Rawon

Kali ini kami sepakat makan malam diluar. Nongkrong di tempat penjual rawon terkenal sealam semesta. Tak terlalu ramai. Mungkin karena bukan jam makan.

Tak lama, dua porsi nasi rawon pesanan kami muncul. Apa yang kami lakukan? Hanya saling pandang. Lalu sibuk dengan piring masing-masing sampai tandas. Bayar di kasir lalu pergi setelahnya. Tak ada kata. Apalagi kalimat.

“Apa harapanku terlalu tinggi, ya?”

Dia buka suara dalam mobil. Aku menoleh.

“Aku cuma berharap, dengan nama yang sekondang itu, aku dapat barang yang jauh lebih oke dari yang tadi. Kalo nggak bisa dibilang luar biasa.”

“Aku senyum-senyum. Kumat deh rewelnya.

“Itu tadi cuma daging di kasih kuah item. Nggak lebih.”

No comment.

“Jangan-jangan kluweknya belom mateng. Berabe. Bisa keracunan ntar.”

Still listening.

Padahal dulu nggak kayak gitu, deh. Kenapa sekarang jadi turun kualitasnya?”

“Katanya sih ada konflik kepentingan.”

“Maksudnya?”

“Itu kan bisnis keluarga. Dulu yang masak si ibu, dibantu anak-anaknya. Begitu si ibu meninggal, anak-anaknya rebutan warisan bisnis. Jadinya ya gitu deh. Pecah. Ada yang bikin versinya sendiri. Sedang yang pegang versi si ibu, nggak tau resep asli.”

“Jadi itu masalahnya?”

“Gosipnya gitu…”

Kami lalu diam dalam perspektif masing-masing.

Warisan oh warisan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s