Nastar

“Bikin apaan?”

“Nastar?”

“Nastar itu yang mana?”

“Yang isinya nanas.”

Aku memasukkan loyang dalam oven. Memasang timer. Dan tinggal menunggu matang.

“Aku pernah lho, dikasih nastar. Enak, tapi remuk gitu. Jadi bikin ribet.”

“Itu berarti telurnya kurang.”

“Telurnya?”

“Iya. Adonan kuenya kan pake telur. Salah satu fungsinya untuk perekat. Kalo pelit telur, jadinya gitu. Remuk redam.”

Dia manggut-manggut.

“Aku juga pernah makan nastar, tapi selai nanasnya aneh.”

“Aneh gimana?”

“Kayak kebanyakan air. Jadi belepotan waktu digigit.”

“Oooo…pasti selainya nggak dimasukkan kulkas.”

“Eh?”

“Kalo mau dijadikan isian nastar, selainya harus dimasukkan kulkas dulu sebelum dibikin kue. Apalagi ntar mau dipanggang pake oven. Lebih afdol lagi kalo selainya bikin sendiri, jadi kadar airnya bisa dikendalikan.”

TING!

Timer berbunyi. Kukeluarkan loyang dari dalam oven. Menunggu dingin sejenak sebelum memindahkannya ke piring.

“Boleh nggak sih isiannya diganti? Strawberry atau cokelat, gitu.”

Aku manyun.

“Namanya udah bukan nastar lagi, kaleee…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s