Nasi Kuning

“Terima kasih, Pak.”

Sayup kalimat itu terdengar dari depan.

“Siapa?”

“Pak Man. Antar ini…”

Dia meletakkan tas bingkisan berwarna biru muda di meja tamu. Dua kotak putih muncul dari dalamnya. Satu besar dan satu kecil. Kotak kecil berisi éclair, sosis solo, brownis kukus dan arem-arem. Sedang kotak besar ada seporsi nasi kuning lengkap dengan pasukannya.

“Wuiiih! Mantap nih!”

“Bikinan ibu sebelah.”

“Kok tau?”

“Ada cap di kotaknya.”

“Oh…”

“Pak Man punya hajatan apa yah?”

“Ini…”

Dia mengulurkan secarik kertas dari dalam kotak putih besar.

“Ooo…eyang Kusno ulang tahun ke 83. Serius ini? Sudah 83? Kirain masih 70an awal gitu…”

“Kayak nggak tau eyang Kusno aja. Dia hobi banget olehraga. Tiap pagi jalan keliling komplek. Makan juga dijaga. Nggak makan aneh-aneh. Makanya dia awet muda plus sehat selalu.”

“Iya yah. Terlepas dari umur di tangan Tuhan. Dikasih umur panjang tapi nggak sehat, jadi nggak asik hidupnya.”

“Eyang Kusno pernah bilang, dia berusaha tetap sehat. Namanya sudah sepuh, pasti kondisi fisik menurun. Tapi dia berusaha tetap sehat. Biar nggak nyusahin orang lain. Termasuk keluarganya.”

“Juara! Itu namanya cinta. Cinta itu bukan cuma diucapkan, tapi lebih kena kalo lewat tindakan. Itu bentuk cinta eyang Kusno buat orang-orang disekitarnya.”

“Jadi malu…”

“Kenapa?”

“Kita nggak kepikir sampai segitunya, kan?”

Aku mengangguk. Lalu mencicipi nasi kuning.

“Ibu sebelah emang top banget masakannya. Yummy!”

“Tapi ada yang kurang…”

“Apaan?”

“Kita kan berdua.”

“Terus? Masalahnya?”

“Kok kirimannya cuma satu set?”

“…..”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s