Semur

Kami duduk berhadapan di meja makan. Diam. Diatas meja, ada semangkuk semur ayam dan kentang, bikinan sendiri. Bukan hasil trial error, karena kami pernah memasak semur sebelum ini. Dan selalu berhasil. Tapi semur kali ini berbeda dari yang sebelum-sebelumnya.

Tersebutlah seorang ibu sepuh. Kami memanggilnya mbah Rah. Beliau sudah ikut keluargaku sejak ayah dan ibu pengantin baru. Bisa dibilang, mbah Rah mengenalku lebih dari nenekku sendiri.

Mbah Rah jago memasak, terutama masakan jawa yang terkenal manis. Dan yang jadi favorit kami berdua adalah semur. Apapun semurnya. Kecuali jengkol, tentu saja. Semua sudah berusaha memasak semur sesuai resep mbah Rah, tapi tak satupun yang bisa menyamai, alih-alih menandingi. Sampai suatu ketika kami mengetahui bahwa selama ini beliau membuat sendiri kecap yang dipakai memasak semur.

“Kecap jaman sekarang ndak ada yang asli kedelai hitam. Sudah banyak campurannya,” begitu kalimat beliau suatu waktu.

Hari ini, setahun yang lalu, mbah Rah berpulang. Kami sangat kehilangan, lengkap dengan semua kearifan lokal yang melekat pada beliau.

Dan kami masih ada disini. Duduk dalam diam. Memandang semur ayam dan kentang. Dengan kenangan akan mbah Rah, terputar ulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s