Rendang

“Coba, deh.”

Dia mengigit lalu mengunyah. Tak ada ekspresi.

“Gimana?”

“Gila! Enak banget!”

“Nah! Apa aku bilang?”

“Ini yang katanya paling enak itu? Yang paling mahal juga?”

Aku mengangguk.

“Dapet dari mana?”

“Beli di temen. Nggak banyak. Yang penting pernah icip-icip.”

“Enak. Sungguh. Tapi bukannya rendang emang salah satu makanan paling enak sedunia?”

“Iyes! Gimana ga enak, sekilo daging, santannya dari empat butir kelapa. Gurih abis!”

“Nah! Ketemu makanan enak gini jangan ngomongin sehat kayaknya…”

Aku tertawa. Dia mengambil piring. Menyendok nasi dari rice warmer. Menjumput beberapa potong rendang. Melumat bumbunya dengan nasi. Memulung lalu menyuapkannya ke mulut. Nyusss…

“Nggak makan?”

Aku menggeleng.

“Kenapa?”

Aku masih menggeleng.

“Diet? Takut gemuk? Makanan nggak sehat?”

Masih menggeleng.

“Terus kenapa?”

“Pengin makan rendang, tapi kepikiran harganya…”

“…..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s