. Semuanya adalah kewajiban ibu sebagai guru. Tapi itu yang membuat semuanya lebih berharga. Ketulusan dan keikhlasan berbagi ilmu.

Bu Tini,

Saya tak mampu berkata banyak. Hanya terima kasih dan cinta yang tak terhingga untukmu. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan dan melindungimu selalu. Amin.

 

Salam hormat,

-anakmu-

Rendang

“Coba, deh.”

Dia mengigit lalu mengunyah. Tak ada ekspresi.

“Gimana?”

“Gila! Enak banget!”

“Nah! Apa aku bilang?”

“Ini yang katanya paling enak itu? Yang paling mahal juga?”

Aku mengangguk.

“Dapet dari mana?”

“Beli di temen. Nggak banyak. Yang penting pernah icip-icip.”

“Enak. Sungguh. Tapi bukannya rendang emang salah satu makanan paling enak sedunia?”

“Iyes! Gimana ga enak, sekilo daging, santannya dari empat butir kelapa. Gurih abis!”

“Nah! Ketemu makanan enak gini jangan ngomongin sehat kayaknya…”

Aku tertawa. Dia mengambil piring. Menyendok nasi dari rice warmer. Menjumput beberapa potong rendang. Melumat bumbunya dengan nasi. Memulung lalu menyuapkannya ke mulut. Nyusss…

“Nggak makan?”

Aku menggeleng.

“Kenapa?”

Aku masih menggeleng.

“Diet? Takut gemuk? Makanan nggak sehat?”

Masih menggeleng.

“Terus kenapa?”

“Pengin makan rendang, tapi kepikiran harganya…”

“…..”

Nasi Kuning

“Terima kasih, Pak.”

Sayup kalimat itu terdengar dari depan.

“Siapa?”

“Pak Man. Antar ini…”

Dia meletakkan tas bingkisan berwarna biru muda di meja tamu. Dua kotak putih muncul dari dalamnya. Satu besar dan satu kecil. Kotak kecil berisi éclair, sosis solo, brownis kukus dan arem-arem. Sedang kotak besar ada seporsi nasi kuning lengkap dengan pasukannya.

“Wuiiih! Mantap nih!”

“Bikinan ibu sebelah.”

“Kok tau?”

“Ada cap di kotaknya.”

“Oh…”

“Pak Man punya hajatan apa yah?”

“Ini…”

Dia mengulurkan secarik kertas dari dalam kotak putih besar.

“Ooo…eyang Kusno ulang tahun ke 83. Serius ini? Sudah 83? Kirain masih 70an awal gitu…”

“Kayak nggak tau eyang Kusno aja. Dia hobi banget olehraga. Tiap pagi jalan keliling komplek. Makan juga dijaga. Nggak makan aneh-aneh. Makanya dia awet muda plus sehat selalu.”

“Iya yah. Terlepas dari umur di tangan Tuhan. Dikasih umur panjang tapi nggak sehat, jadi nggak asik hidupnya.”

“Eyang Kusno pernah bilang, dia berusaha tetap sehat. Namanya sudah sepuh, pasti kondisi fisik menurun. Tapi dia berusaha tetap sehat. Biar nggak nyusahin orang lain. Termasuk keluarganya.”

“Juara! Itu namanya cinta. Cinta itu bukan cuma diucapkan, tapi lebih kena kalo lewat tindakan. Itu bentuk cinta eyang Kusno buat orang-orang disekitarnya.”

“Jadi malu…”

“Kenapa?”

“Kita nggak kepikir sampai segitunya, kan?”

Aku mengangguk. Lalu mencicipi nasi kuning.

“Ibu sebelah emang top banget masakannya. Yummy!”

“Tapi ada yang kurang…”

“Apaan?”

“Kita kan berdua.”

“Terus? Masalahnya?”

“Kok kirimannya cuma satu set?”

“…..”

 

Reuni

Entah siapa yang memulai. Tapi ide ini sungguh jenius. Juga para pelaksana di lapangan. Reuni. Mengumpulkan teman lama. Silaturahmi. Semoga mereka berlimpah pahala.

Aku sengaja datang sebelum waktu yang ditetapkan. Sekolah ini sudah banyak berubah. Bahkan aula tempat berlangsungnya acara adalah gedung baru yang tak terbayang akan berdiri disana. Menyusuri setiap jengkalnya. Mengais kenangan yang masih tersisa di kepala. Juga di hati.

Kakiku berhenti. Senyum mengembang. Senyum malu. Ruang BP. Entah berapa kali aku sudah keluar masuk ruang ini dulu. Aku tak pernah bersahabat dengan bel masuk sekolah. Dengan beberapa orang teman menjadi pelanggan setia ruang ini. Ah…ternyata, hal yang dulu begitu dibenci, bisa juga menjadi kenangan indah.

