Reuni

Entah siapa yang memulai. Tapi ide ini sungguh jenius. Juga para pelaksana di lapangan. Reuni. Mengumpulkan teman lama. Silaturahmi. Semoga mereka berlimpah pahala.

Aku sengaja datang sebelum waktu yang ditetapkan. Sekolah ini sudah banyak berubah. Bahkan aula tempat berlangsungnya acara adalah gedung baru yang tak terbayang akan berdiri disana. Menyusuri setiap jengkalnya. Mengais kenangan yang masih tersisa di kepala. Juga di hati.

Kakiku berhenti. Senyum mengembang. Senyum malu. Ruang BP. Entah berapa kali aku sudah keluar masuk ruang ini dulu. Aku tak pernah bersahabat dengan bel masuk sekolah. Dengan beberapa orang teman menjadi pelanggan setia ruang ini. Ah…ternyata, hal yang dulu begitu dibenci, bisa juga menjadi kenangan indah.

Aku kembali melangkah. Kali ini menyusuri koridor panjang. Dengan deretan ruang kelas satu di sisi kiri dan taman-taman mungil di sisi kanan. Tak terlalu banyak yang beda. Hanya lantai yang sekarang berganti keramik. Cantik dan bersih. Dengan memori akan anak baru yang malu-malu dan takut. Itu kesan yang tertinggal dari koridor Utara.

Aku sampai di ujung jalan. Tetiba terkikik sendiri. Kantin. Siapa yang tak kenal tempat ini? Tempat idola semua murid di muka bumi. Tempat yang pasti paling berkesan untuk semua alumni. Tempat melepas penat, lapar dan dahaga. Tempat melarikan diri dari guru dan pelajaran terkutuk. Tempat melirik sang pencuri hati. Pun tempat janji temu dengan pujaan jiwa. Hanya tempat ini yang tak akan pernah dibenci oleh siapapun. Aku meninggalkannya dengan bertumpuk kenangan manis dan lucu.

Aku berbelok ke Selatan. Barisan ruangan yang lebih kecil dari ruang kelas ada di sisi Timur, berhadapan dengan lapangan basket. Dulu tak ada. Berurutan, di pintu-pintunya tertulis ‘OSIS’, ‘UKS’, ‘KOPERASI’, dan seterusnya. Ah…, disini sekarang tempatnya. Ruang ekstrakurikuler berkumpul rapi. Andai sudah seperti ini sejak dulu. Sudahlah…

Aku menoleh. Namun kali ini terasa sendu. Ruangan di sudut Tenggara sekolah ini. Ruang kelas tigaku. Perlahan aku menyeberang ke koridornya. Menyentuh dinding luarnya. Terkelupas di sana sini. Jendelanya pun berdebu. Khas saat ditinggal penghuninya libur kenaikan kelas. Pintu kayunya pun tampak kusam. Entah kapan terakhir tersentuh cat dan pelitur.

Kucoba buka. Berhasil. Tak dikunci rupanya. Mengedarkan pandangan. Hanya gambar presiden dan wakilnya yang tak sama. Selebihnya, masih sesuai dengan rekaman otakku.

Berusaha mengingat kembali, siapa saja pemilik bangku-bangku ini. Satu per satu. Dimana mereka sekarang? Apa kabarnya saat ini? Akankah mereka datang reuni nanti? Tak sabar rasanya, ingin memanggil kembali semua kenangan bersama-sama.

Aku menghampiri deret bangku paling Selatan. Lalu berhenti di bangku nomor tiga, di depan meja guru. Ini milikku. Ini bangkuku. Dulu. Masih sama. Tak berubah. Aku tersenyum senang.

Duduk di bangku ini seperti terseret ke masa lalu. Anak sekolah dengan segenap cerita tentang dunianya. Manis, pahit, senang, sedih, hitam, putih. Semuanya. Lengkap.

Aku menoleh ke belakang. Sama seperti yang lain. Bangku kosong. Sekosong hatiku saat melihatnya. Bangku milik seseorang. Orang yang aku kenal baik. Salah satu orang luar biasa yang pernah aku temui.

Itu bangkumu. Teman baik yang dianugerahi kecerdasan luar biasa. Tak satu pun penghuni kelas ini bisa menandingi. Pun seisi sekolah. Teman yang juga murah dan rendah hati. Sempurna. Terlalu sempurna, rasanya.

Aku tersenyum. Banyak kenangan tentangmu, teman. Saat kita masih menuntut ilmu disini. Juga saat kita sudah harus menantang kerasnya hidup. Tapi hidupmu tak sesempurna yang aku kira. Perjuanganmu lebih dari luar biasa. Menghidupi lima adik tanpa seorang ayah. Membayangkan hari-harimu saja aku tak berani.

Tapi Tuhan maha adil, pemurah dan penyayang, teman. Entah apa rencana Beliau atas umat Nya, tapi kamu bisa bertahan dan berhasil. Pun semua adik-adikmu.

“Aku hanya ingin membahagiakan ibu…” begitu katamu, selalu.

Aku ikut senang melihat dan mendengarnya, teman. Sampai tiba-tiba aku kehilangan jejakmu. Tak terlacak. Sama sekali. Sudah kucari kesana dan kemari, tapi tak kunjung ditemukan. Dunia maya dan nyata telah ku telusuri. Kamu seperti lenyap ditelan bumi. Kamu dimana, teman?

Entah angin mana yang telah membawa kabarmu suatu ketika. Tentangmu yang menyerah pada takdir. Kamu, seorang pejuang hidup yang tangguh, harus kalah melawan kanker yang menggerogoti hati. Hatimu. Hati yang sudah bekerja keras untuk banyak nyawa yang lain. Kamu berhenti. Saat itu. Begitu saja.

Aku merasa sendu. Semua tak sama lagi tanpamu, teman. Kalaupun semua berkumpul lagi. Akan ada sudut kosong dalam hatiku. Dalam hati kami. Teman-temanmu. Kamu, orang yang tak tergantikan. Tak terlupakan. Teman berhati dan berotak berlian.

Aku berdiri. Sudah waktunya bergabung dengan yang lain. Dan untuk yang terakhir, kutatap lagi bangkumu. Teman, doa kami tak putus untukmu. Terima kasih sudah berkenan jadi teman kami. Aku yakin, Tuhan memberi tempat terbaik bagimu.

2 thoughts on “Reuni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s