Aku sakit karenamu, gigi

“Berapa?”

“38 lebih.”

Raut wajahnya was-was. Bisa jadi aku pun juga. Tapi berusaha sekuatnya tak ku tampakkan.

“Sabar. Sebentar lagi, kok…”

Kalimatku diputuskan oleh jerit tangis. Tangis sakit. Tangis pilu. Dia berdiri. Sambil berdendang lirih, diayun-ayun si kecil dalam gendongan. Sedang aku? Tak tahu harus berbuat apa. Selain menunggu. Menunggu. Menunggu. Dan…

“Savira…”

“IYA!”

Setengah berteriak, aku menjawab panggilan. Kami bertiga masuk ke dalam ruang biru muda lembut dengan dinding bergambar tokoh Disney.

Masih menangis. Sesekali menjerit. Apalagi saat tubuhnya disentuh benda-benda logam yang pasti terasa dingin. Tak tega sebenarnya.

“Tidak ada masalah dengan Savira.”

“Tapi kenapa tiba-tiba badannya panas? Seperti kesakitan sekali.”

Wanita berjas putih itu tersenyum manis.

“Savira mulai tumbuh gigi. Lumrah kalau tubuhnya bereaksi seperti itu. Saya tuliskan resep penurun panas dan pereda nyeri.”

Kami hanya saling pandang. Derita orang tua baru. Anak pertama. Tanpa pengalaman.

Gigi..oh gigi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s