Aku kembali melangkah. Kali ini menyusuri koridor panjang. Dengan deretan ruang kelas satu di sisi kiri dan taman-taman mungil di sisi kanan. Tak terlalu banyak yang beda. Hanya lantai yang sekarang berganti keramik. Cantik dan bersih. Dengan memori akan anak baru yang malu-malu dan takut. Itu kesan yang tertinggal dari koridor Utara.

Aku sampai di ujung jalan. Tetiba terkikik sendiri. Kantin. Siapa yang tak kenal tempat ini? Tempat idola semua murid di muka bumi. Tempat yang pasti paling berkesan untuk semua alumni. Tempat melepas penat, lapar dan dahaga. Tempat melarikan diri dari guru dan pelajaran terkutuk. Tempat melirik sang pencuri hati. Pun tempat janji temu dengan pujaan jiwa. Hanya tempat ini yang tak akan pernah dibenci oleh siapapun. Aku meninggalkannya dengan bertumpuk kenangan manis dan lucu.

Aku berbelok ke Selatan. Barisan ruangan yang lebih kecil dari ruang kelas ada di sisi Timur, berhadapan dengan lapangan basket. Dulu tak ada. Berurutan, di pintu-pintunya tertulis ‘OSIS’, ‘UKS’, ‘KOPERASI’, dan seterusnya. Ah…, disini sekarang tempatnya. Ruang ekstrakurikuler berkumpul rapi. Andai sudah seperti ini sejak dulu. Sudahlah…

Aku menoleh. Namun kali ini terasa sendu. Ruangan di sudut Tenggara sekolah ini. Ruang kelas tigaku. Perlahan aku menyeberang ke koridornya. Menyentuh dinding luarnya. Terkelupas di sana sini. Jendelanya pun berdebu. Khas saat ditinggal penghuninya libur kenaikan kelas. Pintu kayunya pun tampak kusam. Entah kapan terakhir tersentuh cat dan pelitur.

Kucoba buka. Berhasil. Tak dikunci rupanya. Mengedarkan pandangan. Hanya gambar presiden dan wakilnya yang tak sama. Selebihnya, masih sesuai dengan rekaman otakku.

Berusaha mengingat kembali, siapa saja pemilik bangku-bangku ini. Satu per satu. Dimana mereka sekarang? Apa kabarnya saat ini? Akankah mereka datang reuni nanti? Tak sabar rasanya, ingin memanggil kembali semua kenangan bersama-sama.

Aku menghampiri deret bangku paling Selatan. Lalu berhenti di bangku nomor tiga, di depan meja guru. Ini milikku. Ini bangkuku. Dulu. Masih sama. Tak berubah. Aku tersenyum senang.

Duduk di bangku ini seperti terseret ke masa lalu. Anak sekolah dengan segenap cerita tentang dunianya. Manis, pahit, senang, sedih, hitam, putih. Semuanya. Lengkap.

Aku menoleh ke belakang. Sama seperti yang lain. Bangku kosong. Sekosong hatiku saat melihatnya. Bangku milik seseorang. Orang yang aku kenal baik. Salah satu orang luar biasa yang pernah aku temui.

Itu bangkumu. Teman baik yang dianugerahi kecerdasan luar biasa. Tak satu pun penghuni kelas ini bisa menandingi. Pun seisi sekolah. Teman yang juga murah dan rendah hati. Sempurna. Terlalu sempurna, rasanya.

Aku tersenyum. Banyak kenangan tentangmu, teman. Saat kita masih menuntut ilmu disini. Juga saat kita sudah harus menantang kerasnya hidup. Tapi hidupmu tak sesempurna yang aku kira. Perjuanganmu lebih dari luar biasa. Menghidupi lima adik tanpa seorang ayah. Membayangkan hari-harimu saja aku tak berani.

Tapi Tuhan maha adil, pemurah dan penyayang, teman. Entah apa rencana Beliau atas umat Nya, tapi kamu bisa bertahan dan berhasil. Pun semua adik-adikmu.

“Aku hanya ingin membahagiakan ibu…” begitu katamu, selalu.

Aku ikut senang melihat dan mendengarnya, teman. Sampai tiba-tiba aku kehilangan jejakmu. Tak terlacak. Sama sekali. Sudah kucari kesana dan kemari, tapi tak kunjung ditemukan. Dunia maya dan nyata telah ku telusuri. Kamu seperti lenyap ditelan bumi. Kamu dimana, teman?

Entah angin mana yang telah membawa kabarmu suatu ketika. Tentangmu yang menyerah pada takdir. Kamu, seorang pejuang hidup yang tangguh, harus kalah melawan kanker yang menggerogoti hati. Hatimu. Hati yang sudah bekerja keras untuk banyak nyawa yang lain. Kamu berhenti. Saat itu. Begitu saja.

