Capcay

Kami menyusuri lorong supermarket.

“Cari apa, sih?”

“Jamur kuping.”

“Buat apa?”

“Ada deh…”

Dia memasukkan jamur kuping ke dalam keranjang.

“Apa lagi?”

“Brokoli.”

“Brokoli ato kembang kol?”

“Brokoli. Lebih banyak manfaatnya.”

Dia memasukkan sebongkah brokoli dalam keranjang.

Next?”

“Wortel.”

Seplastik wortel berguling di keranjang.

Then?”

“Bakso ikan?”

“Ikan? Bukan daging? Ato udang?”

Aku meringis. Dia merengut. Sebungkus bakso ikan diambil dari lemari pendingin.

“Ah, lupa. Sawi.”

“Di rumah ada.”

“Yakin.”

Aku mengangguk.

“Ya udah. Kalo gitu selesai. Mau beli yang lain?”

Aku menggeleng. Kami menuju kasir. Mengantri. Membayar. Berlalu.

“Sebenernya mau bikin apaan, sih?”

“Capcay.”

“Capcay?”

“Iya. Kenapa?”

“Lah, bukannya di rumah ada capcay?”

“Heh?”

“Rantang yang kamu bawa dari rumah bapak waktu pulang kantor tadi. Itu isinya capcay. Rantang tiga susun.”

“Heh!!!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s