Opor Ayam

Aku hanya menatap dia makan opor ayam plus lontong dan bubuk kedelai dengan lahapnya.

“Yakin nggak mau?”

Aku menggeleng.

“Enak lho..”

Aku senyum.

“Kenapa sih?”

“Enggak suka.”

“Eh? Nggak suka? Enak gini nggak suka. Halal kok.”

“Nggak suka santan.”

Dia berhenti makan.

“Beneran ini?”

Aku mengangguk. Surprise!

“Biasanya orang Jawa suka santan. Kan banyak makanannya yang pake santan.”

“Iya sih. Tapi aku nggak dibiasain makan santan dari kecil.”

“Oh?”

Aku mengangguk.

“Bapak ibu nggak konsumsi santan lagi sejak umur mereka 40. Masih makan sekali-sekali, tapi itu juga di tempat jamuan makan. Bukan waktu makan diluar ato masak di rumah. Akhirnya serumah ketularan, nggak makan santan. Akhirnya jadi nggak terlalu suka. Gitu.”

Dia diam.

“Keren ya?”

“Apanya?”

“Bapak ibu itu.”

“Maksudnya?”

“Mereka memutuskan sesuatu yang bagus. Nggak hanya untuk diri sendiri, tapi juga buat keluarga. Buat orang lain bisa jadi contoh. Tetap sehat tanpa makanan bersantan. Itu bentuk kasih sayang meraka buat keluarga.”

Aku tercenung. Bahkan aku, anaknya, tak menyadari hal itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s