Aku merasa sendu. Semua tak sama lagi tanpamu, teman. Kalaupun semua berkumpul lagi. Akan ada sudut kosong dalam hatiku. Dalam hati kami. Teman-temanmu. Kamu, orang yang tak tergantikan. Tak terlupakan. Teman berhati dan berotak berlian.

Aku berdiri. Sudah waktunya bergabung dengan yang lain. Dan untuk yang terakhir, kutatap lagi bangkumu. Teman, doa kami tak putus untukmu. Terima kasih sudah berkenan jadi teman kami. Aku yakin, Tuhan memberi tempat terbaik bagimu.

Selamat ulang tahun, kamu

Dear kamu,

Hai.

Aku yakin kabarmu selalu baik. Tak diragukan.

Hari ini ulang tahunmu, kan? Ulang tahun pertama. Kamu pasti sedang lucu-lucunya. Sudah bisa apa kamu sekarang? Berdiri? Berjalan? Atau lebih dari itu? Aku yakin kamu pasti sangat menggemaskan sekali.

Tahukah kamu? Ada cupcake berhias lilin mungil diatasnya. Hanya untukmu. Tak seberapa memang. Tapi ada segunung doa untukmu. Tak terbatas sebenarnya. Doa tulus. Doa tak bersyarat. Semoga kamu selalu di lindungi oleh Nya. Selalu. Walau kamu tak ada disini. Sekarang.

Dear kamu,

Aku tak sempat mengenalmu. Aku bahkan tak sempat melihatmu. Tapi banyak yang bersaksi bahwa kamu istimewa. Senang mendengarnya. Pun lega rasanya. Walau ada sedikit sesal. Andai waktu itu… Ah, sudahlah… Waktu tak mungkin diputar ulang.

Namun, jika boleh kembali ke masa lalu, hanya satu yang aku minta. Aku tak akan kemana-mana saat itu. Bergelung bersamamu dan dia di rumah kita. Itu saja. Sehingga tak ada truk bermuatan semen menghantam mobil kita. Sehingga dia tak harus meregang nyawa. Sehingga aku tak harus kehilangan kesadaran sampai berhari-hari. Sehingga kamu tak harus dikeluarkan paksa dari perutku karena tak menjawab respon. Sehingga kamu dan dia masih berada disini. Sekarang. Bersamaku.

Tapi tak mungkin, kan? Sudahlah. Memang harus begini nyatanya. Kamu sudah tenang disana. Bersamanya. Ayahmu. Selalu.

Selamat ulang tahun, anakku. Doaku bersamamu. Selalu. Selamanya.

Peluk hangat,

-Bunda-

Semangkok Baso Tahu

“Kukus atau goreng?”

“Kukus, dong.”

Sudah kuduga. Mana mungkin dia pilih yang goreng? Sejurus kemudian, dia memasukkan baso tahunya dalam kukusan yang tutupnya sudah di bungkus dengan serbet bersih.

“Biar uapnya diserap serbet.”

Aku tersenyum. Dia selalu tahu trik-trik kecil seperti ini. Sedang aku? Nol besar. Diambilnya mangkok berukuran sedang dari dalam lemari. Ketika dia mulai meletakkan cabe rawit ke dalamnya, sontak aku berteriak.

No! Nggak pake cabe!”

Dia mencibir. Mengembalikan mangkok dan menukarnya dengan dua mangkok yang lebih kecil.

“Cemen. Masa nggak berani makan pedas?”

“Biarin!”

Dia meletakkan beberapa cabe rawit dalam mangkoknya. Lalu dilumat dengan ulekan hingga hancur. Wajahnya terlihat puas.

TING!

Timer berdenting. Tahu baso matang. Dipindahkannya tahu baso dalam mangkok.

“Pake saos tomat? Kecap?”

“Iya.”

“Teh angetnya?”

“Udah aku taruh di meja.”

Dia menaburkan bawang goreng dan daun bawang yang diiris tipis ke dalam mangkok lalu mengguyurnya dengan kuah kaldu. Aroma menggoda menguar tetiba. Saos tomat dan kucuran kecap melengkapinya.

“Nih…”

Dia mengulurkan mangkok dengan uap membumbung padaku. Perut seketika berisik. Sangat menggoda.

Kami takzim dengan mangkok masing-masing. Menghirup aromanya perlahan. Mengaduk isinya. Menyendok kuahnya. Meniup pelan-pelan. Lalu menyuapkan ke dalam mulut.

Tapi…

“Aaaaa!”

Aku berteriak sambil mengerjapkan mata. Dia menoleh.

“Kok pedes?”

“Heh? Masa’?”

Dia menyeruput kuahnya.

“Punyaku nggak pedes. Sorry, ketukar…”

Dia nyengir. Seperti biasanya.