Bubur Kacang Hijau

Minggu pagi. Kami sudah duduk manis di teras depan. Dua mangkuk kosong berjejer manis diatas nampan.

“Kok bubur kacang hijaunya nggak keliatan? Udah lewat atau nggak jualan?”

“Nggak tau. Tapi yang pasti dari tadi nggak kedengeran suaranya.”

Kami masih sabar menunggu.

“Kalo nggak lewat gimana?”

“Yaaah…aku pengin bubur kacang hijau.”

“Iya. Tapi kan ada kemungkinan dia nggak jualan.”

“Masa sarapan mie instant?”

“Mending bikin oatmeal kalo gitu.”

Menunggu lagi.

“Beli nasi pecel aja yuk! Di perempatan situ.”

“Aku pengin bubur kacang hijau.”

“Tapi aku laper.”

“Tunggu bentar lagi.”

Kembali menunggu. Tiba-tiba terdengar bunyi mangkuk yang dipukul-pukul.

“Eh…itu yah?”

“Bukan. Itu bubur ayam.”

“Beli bubur ayam aja.”

“Aku pengin bubur kacang hijau.”

“Nggak jualan, mungkin.”

“Tapi aku pengin bubur kacang hijau.”

Keningnya berkerut. Lalu melangkah keluar pagar. Menoleh kesana kemari. Sepertinya memang tukang bubur kacang hijau tak terlihat gerobaknya. Sampai dia bertemu ibu tetangga sebelah dan berbincang.

Tak lama dia kembali ke teras dengan wajah manyun.

“Kenapa?”

“Ibu sebelah bilang bubur kacang hijaunya nggak jualan. Kemarin tukangnya udah pamit mau mudik seminggu.”

“Terus kenapa manyun? Mustinya kan aku yang manyun.”

“Ibu tetangga bilang, kalo kita mau nunggu, dia mau bikinin.”

“Beneran? Waaa…aku mau!”

“Terus ibu sebelah bilang, kacang hijau bagus buat kesuburan. Biar kamu cepet hamil.”

Sekarang aku ikut manyun.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s