Cinta yang menyembuhkan

Aku menyentuh sudut bibir. Ada darah. Tulang pipiku terasa kebas. Perih saat tersentuh air yang mengalir dari mata. Entah seperti apa wajahku sekarang. Tak ada sedikitpun keinginan untuk melihat bayangannya di cermin.

Perlahan ku raba semua bagin tubuh. Tak ada yang perlu di khawatirkan berlebih. Hanya akan membiru beberapa saat lagi. Aku mendesah dalam duduk. Diam. Nelangsa. Inikah yang aku dapat dari seseorang yang ku jadikan imam?

Tetiba pintu yang tertutup sekenanya berderit. Sosok yang ku kenal menampakkan wajahnya. Walau perih, serta merta senyum terbit di bibir.

“Masuk, Cinta. Sini.”

Dia masuk perlahan. Menghampiri lalu duduk disampingku. Matanya yang polos sendu dan bulat menatapku. Senyumnya merekah.

Ajaib! Sakitku hilang. Mujarab sekali.

Aku mengelus kepalanya. Senyumnya semakin mengembang. Ku peluk dia. Hembusan nafasnya terdengar nyata. Tak sadar air mata menderas. Hanya dia yang selalu ada di sisi.

“Terima kasih, Cinta. Kamu jangan kemana-mana, yah…”

“GUK!”

4 thoughts on “Cinta yang menyembuhkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s