Bebek Goreng


Orang bilang, hidup paling nikmat itu hidup yang pas-pasan. Pas nggak ada uang, tiba-tiba dapet rejeki nomplok. Pas lagi laper, tiba-tiba ada yang kirim bebek goreng. Empat potong. Dada dua, paha dua. Masih panas. Dan aromanya…
“Yumm…”
Aku mengendus bebek goreng diatas piring. Sambalnya yang menggoda sudah kutuang ke piring kecil. Juga lalapan pelengkap. Nasi putih hangat menguar dari piring. Sempurna.
Aku menjumput sepotong paha bebek goreng. Sesendok kecil sambal. Juga kubis, kacang panjang, daun kemangi dan ketimun.
Menyobek dagingnya. Mencolek sedikit sambal. Melumatnya dengan nasi putih hangat. Lalu menyuapkannya kedalam mulut. Tuhan…ini surga dunia.
Aku juga menyuapkan beberapa lalapan ke dalam mulut, ketika kulihat dia duduk di depanku. Diam. Hanya memandangku makan dengan lahapnya.
“Nggak makan?”
Dia menggeleng.
“Kenapa? Nggak laper?”
“Laper, sih…”
“Terus? Mumpung masih hangat…”
Dia kembali menggeleng.
“Aku nggak suka bebek.”
Aku berhenti makan.
“Nggak suka? Serius?”
Dia mengangguk.
“Kenapa?”
“Aku cuma suka inget waktu mereka jalan di comberan. Jadi ilfil…”
“…..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s