Sehangat senyumnya

Pagi ini aku sudah duduk manis di kursi angkot. Ada di sebelah pak sopir yang kali ini seorang bapak berusia sekitar medio 50 tahun. Satu persatu penumpang yang menanti di pinggir jalan, naik dan duduk berjejer rapi. Tak butuh waktu lama, angkot terisi penuh.

“Selalu penuh ya, Pak?” Aku membuka suara.

“Kalo jam segini memang iya, Mbak. Jam berangkat dan pulang kantor, juga sekolah. Tapi yang sering sih, banyak kosongnya.”

Dia tersenyum. Aku mengangguk-angguk. Angkot masih berjalan. Penumpang naik turun naik silih berganti.

“Terus kalau kosong gimana, Pak?”

“Ya…sedapatnya, Mbak. Mau gimana lagi.”

“Rugi bensin, dong.”

“Kalau nggak jalan, juga nggak dapat apa-apa.”

Dia tersenyum. Aku hanya bisa menghela nafas. Seorang penumpang turun. Membayar ongkos. Pak sopir menerima sembari tersenyum dan berucap terima kasih. Angkot kembali melaju.

“Mbak kuliah?”

“Iya, Pak.”

“Nggak bawa kendaraan sendiri?”

“Enggak, Pak. Saya disini kost. Nggak bawa kendaraan. Dari kost sampai kampus cuma satu kali angkot. Lagipula kalau bawa kendaraan sendiri malah capek. Macetnya itu lho…”

Dia tersenyum. Angkot berhenti. Seorang ibu naik seorang diri. Tak lama, roda kembali berputar.

“Jadi ramenya cuma jam berangkat dan pulang kantor, Pak?”

“Iya, Mbak. Yaa…sama kalau hari Minggu atau libur. Kan trayek angkot ini lewat tempat pariwisata. Lumayanlah…”

Si bapak kembali tersenyum sambil menyebut salah satu tempat wisata tepi laut.

“Kadang juga suka ada yang carter. Ibu-ibu pengajian, atau rombongan keluarga, rombongan anak sekolah. Bahkan ada yang jadi kendaraan antar jemput buat pegawai-pegawai di mall.”

Aku manggut-manggut. Angkot berhenti. Seorang laki-laki menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah. Pak sopir menggeleng, tak punya kembalian, lalu merelakan sang penumpang tidak membayar. Angkot kembali berjalan.

“Nggak apa-apa, Pak?”

“Maksud, Mbak?”

“Itu tadi. Nggak bayar.”

Dia tersenyum.

“Dia sudah niat bayar. Tapi saya nggak punya kembalian. Saya yang salah. Jadi ya nggak apa-apa.”

“Nanti yang lain ikut meniru, Pak.”

Dia tersenyum lebar.

“Moga-moga sih enggak ya, Mbak.”

Angkot masih melaju.

“Kalau sering sepi penumpang, setorannya gimana, Pak?”

“Untungnya angkot ini punya saya sendiri, Mbak. Jadi mau dapat rejeki berapapun, nggak terlalu pusing. Kalau dibandingkan sopir lain yang bawa angkot orang lain, mereka pasti bingung kalau sepi penumpang. Setoran nggak penuh, nggak ada juga rejeki yang dibawa pulang.”

“Waa…jadi bapak santai-santai aja dong…”

Dia tertawa.

“Nggak juga, Mbak. Kalau santai nanti nggak dapat rejeki. Keluarga di kasih makan apa?”

“Tapi setidaknya bapak nggak pusing soal setoran. Kan angkotnya punya sendiri.”

“Iya, sih. Angkot dibawa sendiri juga biar awet, Mbak. Kadang kalau dibawa orang lain suka nggak terawat. Bawanya juga ugal-ugalan.”

Masuk akal.

Tak terasa, kampus sudah di depan mata. Aku mengulurkan uang pas padanya.

“Terima kasih lho, Mbak. Rejeki kami ini lewat orang-orang yang masih mau naik angkot seperti mbak. Coba kalau semua orang bawa kendaraan sendiri. Dari mana lagi kami bisa dapat uang?”

Nelangsa dengarnya. Walau pak sopir berujar sambil tersenyum hangat. Semoga rejekinya selalu sehangat senyumnya. Senyum yang tak lekang oleh himpitan hidup. Senyum syukur atas pemberian Nya.

Demikian cerita hari ini milikku. Yang mengingatkanku untuk selalu bersyukur atas segalanya.

2 thoughts on “Sehangat senyumnya

  1. Cerita ini bikin saya inget waktu dl kejadian ban bocor tp ga’ punya duit utk tambal ban, kebetulan di kantong ada rokok yg dikasih ma tmn jd saya niatkan utk tambal ban tp byr pake’ rokok, si bpk tkg tambal ban nolak dibayar pake’ rokok tp mlh ngasih gratis. sampe skrg ga’ abis pikir itu org kok ya baik banget pdhl bukan konglomerat. salut ma org2 kecil yg justru lebih peduli ke sesama dibandingkan para konglomerat yg lbh sering lp ma sesama

    • Nah! Saya juga masih sering terkaget-kaget juga dengan perspektif konsep beramal seperti ini. Mungkin karena saya ‘dijajah’ sudut pandang beramal itu harus tajir dulu, yah? Padahal beramal tidak harus selalu dengan uang, harta atau apapun yang bersifat material. Harus banyak belajar lagi saya ini🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s