Semangkok Baso Tahu

“Kukus atau goreng?”

“Kukus, dong.”

Sudah kuduga. Mana mungkin dia pilih yang goreng? Sejurus kemudian, dia memasukkan baso tahunya dalam kukusan yang tutupnya sudah di bungkus dengan serbet bersih.

“Biar uapnya diserap serbet.”

Aku tersenyum. Dia selalu tahu trik-trik kecil seperti ini. Sedang aku? Nol besar. Diambilnya mangkok berukuran sedang dari dalam lemari. Ketika dia mulai meletakkan cabe rawit ke dalamnya, sontak aku berteriak.

No! Nggak pake cabe!”

Dia mencibir. Mengembalikan mangkok dan menukarnya dengan dua mangkok yang lebih kecil.

“Cemen. Masa nggak berani makan pedas?”

“Biarin!”

Dia meletakkan beberapa cabe rawit dalam mangkoknya. Lalu dilumat dengan ulekan hingga hancur. Wajahnya terlihat puas.

TING!

Timer berdenting. Tahu baso matang. Dipindahkannya tahu baso dalam mangkok.

“Pake saos tomat? Kecap?”

“Iya.”

“Teh angetnya?”

“Udah aku taruh di meja.”

Dia menaburkan bawang goreng dan daun bawang yang diiris tipis ke dalam mangkok lalu mengguyurnya dengan kuah kaldu. Aroma menggoda menguar tetiba. Saos tomat dan kucuran kecap melengkapinya.

“Nih…”

Dia mengulurkan mangkok dengan uap membumbung padaku. Perut seketika berisik. Sangat menggoda.

Kami takzim dengan mangkok masing-masing. Menghirup aromanya perlahan. Mengaduk isinya. Menyendok kuahnya. Meniup pelan-pelan. Lalu menyuapkan ke dalam mulut.

Tapi…

“Aaaaa!”

Aku berteriak sambil mengerjapkan mata. Dia menoleh.

“Kok pedes?”

“Heh? Masa’?”

Dia menyeruput kuahnya.

“Punyaku nggak pedes. Sorry, ketukar…”

Dia nyengir. Seperti biasanya.

8 thoughts on “Semangkok Baso Tahu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s